Liputan6.com, Jakarta - Bursa Asia bergerak beragam pada perdagangan Kamis (24/9/2026) setelah lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) memicu aksi jual di pasar saham. Investor juga mengantisipasi kemungkinan The Federal Reserve (The Fed) kembali menaikkan suku bunga.
Di pasar berjangka AS, kontrak S&P 500 naik tipis 0,02%, sedangkan Nasdaq-100 menguat 0,08%.
Advertisement
Pada perdagangan sebelumnya, indeks S&P 500 turun 0,8%. Nasdaq Composite juga melemah 1,1% sekaligus mengakhiri tren penguatan selama empat hari berturut-turut.
Di kawasan Asia-Pasifik, indeks Nikkei 225 Jepang naik 0,64% setelah pasar Jepang kembali dibuka usai libur selama tiga hari berturut-turut.
Sementara itu, indeks Topix Jepang turun 0,17%. Indeks acuan Australia S&P/ASX 200 terkoreksi 1,33%. Pasar saham Korea Selatan masih ditutup karena hari libur.
Pergerakan bursa terjadi ketika investor mencermati lonjakan imbal hasil obligasi AS yang berpotensi memengaruhi biaya pinjaman global.
Biaya Pinjaman Ikut Naik
Imbal hasil obligasi Treasury AS bertenor 10 tahun, yang menjadi acuan suku bunga kredit seperti hipotek, melonjak menjadi 5,135%. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak Juli 2007.
Sementara imbal hasil Treasury tenor dua tahun naik menjadi 4,947%, level tertinggi sejak Mei 2024.
Lonjakan yield tersebut turut meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed. Berdasarkan CME FedWatch, perdagangan kontrak Fed Funds menunjukkan peluang lebih dari 68% bahwa Federal Open Market Committee (FOMC) menaikkan suku bunga acuannya sekali lagi pada Oktober.
Angka tersebut meningkat dibandingkan sekitar 49% sepekan sebelumnya.
Kenaikan imbal hasil obligasi biasanya meningkatkan biaya pinjaman bagi konsumen. Kondisi ini dapat menekan keuangan rumah tangga, terutama ketika masyarakat juga menghadapi kenaikan biaya bahan bakar.
Di sisi lain, harga minyak mentah bangkit pada perdagangan Rabu. Harga minyak Brent naik sekitar 3,9% menjadi US$ 103,08 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 1,8% menjadi US$ 92,16 per barel.
Menunggu Data Pengangguran
Data terbaru dari S&P Global menunjukkan aktivitas manufaktur dan jasa perusahaan AS masih kuat. Namun, BMO Capital Markets memperingatkan kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan inflasi.
Dalam catatannya pada Rabu, BMO menyebut hasil data memang kuat, tetapi “kemacetan parah dalam rantai pasok”, ditambah kenaikan harga bahan bakar dan transportasi, dapat mendorong inflasi.
“Secara keseluruhan, data ini menunjukkan aktivitas bisnis AS jauh lebih kuat dari perkiraan. Kondisi tersebut memberikan ruang yang cukup besar bagi suku bunga kebijakan maupun imbal hasil Treasury untuk kembali meningkat dalam waktu dekat,” kata Vail Hartman, ahli strategi suku bunga AS di BMO.
“Jika ada, data tersebut justru memperkuat risiko kembali meningkatnya inflasi yang didorong oleh permintaan, meskipun inflasi dari sisi pasokan mulai mereda,” lanjutnya.
Memasuki perdagangan Kamis, investor akan mencermati data klaim pengangguran mingguan AS untuk melihat kondisi terbaru perekonomian.
Dari sisi laporan keuangan perusahaan, investor juga akan menunggu kinerja kuartalan Darden Restaurants, induk Olive Garden, pada pagi hari, serta peritel Costco Wholesale pada sore hari.