Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie optimistis neraca perdagangan Indonesia masih berpeluang positif. Meskipun, dia menyadari akan ada dampak dari gejolak harga minyak dunia global.
Dia menjelaskan, tren positif telah dicatatkan perdagangan Indonesia pada Juli 2026. Kondisi perdagangan berbalik positif US$ 120 juta atau Rp 2,14 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah 17.900) setelah neraca dagang mencatatkan defisit pada Mei-Juni 2026.
Advertisement
"Kalau mengenai neraca apa perdagangan, kita melihat kembali lagi bulan lalu sudah mulai positif lagi net-nya, dan saya yakin ke depannya juga akan terus naik," ujar Aninda di Menara Kadin, Jakarta, Kamis (23/9/2026).
Meski begitu, Anindya Bakrie melihat dampak dari fluktuasi harga minyak dunia. Kenaikan harga minyak dunia dikhawatirkan menggerus angka positif dari ekspor-impor Indonesia.
Anin melihat produk asal Indonesia masih bisa bersaing di pasar global. Apalagi, ada beberapa komoditas yang menjadi andalan di Indonesia.
"Tapi kalau dilihat daripada produk-produk unggulan kita, kenaikannya justru semakin apa baik dan saya rasa itu karena pemerintah mendorong komoditas ekspor tersebut," tuturnya.
Produk Andalan
Anindya melihat produk-produk yang sudah menjadi andalan ekspor mampu jadi penopang utama, sepeeti tekstil, alas kaki, elektronik, hingga furnitur. Di samping itu, produk hilirisasi juga digadang bisa mengambil peran kontribusi pada positifnya ekspor RI.
"Jangan lupa juga untuk mineral kritis yang sudah diolah. Misalnya menjadi stainless steel atau menjadi apa namanya bahan pembuat baterai, dan ke depannya, melihat sekarang yang paling menarik adalah yang paling banyak diminati ialah bauksit," ujarnya.
"Bauksit menjadi alumina, aluminium itu juga rupanya menjadi suatu apa prioritas dan juga suatu komoditas yang telah diolah, ada nilai tambahannya dan juga diminati oleh banyak negara," Anindya menambahkan.
Neraca Perdagangan Surplus
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus neraca perdagangan barang pada Juli 2026 sebesar US$ 120 juta atau Rp 2,12 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.730). Angka ini membalikkan kondisi defisit neraca dagang pada Mei dan Juni 2026.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono menerangkan surplus neraca perdagangan Juli 2026 disumbang oleh komoditas nonmigas.
"Pada Juli tahun 2026, neraca perdagangan barang mengalami surplus sebesar US$ 0,12 miliar. Surplus neraca perdagangan pada Juli tahun 2026 disebabkan oleh surplus pada komoditas non-migas, tercatat surplus komoditas non-migas sebesar US$ 3,10 miliar," kata Ateng dalam konferensi pers Berita Resmi Statistik, Selasa (1/9/2026).
Angka surplus itu membalikkan keadaan defisit neraca perdagangan US$ 1,61 miliar pada Mei 2026 dan defisit US$ 450 juta.
Komoditas Penyumbang Utama
Adapun, komoditas penyumbang surplus non-migas pada Juli 2026 terutama dari lemak dan minyak hewani nabati atau HS15, dari bahan bakar mineral HS27 dan juga dari besi dan baja HS72.
"Sedangkan untuk neraca perdagangan migas pada Juli 2026 mengalami defisit sebesar US$ 2,98 miliar dengan komoditas penyumbang defisit terutama dari hasil minyak dan juga dari minyak mentah," ujar Ateng.
Adapun, nilai ekspor pada Juli 2026 tercatat sebesar US$ 26,22 miliar atau naik 6,05 persen secara tahunan atau year on year. Sementara itu, nilai impor Juli 2026 tercatat sebesar USD 26,09 miliar atau naik 27,02 persen secara tahunan.
Neraca Perdagangan Januari-Juli 2026
Ateng menerangkan, neraca perdagangan secara kumulatif Januari-Juli tahun 2026 juga cukup positif.
"Hingga bulan Juli tahun 2026, neraca perdagangan barang mencapai surplus sebesar US$ 3,70 miliar," katanya.
Surplus sepanjang Januari sampai dengan Juli tahun 2026 terutama surplus pada komoditas non-migas. Surplus non-migas ini mencapai US$ 22,45 miliar, sementara komoditas migas masih mengalami defisit sebesar US$ 18,75 miliar.