Liputan6.com, Jakarta - PT United Tractors Tbk (UNTR) mengungkapkan penurunan tajam penjualan alat berat Komatsu sepanjang tahun berjalan 2026, imbas dari pemangkasan kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara nasional. Meski begitu, manajemen menyebut ada perbaikan yang mulai terlihat pada paruh kedua tahun ini.
Penjualan unit alat berat Komatsu selama 8 bulan berjalan tahun ini turun 21% menjadi 2.689 unit, dari sebelumnya sekitar 4.000-an unit lebih pada periode yang sama tahun lalu. Penurunan sekitar 600-an unit lebih terjadi khusus pada segmen big machine, yang anjlok 49% menjadi hanya 436 unit.
Advertisement
"Kalau kita lihat memang di-8-bulan tahun ini turun 21% di 2.689 unit. Terutama penurunan ini dari machine, ya, turunnya 49% ke angka 436 unit," ungkap Direktur Keuangan UT, Vilihati Surya, pada Astra Media Day 2026, Rabu (23/9/2026).
Ia menjelaskan mengapa penurunan pada segmen big machine berdampak jauh lebih signifikan meski secara unit jumlahnya lebih kecil, lantaran nilai per unit alat berat besar tersebut jauh lebih tinggi.
"Kenapa ini dibedain? Kenapa kita menyebutin Komatsu sama cell saja? Karena di machine itu secara tingkat value, secara value per unitnya itu, itu bisa 10 sampai 15 kali lebih besar. Jadi, sekali aja dapat satu atau dua unit, lumayan banget kontribusi buat yang lain," jelasnya.
Vili mengungkap penurunan kinerja 2026 adalah dampak rendahnya kebijakan alokasi RKAB batu bara nasional. Perusahaan yang sejatinya memiliki kapasitas produksi hingga 15 juta ton batu bara sempat hanya mendapat kuota RKAB sebesar 10,4 juta ton hingga pertengahan Juli 2026.
"Kita sebenarnya punya kapasitas bisa memproduksi sampai dengan 15 juta ton. Tapi pada waktu pertengahan Juli, yang baru di-approve RKAB-nya itu baru 10,4 juta," ujarnya.
Kuota RKAB Perseroan
Namun, ia menyebut ada kabar baik pada Agustus 2026, di mana pemerintah menaikkan kuota RKAB perusahaan menjadi 15,4 juta ton, di tengah tantangan El Nino di Kalimantan Tengah yang turut memengaruhi jadwal produksi dan penjualan.
"Kemarin good news-nya di Agustus ini, kita sudah mendapatkan kenaikan RKAB ke 15,4 juta. Ya, namun memang ada lagi tantangannya, makanya kita mesti banyak berdoa," kata Vili.
Laporan keuangan UT semester I 2026 mencatat pendapatan bersih turun 15% menjadi Rp 58,3 triliun, sementara laba bersih anjlok 88% menjadi Rp 956 miliar, terbebani non-recurring items senilai Rp 3,3 triliun dari penurunan nilai investasi Supreme Geothermal Energy dan pembayaran terkait Persetujuan Pemanfaatan Kawasan Hutan (PPKH) di Tambang Nikel Stargate.
Di tengah tekanan itu, UT tetap memperkuat diversifikasi bisnis ke luar batu bara, salah satunya lewat akuisisi 100% tambang emas PT Arafura Surya Alam pada Februari 2026 serta ekspansi ke bisnis nikel melalui Stargate Pasific Resources.
"Ini adalah salah satu strategi dari United Tractors untuk diversifikasi bisnis yang bukan hanya ke non-thermal core, terutama adalah tambang mas," tutur Vili.