Limbah Plastik Jadi Kaki Palsu, BWC: Sustainability untuk Kemanusiaan

Apa alasan Director of Bali Waste Cycle Olivia Anastasia menyulap limbah plastik jadi kaki palsu?

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 23 September 2026, 00:28 WIB
Director of Bali Waste Cycle Olivia Anastasia Padang pada Jumat (19/9/2026) di Denpasar, Bali, mengatakan bahwa pemanfaatan sampah kemasan plastik multilapis (MLP) tidak berhenti pada pembuatan papan nama dan penunjuk arah. Material hasil pengolahan tersebut juga dimanfaatkan untuk mendukung pembuatan kaki palsu bagi penyandang disabilitas. (Dok. Liputan6.com/Teddy Tri Setio Berty)

Liputan6.com, Denpasar - Sampah kemasan makanan ringan yang sulit didaur ulang mulai mendapat "kehidupan kedua" di Bali. Material plastik multilapis atau multi-layered plastic (MLP) dari kemasan makanan ringan tidak hanya diolah menjadi papan nama dan penunjuk jalan, tetapi juga dimanfaatkan untuk mendukung pembuatan kaki palsu.

Inovasi tersebut dikembangkan Bali Waste Cycle (BWC) bersama sejumlah pihak, termasuk PepsiCo Indonesia dan pemerintah daerah. Salah satu hasil pengolahan material tersebut kini dapat ditemukan di Taman Kota Sewaka Dharma, Lumintang, Denpasar, dalam bentuk papan nama dan fasilitas penunjuk arah.

Director of Bali Waste Cycle, Olivia Anastasia Padang, mengatakan pemanfaatan sampah tidak seharusnya berhenti pada proses pengumpulan dan pengolahan. Tantangan berikutnya adalah memastikan material yang telah dikumpulkan memiliki fungsi dan nilai ekonomi sehingga tidak kembali menjadi residu.

"Pemilahan sampah yang sudah berjalan mempunyai tantangan berikutnya. Bagaimana material yang sudah terkumpul bisa dimanfaatkan, mempunyai nilai guna dan tidak menjadi residu," ujar Olivia dalam peluncuran proyek di Denpasar yang diselenggarakan oleh PepsiCo Indonesia pada Jumat (19/9/2026).

Salah satu material yang menjadi tantangan adalah sampah kemasan makanan ringan berbahan MLP. Material tersebut terdiri dari beberapa lapisan sehingga pilihan pemanfaatannya relatif terbatas.

Melalui kolaborasi dengan PepsiCo Greenhouse Program Asia Pacific 2026, BWC kemudian mengembangkan pemanfaatan material tersebut. BWC menjadi satu-satunya startup asal Indonesia yang terpilih dalam program tersebut.

Olivia mengatakan, program tersebut tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan produk baru, tetapi juga membangun kemampuan pengelolaan sampah di tingkat lokal. Salah satunya dilakukan melalui kerja sama dengan TPS 3R Eka Pancaguna Buana Lestari.

BWC membantu melakukan optimalisasi peralatan yang telah tersedia sekaligus memberikan pelatihan produksi. Dengan demikian, pengelola TPS 3R diharapkan dapat memproduksi papan berbahan material hasil pengolahan sampah secara mandiri.

"Yang harus dibangun bukan hanya produknya, tapi kemampuan pengelolaan lokal," kata Olivia.

 

Dari Sampah Jadi Produk yang Punya Nilai Sosial

Director of Bali Waste Cycle Olivia Anastasia Padang pada Jumat (19/9/2026) di Denpasar, Bali, mengatakan sampah kemasan plastik multilapis (MLP) dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi sekaligus nilai sosial. Salah satunya melalui pemanfaatan material tersebut untuk mendukung pembuatan kaki palsu bagi penyandang disabilitas. (Dok. Liputan6.com/Teddy Tri Setio Berty)

Pemanfaatan material MLP tersebut tidak berhenti pada kebutuhan fasilitas publik. Olivia mengungkapkan, BWC juga telah menggunakan hasil pengolahan sampah plastik kemasan makanan ringan untuk mendukung pembuatan kaki palsu.

Menurutnya, langkah tersebut membuka kemungkinan baru dalam melihat sampah. Material pascakonsumsi tidak hanya dapat menghasilkan produk bernilai ekonomi, tetapi juga memberikan manfaat sosial bagi masyarakat.

"Jadi sampah itu bisa memiliki nilai produk, memiliki nilai ekonomi, dan yang terakhir kita bisa memberikan nilai sosial," ujar Olivia.

Ia menekankan bahwa tujuan akhir dari konsep keberlanjutan bukan sekadar mengurangi sampah, melainkan memberikan manfaat bagi manusia.

"Pada akhirnya sustainability itu diciptakan untuk kemanusiaan," kata Olivia.

Konsep tersebut menjadi alasan BWC berupaya memperluas pemanfaatan material hasil pengolahan sampah ke berbagai sektor. Selain fasilitas publik, material tersebut diharapkan dapat digunakan untuk menghasilkan produk lain yang memiliki nilai guna dan memberikan dampak langsung kepada masyarakat.

 

Dari Papan Jalan hingga Industri Lokal

Director of Bali Waste Cycle Olivia Anastasia Padang pada Jumat (19/9/2026), berharap bahwa inisiatif dari BWC menjadi awal bagi berkembangnya industri kreatif berbasis pengelolaan sampah di Denpasar dan Bali. (Dok. Liputan6.com/Teddy Tri Setio Berty)

Proyek papan nama di Taman Kota Sewaka Dharma menjadi salah satu contoh bagaimana sampah kemasan dapat kembali masuk ke dalam rantai pemanfaatan.

Namun, bagi BWC, satu papan yang berdiri di ruang publik tersebut merupakan bagian kecil dari proses yang lebih panjang. Di belakangnya terdapat masyarakat yang memilah sampah, bank sampah dan pengelola TPS 3R yang mengumpulkan material, hingga proses pengolahan dan uji coba teknologi.

Olivia berharap pemanfaatan material hasil pengolahan sampah dapat diperluas sehingga menciptakan permintaan baru terhadap produk berbahan material pascakonsumsi.

Jika permintaan meningkat, TPS 3R juga berpeluang mengembangkan kapasitas produksi sekaligus memperoleh manfaat ekonomi dari pengelolaan sampah di tingkat lokal.

"Harapan saya, yang kita mulai hari ini tidak berhenti di papan ini, tidak berhenti di taman ini dan tidak berhenti di satu TPS 3R," kata Olivia.

Ia berharap inisiatif tersebut menjadi awal bagi berkembangnya industri kreatif berbasis pengelolaan sampah di Denpasar dan Bali.

Dengan demikian, pengelolaan sampah tidak hanya berbicara mengenai bagaimana material dibuang atau didaur ulang, tetapi juga bagaimana material tersebut dapat terus memiliki nilai, membuka peluang ekonomi, dan pada akhirnya memberikan manfaat bagi masyarakat.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya