Terbongkarnya 3 Ton Sianida Diduga Dipasok untuk Tambang Emas Ilegal

Sianida sebanyak tiga ton diduga digunakan untuk aktivitas pertambangan emas ilegal di wilayah Sulut, Gorontalo, dan Sulteng.

oleh Tim RegionalDiterbitkan 22 September 2026, 14:55 WIB
Sebanyak 3 ton sianida asal Filipina gagal masuk ke wilayah Indonesia melalui perairan Gorontalo. (Liputan6.com/ Dok Ist)

Liputan6.com, Gorontalo - Sebanyak 3 ton sianida asal Filipina gagal masuk ke wilayah Indonesia melalui perairan Gorontalo. Sianida sebanyak itu diduga akan digunakan untuk aktivitas pertambangan emas ilegal di wilayah Sulut, Gorontalo, dan Sulteng. 

Terkait hal itu, Komandan Lanal Gorontalo Letkol Marinir Andi Arif Mangkubumi mengatakan, dugaan kaitan sianida dengan tambang ilegal berdasarkan pola penyelundupan sianida yang sebelumnya ditemukan di wilayah Gorontalo serta karakteristik penggunaannya dalam aktivitas pertambangan emas ilegal.

"Dugaan sementara sianida ini akan ditujukan ke tambang ilegal atau peti di wilayah Sulawesi Utara, Gorontalo dan Sulawesi Tengah," kata Andi dalam konferensi pers di Gorontalo, Selasa (22/9/2026).

Andi juga mengatakan, berdasarkan pola penyelundupan sebelumnya di Gorontalo, sianida dengan merek yang sama diketahui hampir seluruhnya digunakan untuk aktivitas tambang emas ilegal.

"Pola penyelundupan sebelumnya yang di Gorontalo merek ini berada di 99% digunakan untuk tambang emas yang tentunya tadi sudah disampaikan yang ilegal ini sangat sangat digunakan dan sangat bermanfaat untuk proses itu di dalam melaksanakan aktivitasnya," ujarnya.

Menurut Andi, dugaan penggunaan tersebut berkaitan dengan motif ekonomi karena peredaran sianida untuk aktivitas tambang ilegal dapat memberikan keuntungan bagi pihak-pihak yang terlibat.

Ia mengatakan aparat akan menelusuri jaringan penyelundupan tersebut secara berkelanjutan untuk mengungkap pihak yang berada di balik pengiriman bahan berbahaya tersebut.

Sementara itu, Direktur Polisi Perairan dan Udara (Dirpolairud) Polda Gorontalo Kombes Pol. Devy Firmansyah mengatakan kelangkaan sianida saat ini turut mendorong tingginya nilai jual bahan tersebut.

"Memang saat ini posisi barang ini yaitu sianida dari informasi yang kami dapatkan di lapangan sedang langka jadi memang harganya sangat fantastis" kata Devy.

Ia menjelaskan harga yang tinggi tersebut berkaitan dengan kondisi pasokan dan aktivitas pertambangan yang masih menggunakan sianida, meskipun penertiban terhadap kegiatan tersebut telah berulang kali dilakukan.

 

 

Ungkap Aktor Intelektual

Sementara itu Kejati Gorontalo mendesak aparat mengusut kasus dugaan penyelundupan tiga ton sianida hingga mengungkap pihak yang berada di balik jaringan tersebut.

Asisten Pidana Umum (Aspidum) Kejati Gorontalo Guntur Triyono mengatakan proses penegakan hukum terhadap kasus tersebut perlu dilakukan secara menyeluruh dan tidak berhenti pada pihak yang berperan sebagai operator di lapangan.

"Koordinasi itu memang mudah diucap tapi sulit untuk diimplementasikan. Penyidikan soal ini sekarang sudah di dalam KUHP yang baru olehnya itu tidak ada rintangan tidak ada halangan dalam rangka penegakan hukum," kata Guntur di Gorontalo, Selasa.

Ia mengatakan Kejati Gorontalo mendukung proses penyelidikan dan penyidikan yang dilakukan aparat dalam mengungkap kasus penyelundupan sianida tersebut.

Menurut dia, penanganan perkara perlu diarahkan untuk mengungkap pihak yang memiliki peran lebih besar di balik distribusi bahan tersebut, termasuk kemungkinan aktor intelektual berdasarkan hasil penyidikan.

"Kami juga mendorong bahwa di dalam proses hukum ini murni dilaksanakan semat dan melaksanakan penegakan hukum oleh di dalam praktik penegakan hukum ini tidak terbatas kepada operator," ujarnya.

Guntur mengatakan pengungkapan perkara diharapkan tidak hanya berhenti pada pihak yang menjalankan aktivitas di lapangan, tetapi dapat berkembang hingga mengetahui pihak yang mengendalikan jaringan tersebut.

"Ini bisa mengungkap tidak hanya di operator aja ini bisa melangkah ke depan siapa aktor intelektualnya," katanya.

Ia berharap penyidik dapat menelusuri rantai peredaran sianida tersebut hingga mengetahui pihak yang berada di balik pengiriman bahan berbahaya itu.

"Kami menaruh harapan besar kepada penyidik yang handal dan profesional ini bisa terungkap dengan tingkat operatornya di samping itu juga bisa sampai ke akar-akarnya," ujar Guntur.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya