Pidato Macron di Sidang Majelis Umum PBB Bikin Israel Meradang

Prancis termasuk negara Barat yang telah mengakui Negara Palestina.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 23 September 2026, 15:01 WIB
PM Israel Benjamin Netanyahu saat memberikan pidato di hadapan Kongres Amerika Serikat (AS) pada Rabu (24/7/2024). (Dok. AP Photo/Julia Nikhinson)

Liputan6.com, Washington DC - Israel pada Selasa (22/9/2026) mengecam pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum PBB yang mengkritik tindakan Israel di Tepi Barat dan menyebut Hamas tidak pernah melancarkan serangan di wilayah tersebut.

"Pernyataan Emmanuel Macron benar-benar tidak masuk akal," demikian pernyataan kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu seperti dilaporkan CNA.

Netanyahu dijadwalkan berpidato di hadapan sidang Majelis Umum PBB pada Kamis.

"Teroris Hamas hampir setiap hari melakukan serangan terhadap warga Yahudi. Mereka telah membunuh banyak warga sipil Israel di Yudea dan Samaria," lanjut pernyataan tersebut.

Yudea dan Samaria merupakan sebutan yang digunakan Israel untuk Tepi Barat, wilayah yang diduduki Israel sejak 1967.

Kantor Netanyahu kemudian menyinggung penembakan yang menewaskan seorang pemukim Israel di Tepi Barat pada Minggu (20/9), sehari menjelang Yom Kippur, hari paling suci bagi umat Yahudi.

Israel menyebut korban bernama Netanel Shukrun, ayah enam anak yang juga berkewarganegaraan Prancis.

Militer Israel mengatakan telah menangkap pria Palestina yang melakukan penembakan tersebut di sebuah rumah sakit. Pasukan Israel kemudian menggerebek desa tempat tinggalnya. Seorang menteri dalam pemerintahan Netanyahu menyerukan agar pelaku dihukum mati berdasarkan undang-undang baru.

Sementara itu, pemukim ekstremis Israel kerap menyerang warga Palestina di Tepi Barat dan merampas harta benda mereka. PBB mencatat sekitar enam insiden kekerasan terkait pemukim terhadap warga Palestina atau properti mereka terjadi setiap hari hingga pertengahan 2026 di wilayah tersebut.

Dalam pidatonya di PBB, Macron turut menyoroti kondisi kemanusiaan di Gaza, wilayah tempat Hamas melancarkan serangan pada 7 Oktober 2023 yang menandai serangan paling mematikan terhadap Israel.

"Apa artinya kredibilitas kita jika kita hanya diam melihat apa yang terjadi di Gaza? Ada yang mengatakan perdamaian telah tercapai, tetapi bantuan kemanusiaan tetap tidak bisa masuk. Ini adalah pemandangan yang memalukan bagi kita semua," kata Macron.

"Lihat apa yang terjadi di Tepi Barat. Pelanggaran terjadi setiap hari. Apa dasar pembenarannya? Hamas tidak pernah melakukan serangan di Tepi Barat. Apa yang terjadi setiap hari justru semakin mempersulit terpenuhinya hak sah rakyat Palestina untuk hidup," lanjutnya.

Otoritas Palestina memiliki kewenangan pemerintahan terbatas di sejumlah kota besar di Tepi Barat. Sementara itu, Israel menguasai sebagian besar wilayah tersebut.

Hamas mengambil alih Gaza pada 2007, dua tahun setelah Israel menarik diri dari wilayah tersebut dan membongkar permukiman yang ada di sana.

Hubungan Netanyahu dan Macron selama ini tidak harmonis. Pada sidang Majelis Umum PBB tahun lalu, Macron memimpin dorongan sejumlah negara Barat untuk mengakui negara Palestina.

Prancis baru-baru ini mengikuti langkah Inggris dengan menjatuhkan sanksi terhadap produk-produk dari permukiman Israel di Tepi Barat. Kebijakan tersebut kembali memicu kemarahan pemerintah Israel.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya