Liputan6.com, Jakarta - Industri fashion Indonesia terus mengalami perubahan, tidak hanya dari desain busana, tapi juga cara karya diperkenalkan pada publik. Peragaan busana berkembang menjadi pertunjukan yang memadukan berbagai unsur kreatif, sementara kolaborasi lintas bidang membuka pendekatan baru dalam menghasilkan karya mode.
Perubahan tersebut terlihat melalui perjalanan Fashion Nation. Selama dua dekade, fashion show ini menghadirkan beragam pendekatan dalam menampilkan koleksi, sekaligus mempertemukan desainer dengan pelaku industri dari berbagai bidang.
Advertisement
Creative Consultant Fashion Nation, Didi Budiardjo, mengatakan perubahan menjadi bagian penting dalam perjalanan acara tersebut. "Fashion Nation selalu evolving, selalu berubah sesuai zaman, dan itu selalu menyuburkan hal-hal yang baru," katanya saat jumpa pers di Jakarta, Selasa, 22 September 2026.
Konsep pembukaan Fashion Nation kini tidak hanya mengandalkan koleksi busana. Penyelenggara memadukan fashion dengan tari, musik, dan akting untuk membangun cerita, sekaligus menciptakan pengalaman berbeda bagi penonton.
Show Director dan Fashion Choreographer Fashion Nation, Panca Makmun, melihat perkembangan serupa dari sisi panggung. Sejak awal, ia bersama Aida Nurmala, CEO Studio One, dan tim Fashion Nation harus mencari cara menghadirkan atmosfer fashion week meski pertunjukan berlangsung di atrium pusat perbelanjaan.
Kondisi tersebut mendorong tim merancang runway dengan karakter yang kuat. "Akhirnya dari situ kita mulai keluar dari konsep bahwa walau berada di atrium, kita harus punya panggung yang megah dan panjang. Meski jaraknya mungkin tidak sepanjang di tempat lain, kita benar-benar membuat konsepnya seperti itu," tutur Panca.
Panggung Fashion Nation Berubah
Didi membandingkan panggung Fashion Nation saat ini dengan penyelenggaraan pada tahun-tahun awal yang menggunakan struktur lebih rendah.
"Panggung dari tahun ke tahun sekarang sudah benar-benar tinggi. Dulu tidak, masih pendek, dan di belakangnya kamar ganti bajunya juga cuma segitu-segitunya saja," jelas Didi.
Transformasi fashion juga terlihat dari semakin terbukanya ruang kolaborasi antarpelaku kreatif. Desainer mulai mempertemukan keahlian dan perspektif berbeda untuk menciptakan karya maupun identitas brand baru.
Desainer sekaligus pendiri Danjyo Hiyoji, Dana Maulana, berkolaborasi dengan Dery Rizkianto dan membentuk brand baru bernama Ddrue. Dana mengaku sudah mengincar Dery sebagai rekan kolaborasi sejak dua tahun sebelumnya.
Ruang Kolaborasi
Dery yang menempuh pendidikan fashion di Istituto Marangoni Milan melihat kolaborasi tersebut sebagai kesempatan mempelajari pendekatan berbeda dalam dunia ready-to-wear. Pertemuan keduanya menunjukkan bagaimana pertukaran perspektif ikut memengaruhi perkembangan produk fashion.
Lintasan profesi dalam industri mode juga semakin beragam. Fotografer dan Creative Director Lanivatti ,Nicoline Patricia Malina, mengawali perjalanan profesionalnya dengan menekuni fotografi setelah memiliki ketertarikan pada desain fashion. Ia kemudian kembali ke industri mode dengan membangun brand Lanivatti.
Dunia pendidikan turut mengambil peran dalam ekosistem fashion. Desainer sekaligus fashion educator, Yosafat Dwi Kurniawan, menilai kemampuan beradaptasi menjadi bagian penting bagi pelaku industri dalam menghadapi perubahan.
"Kalau kita tidak berubah, kita akan ketinggalan," kata Yosafat.
Fashion Lokal Bertemu Konsumen
Perubahan turut menjangkau cara produk fashion lokal bertemu konsumen. Retail Director Masari Group, Diana Sulaiman, mengatakan Masari belum membawa kategori ready-to-wear ketika pertama kali hadir di Senayan City. Saat itu, gerainya hanya berukuran sekitar 40 meter persegi dan menjual aksesori, sepatu, serta tas.
Masari kemudian mulai memberikan ruang bagi local brand yang dinilai memiliki standar setara dengan brand internasional. Respons konsumen terhadap produk lokal mendorong perusahaan mengembangkan pendekatan tersebut.
"Kita mulai memberanikan diri. Oh, oke. Mari kita coba nih mempromosikan local brand yang menurut kita standarnya tidak kalah dengan international brand. Setelah beberapa tahun dijalankan, wah ternyata successful ya. Customer kita, audiens kita tuh suka," ungkap Diana.
Masari selanjutnya memperluas ruang retail dan masuk ke kategori ready-to-wear. Proses tersebut membuat kurasi menjadi semakin penting untuk memilih produk yang tidak hanya mengikuti tren, tapi juga dapat digunakan oleh konsumen.