Intelijen Eropa: Rusia Bisa Serang NATO dalam Hitungan Bulan

NATO terikat prinsip pertahanan kolektif: serangan terhadap satu anggota dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 21 September 2026, 07:26 WIB
Foto yang diambil dari video yang dirilis oleh Kementerian Pertahanan Rusia pada hari Senin (19/8/2024) menunjukkan tentara Rusia menembakkan peluncur granat otomatis AGS-17 ke posisi Ukraina di lokasi yang dirahasiakan di wilayah perbatasan Rusia-Ukraina di Kursk, Rusia. (Dok. Layanan Pers Kementerian Pertahanan Rusia via AP)

Liputan6.com, Warsawa - Para pejabat intelijen Eropa memperingatkan bahwa Rusia berpotensi menguji respons NATO dalam waktu dekat.

Peringatan itu muncul setelah Perdana Menteri Polandia Donald Tusk mengatakan kepada parlemen bahwa berdasarkan penilaian intelijen, Rusia kemungkinan melancarkan serangan drone atau rudal ke wilayah NATO dalam beberapa bulan mendatang. Serangan itu disebut dapat menjadi bagian dari upaya untuk membuktikan bahwa Pasal 5 lebih bersifat teori daripada praktik.

Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebut peringatan Tusk beralasan dan didukung informasi yang kuat. Pada Jumat (18/9/2026), Macron memanggil para pemimpin partai dan kandidat presiden Prancis 2027 untuk menghadiri pertemuan darurat di Paris. Salah satu hal yang dibahas adalah informasi intelijen mengenai meningkatnya ancaman dari Rusia.

Kekhawatiran akan eskalasi muncul menjelang Sidang Majelis Umum PBB di New York pada pekan ini, di tengah semakin gencarnya serangan udara dari kedua pihak dalam perang Ukraina.

Pada Minggu (20/9) dini hari, Ukraina melancarkan serangan besar-besaran dengan ratusan drone dan rudal ke Moskow serta sejumlah wilayah lain di Rusia, menjadikannya salah satu serangan udara terbesar sejak perang dimulai.

Dalam wawancara terpisah dengan The Guardian sepanjang pekan lalu di sejumlah lokasi, tiga pemimpin badan intelijen Eropa mengungkapkan pandangan mereka mengenai potensi ancaman dari Rusia.

Michal Koudelka, kepala badan keamanan Republik Ceko BIS, mengatakan selain meningkatnya aktivitas drone, Kremlin juga mungkin mempertimbangkan invasi terbatas ke wilayah negara NATO yang berbatasan dengan Rusia.

"Itu mungkin terjadi. Bisa berupa penyusupan terbatas, provokasi yang dibuat seolah-olah dilakukan pihak lain, atau kampanye pengaruh besar-besaran," kata Koudelka.

Menurut Koudelka, skenario tersebut bisa terjadi dalam hitungan bulan, bukan tahun. Namun, ia menambahkan bahwa banyak orang sedang melakukan segala yang mereka bisa untuk memastikan hal itu tidak terjadi.

Para pejabat di negara Baltik yang berbatasan dengan wilayah Rusia justru lebih berhati-hati dalam menilai kemungkinan terjadinya invasi atau eskalasi serius lainnya. Mereka menilai sumber daya Rusia masih tersita oleh perang di Ukraina dan memperingatkan bahwa membesar-besarkan kemungkinan serangan justru dapat menguntungkan Kremlin.

"Kami tidak melihat tanda-tanda serangan dalam waktu dekat," ungkap Direktur Jenderal VDD, badan keamanan negara Latvia, Normunds Mezviets.

Mezviets mengakui ada tanda-tanda bahwa Rusia sedang mempersiapkan langkah yang lebih tegas di Eropa. Namun, belum jelas apakah Rusia benar-benar memiliki rencana konkret atau persiapan itu hanya bagian dari strategi untuk menciptakan ketidakstabilan.

"Masih menjadi pertanyaan apakah mereka memiliki rencana langsung dan konkret, atau ini hanya bagian dari upaya mereka secara keseluruhan untuk menyebarkan ketakutan dan ketidakpastian di masyarakat Barat," ujarnya.

 

Negara Baltik Serukan Ketenangan di Tengah Kekhawatiran

Ilustrasi NATO. (Dok. Pixabay)

Para politikus Baltik selama bertahun-tahun mengkritik Eropa Barat karena dianggap terlalu lunak terhadap Rusia. Namun, kini mereka justru berada dalam posisi yang tidak biasa, yakni meminta sejumlah pemimpin Barat lebih tenang dalam menyampaikan peringatan kepada publik. Mereka khawatir pembicaraan mengenai kemungkinan invasi dalam waktu dekat justru berdampak buruk terhadap masyarakat dan perekonomian negara-negara Baltik.

Pada Sabtu (19/9), Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri Estonia Jonatan Vseviov mengecam kepanikan di media sosial dalam beberapa hari terakhir mengenai kemungkinan serangan.

"Jika memang ada alasan untuk mengkhawatirkan serangan, yakinlah: kami akan menyampaikannya dengan jelas. Sampai saat itu, tetap tenang, lanjutkan aktivitas, dan dukung Ukraina," tulisnya di X.

Mezviets mengatakan secara keseluruhan merupakan hal positif bahwa Eropa Barat kini menyadari ancaman dari Rusia.

"Sebelum 2022, kami terus-menerus memperingatkan mitra kami di Eropa Barat tentang ancaman dari Rusia, tetapi sebagian besar waktu suara kami tidak didengarkan. Pada 2022, pendekatan mitra kami berubah. Mereka mengatakan ternyata negara-negara Baltik dan Polandia selama ini benar," katanya.

Baik Mezviets maupun Koudelka tidak bersedia membahas informasi intelijen spesifik yang mungkin telah diperoleh mengenai dugaan rencana Rusia dalam beberapa bulan mendatang.

Keduanya juga enggan berkomentar apakah kunjungan mendadak Direktur CIA John Ratcliffe ke Rusia bulan lalu—yang dalam perjalanannya sempat singgah di Riga—antara lain bertujuan memperingatkan Kremlin mengenai risiko jika menyerang NATO.

Setelah kunjungan tersebut, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menepis kabar mengenai kemungkinan Rusia menyerang NATO.

"Itu sama sekali tidak berkaitan dengan kenyataan dan sama sekali tidak berkaitan dengan niat Federasi Rusia," ujarnya.

Namun, banyak pihak di Eropa masih mengingat situasi menjelang invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina pada 2022. Ketika itu, para pejabat Amerika Serikat (AS) berulang kali memperingatkan bahwa Rusia sedang mempersiapkan invasi, sementara Kremlin terus membantahnya.

Ketika perang besar-besaran yang kemudian pecah kini mendekati musim dingin kelimanya, upaya yang dipimpin AS untuk mewujudkan perdamaian di Ukraina belum menunjukkan tanda-tanda keberhasilan. Rusia dan Ukraina justru semakin meningkatkan serangan drone dan rudal terhadap satu sama lain.

Dalam beberapa bulan terakhir, Ukraina menghancurkan banyak bagian dari infrastruktur minyak Rusia dengan menyasar kilang dan fasilitas lainnya.

Rusia berulang kali mengatakan bahwa pasokan senjata, informasi intelijen, dan penasihat militer kepada Ukraina membuat negara-negara Barat menjadi pihak dalam perang sehingga dapat dianggap sebagai sasaran yang sah.

Namun, sejauh ini Rusia menghindari tindakan yang dapat memicu respons terkoordinasi NATO. Sebagai gantinya, Rusia menjalankan apa yang disebut badan-badan intelijen Barat sebagai kampanye sabotase terhadap sasaran di negara-negara yang paling vokal mendukung Ukraina.

Sejumlah insiden sporadis juga dinilai sengaja dilakukan untuk menguji sejauh mana Barat akan bereaksi. Salah satunya terjadi setahun lalu ketika lebih dari 12 drone tanpa amunisi menyimpang masuk ke wilayah udara Polandia.

Koudelka mengatakan taktik Rusia saat ini adalah menaikkan ketegangan untuk memaksa lawan meredakannya. Menurutnya, Kremlin berusaha menekan titik-titik lemah dalam masyarakat Barat agar dukungan terhadap Ukraina melemah.

"Mereka percaya jika meningkatkan eskalasi cukup jauh, negara-negara Eropa pada akhirnya akan memutuskan untuk tidak mendukung Ukraina," katanya.

 

Intelijen Eropa Soroti Sabotase Rusia

 

Dalam beberapa pekan terakhir, pemerintahan Donald Trump kembali berupaya menghidupkan perundingan damai untuk mengakhiri perang Ukraina.

Selain kunjungan Ratcliffe ke Moskow, utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner kembali melakukan perjalanan ke Rusia serta untuk pertama kalinya berkunjung ke Kyiv.

Meski Trump berulang kali mengatakan Presiden Rusia Vladimir Putin tertarik mencapai kesepakatan, kalangan Eropa masih meragukan apakah Kremlin benar-benar berniat menjalani perundingan dengan itikad baik.

"Saya belum melihat tanda apa pun bahwa di Moskow ada pertimbangan serius untuk melakukan perundingan yang sesungguhnya," kata kepala badan intelijen dan keamanan militer Swedia Thomas Nilsson.

"Penilaian saya, mereka masih berpikir bisa mencapai tujuan strategis mereka. Jadi, mereka hanya memainkan sandiwara perundingan."

Koudelka, Mezviets, dan Nilsson sama-sama menilai kampanye sabotase Rusia di Eropa kemungkinan akan semakin gencar dalam beberapa bulan mendatang.

Nilsson menyebut insiden terbaru yang melibatkan drone bersenjata di Bandara Leipzig sebagai sebuah "perubahan besar". Otoritas Jerman mengaitkan insiden tersebut dengan intelijen Rusia.

"Drone bersenjata dikirim ke sebuah bandara sibuk di tengah Eropa... Kalau ada serangan yang bisa menimbulkan korban jiwa atau merusak infrastruktur yang sangat penting dan berdampak besar terhadap masyarakat, menurut saya itu merupakan perubahan besar," katanya.

Mezviets mengatakan Rusia kini mulai beralih dari aksi sabotase dan pembakaran dengan sasaran acak yang bertujuan menimbulkan kepanikan menuju sasaran-sasaran tertentu yang berkaitan langsung dengan dukungan Barat terhadap Ukraina.

"Kami melihat mereka berupaya menyerang infrastruktur kereta api dan infrastruktur yang mendukung Ukraina. Sekarang kami melihat pergeseran sasaran ke industri pertahanan," jelasnya.

"Kalau Anda melakukan itu, efek operasi psikologis tetap tercapai. Jadi, Anda mendapatkan keduanya sekaligus."

Nilsson menuturkan meningkatnya aktivitas sabotase Rusia belakangan ini memiliki beberapa tujuan, yakni mengurangi dukungan terhadap Ukraina, menciptakan perpecahan di NATO, dan menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat Eropa.

"Saya pikir Moskow akan sangat senang jika NATO terus-menerus membahas konsultasi berdasarkan Pasal 4, tetapi pada akhirnya tidak mengambil tindakan apa pun," ungkapnya.

Koudelka mengatakan kampanye sabotase itu juga berdampak pada semakin terkurasnya sumber daya badan-badan intelijen. Sebab, setiap insiden kini dapat menimbulkan kecurigaan, bahkan ketika penyebab sebenarnya ternyata bukan tindakan yang disengaja.

"Sekarang setiap kebakaran atau setiap gangguan harus diselidiki oleh badan intelijen sebagai kemungkinan serangan teror, dan bagi mereka itu merupakan hasil yang baik," imbuhnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya