Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie mengaku telah membahas rencana pembentukan kawasan industri tekstil terintegrasi bersama Danantara. Langkah strategis ini dinilai menjadi peluang emas bagi para pengusaha di daerah.
Meski demikian, Anindya menyebut pembahasan kawasan terintegrasi tersebut masih berada di tahap awal.
Advertisement
"Sampai sekarang kita masih bicara dari sisi konsep, untuk detailnya tentu kita sangat senang karena Kadin itu kan tentunya ada di daerah," kata Anindya saat ditemui di Menara Kadin, Jakarta, Kamis (24/9/2026).
Ia menjelaskan, kehadiran kawasan tekstil ini bakal membawa dampak positif bagi anggota Kadin daerah sekaligus menjadi stimulus untuk menggerakkan roda ekonomi lokal.
"Dan segala macam apa gerakan ekonomi tentunya menjadi suatu, bisa dibilang, apa kesempatan bagi teman-teman untuk berpartisipasi," tuturnya.
Pemerintah sendiri saat ini tengah menyiapkan berbagai insentif untuk mendongkrak industri tekstil nasional. Salah satunya dengan mendorong bank-bank BUMN mengucurkan kredit guna mendukung ekspansi perusahaan di sektor ini.
Rencana Pembentukan BUMN Tekstil oleh Danantara
Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Roeslani mengonfirmasi kembali rencana pembentukan BUMN Tekstil baru. Nantinya, BUMN ini dirancang untuk beroperasi di dalam satu kawasan terintegrasi.
Rencana yang telah bergulir sejak awal 2026 ini dipastikan terus berjalan. Danantara juga membuka pintu kerja sama dengan para pemain industri tekstil yang sudah ada (existing).
"Kita akan bikin perusahaan baru memang, akan bikin perusahaan baru untuk, ya itu, bisa untuk mengembangkan di perusahaan-perusahaan yang sudah ada kita lihat dan kita bisa berpartner dengan existing perusahaan tekstil yang sudah ada," ujar Rosan di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (22/9/2026).
Rosan melihat potensi besar dalam pengembangan industri tekstil nasional, khususnya pada perusahaan-perusahaan yang memiliki kecakapan mesin dan adopsi teknologi yang mumpuni. "Kita terbuka gitu. Selama memang dari segi penciptaan lapangan pekerjaannya itu tinggi dan tetap masih karena kita adalah Danantara, kita tetap mengutamakan agar investasinya itu mempunyai return yang baik ya," tambahnya.
Terkait model pengembangannya, Danantara menegaskan komitmen untuk memimpin langsung pembentukan ekosistem terpadu tersebut. "Tapi untuk yang terintegrasi, itu kita akan yang menginisiasi, yang terintegrasi di dalam satu kawasan," tegas Rosan.
Senada dengan Rosan, Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria menyampaikan bahwa pematangan konsep BUMN Tekstil ini akan dibahas secara terpisah. "Mungkin nanti kita bahas khusus ya. Ya. Yang paling, yang paling penting, yang bagus kata Bapak tadi," ucap Dony.
Kendati demikian, baik Rosan maupun Dony belum membeberkan tenggat waktu pasti terkait peresmian BUMN anyar tersebut.
Suntikan Dana USD 6 Miliar dari Danantara
Sebelumnya, gagasan menghidupkan kembali BUMN Tekstil sebelumnya dipaparkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Rencana ini didukung komitmen pendanaan hingga USD 6 miliar yang disiapkan melalui BPI Danantara.
Airlangga mengungkapkan, kebijakan ini merupakan arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, pada 11 Januari 2026 lalu. Langkah ini diambil karena sektor tekstil dan garmen dinilai sebagai benteng utama dalam mengantisipasi risiko kebijakan tarif dari Amerika Serikat.
"Bapak Presiden mengingatkan kita pernah mempunyai BUMN tekstil dan ini akan dihidupkan kembali, sehingga pendanaan 6 miliar (dolar AS) nanti akan disiapkan oleh Danantara," kata Airlangga dalam acara Indonesian Business Council (IBC) Business Outlook 2026 di Jakarta.