Liputan6.com, Jakarta - Kepolisian Daerah (Polda) Banten mengungkapkan bahwa proses pencocokan DNA antara sampel antemortem terhadap jenazah yang ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, yang teridentifikasi identitasnya Surakman atau Sukarman (60), sempat mengalami kendala. Surakman merupakan salah satu anak buah kapal (ABK) KM Arupadatu yang hilang kontak bersama lima jurnalis di Selat Sunda.
Kapolda Banten Irjen Pol Hengki menjelaskan proses identifikasi korban memerlukan waktu karena kondisi fisik jenazah yang ditemukan sudah mengalami kerusakan akibat terlalu lama berada di dalam air.
Advertisement
"Pemeriksaan DNA itu banyak kendalanya. Contohnya wajahnya sudah tidak ada sebagainya karena lama di dalam dasar laut ataupun tenggelam," ujar Hengki saat konferensi pers, Rabu (23/9/2026).
Dia menjelaskan jenazah tersebut pertama kali ditemukan oleh masyarakat di Pulau Enggano pada 12 September 2026 atau rentan waktu lima hari setelah operasi pencarian terhadap rombongan jurnalis yang hilang kontak di perairan Selat Sunda, Pandeglang, Banten pada Senin (7/9/2026).
Temuan itu, kata dia, kemudian langsung dikoordinasikan dengan petugas Kepolisian Daerah Bengkulu yang langsung dilakukan identifikasi di Rumah Sakit Bhayangkara untuk penanganan lebih lanjut.
"Karena kondisi fisik yang sulit dikenali secara visual, tim kedokteran kepolisian (Dokkes) mengandalkan metode tes DNA pembanding dengan pihak keluarga," tuturnya.
Menurut dia, berdasarkan hasil uji laboratorium Bidang Laboratorium DNA Rotek Dokkes Polri pada 21 September 2026, sampel DNA jenazah dinyatakan identik dengan ABK KM Arupadatu I serta cocok sebagai ayah biologis dari putra korban.
"Dari antamortem keluarga korban yang ada, kita ambil sampelnya, dicocokkan dengan jenazah yang ditemukan. Maka dari hasil pemeriksaan DNA tersebut, dinyatakan identik dengan Bapak Surakman atau ayah biologis dari Tuan Niyayat," ujarnya.
Selain hasil tes DNA yang akurat, pihak keluarga juga mengenali sejumlah atribut pakaian berupa celana pendek hitam yang terakhir kali dikenakan oleh korban pada saat berangkat mengantarkan rombongan jurnalis ke arah Gunung Anak Karakatau untuk peliputan.
"Pihak kepolisian telah berkoordinasi secara intensif dengan keluarga korban. Putra korban dihadirkan langsung oleh Kapolres untuk mendampingi proses penyerahan jenazah," ujarnya.
Nelayan Diminta Melapor Jika Temukan Jenazah
Kapolda Banten menegaskan tim terpadu tetap siaga melakukan pencarian dan penanganan lanjutan terhadap korban lain yang belum ditemukan.
Dia juga mengimbau para nelayan dan pengguna transportasi laut untuk terus memberikan informasi jika menemukan tanda-tanda yang berkaitan dengan operasi SAR tersebut.
"Polda Banten menyampaikan apresiasi kepada masyarakat dan para nelayan yang telah membantu memberikan informasi terkait penemuan jenazah," kata dia, dikutip dari Antara.
Sebelumnya, tim SAR Gabungan yang telah menjalani operasi pencarian hingga 10 hari, di mana selama rentan waktu tersebut belum mendapatkan hasil positif.
Selama operasi pencarian, tim SAR juga telah mengerahkan 523 personel gabungan untuk melakukan penyisiran ke pulau-perairan sekitar Gunung Anak Krakatau (meliputi Provinsi Banten, Lampung, dan Bengkulu) terhitung sejak kapal dan para penumpang dilaporkan hilang kontak pada Senin (7/9/2026) itu.
Tercatat ada delapan orang yang dicari dalam operasi tersebut, terdiri atas lima jurnalis, yakni M Bagus Khoirunas (Kantor Berita ANTARA), Ari Basuki (Merdeka.com), Yudhistiro (iNews), Firdaus (Anadolu), dan Donal (jurnalis lepas). Sedangkan tiga lainnya adalah Warta (kapten kapal), Surakman (ABK), serta Heriyanto (pemandu).