Trump Mau Setop Ekspor Solar, Harga BBM Terancam Naik

Rencana larangan ekspor solar yang direncanakan oleh Trump dinilai dapat memperburuk krisis BBM global dan mendorong harga bahan bakar naik.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 24 September 2026, 08:40 WIB
Sementara, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat untuk pengiriman Juni naik sekitar 2 persen menjadi USD 96,37 per barel. Tampak dalam foto, harga bensin yang melebihi 8 delapan dolar AS per galon terlihat tertera di sebuah SPBU Chevron di Los Angeles, California, pada 28 April 2026. (Frederic J. BROWN/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Industri minyak memperingatkan larangan ekspor solar dari Amerika Serikat (AS) justru dapat menjadi bumerang dan memperburuk krisis bahan bakar global. Peringatan ini muncul saat Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan pembatasan ekspor untuk menekan harga BBM.

Trump sebelumnya menyatakan dukungannya terhadap penghentian ekspor solar. Tekanan politik terhadap pemerintahannya meningkat karena harga BBM terus naik menjelang pemilu paruh waktu AS pada November.

“Saya sudah mengatakan, mari kita jangan mengirim solar ke luar negeri. Kita memproduksi banyak solar,” kata Trump kepada wartawan, dikutip dari CNBC, Kamis (24/9/2026).

“Saya sudah meminta hal itu kepada orang-orang saya. Saya sudah membicarakannya,” lanjutnya.

American Petroleum Institute (API), kelompok lobi industri minyak AS, langsung merespons pernyataan tersebut.

CEO API Mike Sommers memperingatkan, pembatasan ekspor energi AS hanya akan memperburuk masalah dan memperparah tantangan di sektor pengolahan minyak dan pada akhirnya merugikan konsumen.

“Solusinya adalah meningkatkan pasokan dan fleksibilitas, bukan membuat pembatasan baru yang berisiko memperburuk situasi yang sudah sulit,” ujar Sommers.

Pembatasan Ekspor

Kenaikan harga minyak dunia dipicu beberapa faktor utama, terutama situasi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Tampak dalam foto, harga bensin yang melebihi 8 delapan dolar AS per galon tertera di sebuah SPBU Chevron di Los Angeles, California, pada 28 April 2026. (Frederic J. BROWN/AFP)

Saham perusahaan pengolahan minyak AS seperti Valero, Marathon Petroleum, dan Phillips 66 turun pada Rabu setelah Politico melaporkan pemerintahan Trump tengah menyiapkan rencana melarang ekspor solar selama 90 hari.

Namun, Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan kepada The Wall Street Journal bahwa pemerintah lebih mempertimbangkan pembatasan ekspor daripada larangan total.

“Kami berusaha menghindari kebijakan pemerintah yang terlalu menyeluruh, dengan memahami kompleksitas sektor pengolahan minyak,” kata Wright.

Menurut Wright, larangan ekspor dapat membuat harga bensin “lebih mahal seketika”. Kilang minyak AS berpotensi mengurangi produksi, termasuk bensin, ketika tangki penyimpanan mulai penuh.

Eksekutif industri minyak mengatakan kepada CNBC bahwa larangan ekspor solar dapat menaikkan harga bahan bakar hingga 30 sen per galon.

Patrick De Haan, kepala analisis minyak di GasBuddy, juga memperingatkan harga bensin dapat mendekati rekor jika larangan ekspor diterapkan.

 

Tak Berpengaruh ke Wilayah Timur Laut AS

Kenaikan harga minyak dunia dipicu beberapa faktor utama, terutama situasi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Tampak dalam foto, harga bensin yang melebihi 8 delapan dolar AS per galon tertera di sebuah SPBU Chevron di Los Angeles, California, pada 28 April 2026. (Frederic J. BROWN/AFP)

Bob McNally, Presiden Rapidan Energy sekaligus mantan penasihat energi Presiden George W. Bush, mengatakan larangan ekspor kemungkinan hanya memberikan penurunan harga sementara di wilayah tertentu, terutama Gulf Coast dan Midwest bagian bawah yang memiliki kapasitas pengolahan besar.

Sebaliknya, wilayah Timur Laut AS diperkirakan tidak banyak mendapat manfaat karena lebih bergantung pada impor. Setelah penurunan sementara, harga justru dapat kembali naik karena kilang mengurangi produksi.

“Harga akan melonjak secara global,” kata McNally.

Ia juga memperingatkan kemungkinan pembalasan dari mitra dagang AS. AS mengekspor solar ke Eropa, sementara Eropa mengekspor bensin ke AS. Jika Eropa melarang ekspor bensin ke AS, wilayah Timur Laut yang bergantung pada impor akan terdampak.

Tekanan politik terhadap Trump juga meningkat. Harga solar rata-rata AS mencapai US$ 6,52 per galon pada Rabu, hampir US$ 3 lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Harga bensin mencapai US$ 4,47 per galon.

“Ini adalah kepanikan. Pemilu kali ini sulit dan secara historis harga solar sedang meningkat. Ini benar-benar kepanikan,” ujar McNally.

Hingga kini, belum jelas keputusan akhir Trump. Pemerintah AS masih mengkaji apakah larangan ekspor layak diterapkan, baik secara penuh maupun sebagian. Salah satu penyebab tingginya harga solar saat ini adalah larangan ekspor Rusia setelah serangan Ukraina terhadap kilang minyaknya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya