Liputan6.com, Islamabad - Ribuan demonstran yang tergabung dalam Jamaat-i-Islami (JI) Pakistan bergerak menuju Islamabad dalam aksi long march untuk memprotes tingginya harga bahan bakar dan pungutan petroleum levy yang dinilai membebani masyarakat.
Aksi tersebut merupakan bagian dari gerakan protes yang diluncurkan JI sejak 7 Agustus. Pimpinan JI Hafiz Naeemur Rehman mengatakan partainya telah menggelar demonstrasi di 510 lokasi dan aksi duduk di 42 tempat di seluruh Pakistan.
Advertisement
Rombongan long march JI tiba di Multan pada Senin malam dalam perjalanan menuju Islamabad. Namun, rencana untuk melanjutkan aksi ke ibu kota kemudian ditunda setelah Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif meminta Rehman menunda aksi tersebut, dikutip dari laman Dawn, Senin (21/9/2026).
Kantor Perdana Menteri Pakistan mengatakan Shehbaz menghubungi Rehman melalui telepon dan mengusulkan penundaan aksi duduk. Keduanya sepakat bertemu setelah Shehbaz menyelesaikan kunjungan resminya ke Amerika Serikat.
Meski long march ditunda sementara, Rehman menegaskan JI tidak menghentikan gerakan protesnya. Para pendukung partai tetap berada di lapangan dan kamp-kamp protes serta aksi duduk akan terus berlangsung hingga pertemuan dengan perdana menteri.
"Kami tidak akan mundur dari aksi protes. Kami juga tidak akan mundur dari long march," kata Rehman.
Ia mengatakan JI memberikan kesempatan kepada pemerintah untuk merespons tuntutan mereka setelah perdana menteri turun tangan secara langsung.
Menurut Rehman, jika pemerintah tidak memberikan solusi terkait petroleum levy, JI akan kembali melanjutkan long march dengan kekuatan yang sama pada pekan pertama Oktober.
Tuntut Harga BBM Turun
JI menilai tingginya harga bahan bakar berdampak langsung terhadap masyarakat karena turut mendorong kenaikan biaya hidup dan inflasi.
Rehman juga menyoroti lima putaran perundingan yang telah dilakukan JI dengan pemerintah untuk membahas usulan pengurangan petroleum levy. Ia menuding pemerintah belum dapat menerima rencana tersebut karena berada di bawah tekanan Dana Moneter Internasional (IMF).
"Kami tidak memiliki agenda politik atau pribadi. Ini adalah persoalan 250 juta rakyat Pakistan," ujar Rehman.
Ia menegaskan aksi JI bukan bertujuan menciptakan kerusuhan atau kekerasan di Islamabad. Menurutnya, tuntutan utama demonstrasi adalah mengurangi beban harga listrik dan bahan bakar yang ditanggung masyarakat.