Liputan6.com, Jakarta - PLN Indonesia Power Group memperkuat transformasi bisnis dan transisi energi melalui tiga kolaborasi strategis yang mencakup pengembangan PLTS terintegrasi Battery Energy Storage System (BESS), penguatan layanan Maintenance, Repair and Overhaul (MRO), serta pengembangan kapabilitas MRO nasional untuk pasar Asia Pasifik.
Tiga kolaborasi tersebut mencakup proyek dedieselisasi di 10 lokasi terisolasi di Sulawesi Tengah dengan potensi PLTS 60 MWp dan BESS 200 MWh, penguatan layanan MRO bersama PT ABB Sakti Industri, serta pengembangan Pusat MRO Turbin dan Rotating Equipment di Plant PKT Cilegon bersama PT Barata Indonesia (Persero) dan Technofit Sdn Bhd.
Advertisement
Direktur Utama PLN Indonesia Power Bernadus Sudarmanta mengatakan kolaborasi tersebut memperluas cakupan transisi energi dari penambahan pembangkit energi terbarukan hingga penguatan aset dan industri pendukung.
"Kami ingin transisi energi memberikan nilai tambah yang lebih luas. Bukan hanya menghadirkan energi yang lebih bersih, tetapi juga menciptakan efisiensi, memperkuat industri dalam negeri, meningkatkan TKDN, dan membangun kapabilitas Indonesia agar semakin kompetitif di tingkat regional," ujar Bernadus di Jakarta, dikutip Rabu, (23/9/2026).
PLN Indonesia Power dan PT ACE Energy Service (ACEES) mengembangkan proyek dedieselisasi di 10 lokasi terisolasi di Sulawesi Tengah. Proyek tersebut memiliki potensi kapasitas PLTS 60 MWp dan BESS 200 MWh dengan estimasi investasi Rp3,3 triliun.
Proyek tersebut direncanakan mendapat dukungan pembiayaan dari konsorsium perbankan Korea dan Indonesia. Pengembangan proyek juga menggunakan panel surya produksi dalam negeri dari Trina Mas Agra Indonesia untuk meningkatkan TKDN.
Pengembangan PLTS dan BESS tersebut berpotensi menurunkan Biaya Pokok Penyediaan (BPP) hingga sekitar Rp1.000/kWh. Besaran efisiensi tersebut tetap bergantung pada karakteristik sistem kelistrikan di setiap lokasi.
Integrasi PLTS dan BESS
Direktur Pengembangan Bisnis dan Niaga PLN Indonesia Power Julita Indah mengatakan, integrasi PLTS dan BESS dapat mengurangi ketergantungan wilayah terisolasi terhadap pembangkit berbahan bakar diesel.
"Integrasi PLTS dan BESS memberikan dua manfaat sekaligus, yaitu meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan dan menekan ketergantungan terhadap bahan bakar diesel. Dengan sistem penyimpanan energi, pasokan listrik dari PLTS dapat dikelola lebih optimal sehingga keandalan sistem tetap terjaga sekaligus memberikan potensi efisiensi biaya penyediaan listrik,” kata Julita.
Pada sisi pengelolaan aset, PLN Indonesia Power Services (PLN IP Services) menjalin kolaborasi dengan PT ABB Sakti Industri untuk memperkuat layanan pemeliharaan dan pengadaan generator, motor, serta Variable Speed Drive (VSD)/inverter. Kerja sama tersebut mencakup pemeliharaan dan perbaikan peralatan, penyediaan produk dan suku cadang ABB, serta life assessment generator dan motor.
PLN IP Services juga menggandeng PT Barata Indonesia (Persero) dan Technofit Sdn Bhd untuk mengembangkan Pusat MRO Turbin dan Rotating Equipment di Plant PKT Cilegon. Kolaborasi tersebut mencakup pekerjaan MRO di lingkungan PLN, pengembangan produk kelistrikan, peningkatan TKDN, alih teknologi, serta pengembangan kompetensi SDM.