Budi Daya Maggot di Mataram, Solusi Masalah Sampah Jadi Bernilai

Bukan sekadar dibuang, sampah organik di Mataram diolah menjadi pakan maggot melalui budi daya BSF.

oleh Pebrianto Eko WicaksonoDiterbitkan 25 September 2026, 00:37 WIB
Budi daya maggot dengan mengolah sampah organik. (Antara)

Liputan6.com, Jakarta - Sampah organik dari rumah tangga dan pelaku UMKM di kawasan Pantai Bagek Kembar, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), mulai dimanfaatkan untuk budi daya maggot black soldier fly (BSF).

Pemanfaatan tersebut dikembangkan PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) bersama anak usahanya, PT Pelayaran Bahtera Adhiguna (BAg), melalui fasilitas tempat pengolahan sampah dengan prinsip reduce, reuse, recycle (TPS3R) di sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas Uap (PLTMGU) Lombok Peaker.

Melalui program ini, sampah organik tidak hanya dikumpulkan dan dibuang, tetapi dipilah dan dimanfaatkan sebagai pakan maggot BSF. Pendekatan tersebut menjadi salah satu upaya mengurangi timbulan sampah organik sekaligus menghasilkan sumber daya yang memiliki nilai guna.

Direktur Gas dan BBM PLN EPI Erma Melina Sarawati mengatakan budi daya maggot menjadi bagian dari upaya mendorong pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi dengan melibatkan masyarakat.

"Melalui fasilitas ini, sampah organik dari UMKM kawasan Pantai Bagek Kembar dan warga sekitar dipilah dan diolah, termasuk melalui budi daya maggot black soldier fly (BSF) guna mengurangi timbulan sampah sekaligus menciptakan nilai tambah bagi masyarakat," kata Erma, dilansir Antara, Jumat (25/9/2026).

Kelompok masyarakat juga mendapat pelatihan agar mampu mengolah sampah organik menjadi pakan maggot. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya berperan dalam memilah sampah, tetapi juga terlibat langsung dalam proses pemanfaatannya.

Pengembangan maggot BSF tersebut menjadi bagian dari konsep ekonomi sirkular di kawasan Bagek Kembar. Sampah organik yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah dimanfaatkan sebagai sumber pakan dalam budi daya maggot sehingga memiliki nilai guna dan ekonomi.

Erma mengatakan pengelolaan sampah membutuhkan kolaborasi masyarakat agar manfaat lingkungan dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi.

"Persoalan sampah ini menjadi masalah kita semua. Karena itu, kita tidak hanya membangun fasilitas, tetapi juga mendorong bagaimana masyarakat bersama-sama mengelola sampah sehingga manfaatnya bukan hanya untuk lingkungan, namun juga dapat menjadi bagian dari pemberdayaan ekonomi masyarakat," ujarnya.

Menurut Erma, pengembangan budi daya maggot juga diharapkan memberikan dampak lebih luas bagi masyarakat sekitar kawasan infrastruktur energi.

"Harapannya multiplier effect-nya tidak hanya dari sisi lingkungan, tetapi juga ada pemberdayaan lainnya. Kita ingin kolaborasi dengan pemerintah dan masyarakat ini semakin erat, termasuk melalui program-program pelatihan dan kerja sama yang dapat terus ditingkatkan," katanya.

 

Mengubah Prilaku Masyarakat

Sementara itu, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Mataram Lalu Martawang mengatakan keberadaan TPS3R diharapkan tidak hanya menyediakan fasilitas pengolahan sampah, tetapi juga mendorong perubahan perilaku masyarakat.

"Pembangunan TPS3R ini bukan sekadar menyediakan sarana pengelolaan sampah. Lebih dari itu, kita berharap fasilitas ini menjadi bagian dari perubahan perilaku dan budaya masyarakat dalam memperlakukan sampah," katanya.

Dengan pengembangan budi daya maggot, sampah organik dari rumah tangga dan UMKM di sekitar Pantai Bagek Kembar diharapkan dapat lebih banyak dimanfaatkan sehingga mengurangi sampah yang berakhir di tempat pembuangan sekaligus membuka peluang pemanfaatan ekonomi bagi masyarakat.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya