Imbas Serangan Drone, Saudi Setop Pasok Minyak ke Eropa

Imbas serangan drone ke pipa utama, Saudi mendadak setop pasokan minyak ke Eropa. Kilang-kilang mulai berburu pemasok pengganti.

oleh Idris Rusadi PutraDiterbitkan 20 September 2026, 15:00 WIB
Ilustrasi fasilitas minyak Aramco Arab Saudi (Creative Commons / Pixabay)

Liputan6.com, Jakarta - Saudi Aramco menghentikan sementara pasokan minyak mentah ke seluruh kilang di Eropa untuk periode Oktober mendatang. Langkah ini diambil menyusul serangan drone yang melumpuhkan pipa distribusi utama Arab Saudi menuju Laut Merah.

Kebijakan pembekuan pasokan ini berlaku untuk seluruh pembeli di benua Eropa. Umumnya, kilang-kilang di Eropa mengandalkan minyak mentah dari Saudi Aramco melalui kontrak jangka panjang yang menjamin pengiriman rutin setiap bulannya. Pihak Saudi Aramco belum memberikan tanggapan resmi terkait kondisi ini.

Mengutip Anadolu, Minggu (20/9/2026), penutupan pipa East-West (Petroline) dilakukan pekan lalu setelah fasilitas tersebut diserang oleh drone. Operasional pipa diperkirakan mulai pulih secara bertahap dalam beberapa hari ke depan dan baru akan beroperasi penuh dalam kurun waktu enam minggu.

Pipa Petroline memiliki peran yang sangat strategis karena menyalurkan minyak mentah dari pusat produksi utama di wilayah timur Arab Saudi menuju pesisir Laut Merah. Jalur ini menjadi alternatif utama agar pengiriman minyak dapat menghindari Selat Hormuz. Dari Laut Merah, minyak dialirkan melalui pipa SUMED menuju pelabuhan Sidi Kerir di Mesir, yang menjadi pintu masuk utama pasokan minyak Saudi ke kilang-kilang Eropa.

Akibat penghentian jalur pengiriman ini, sejumlah kilang di Eropa mulai berburu pemasok alternatif. Perusahaan kilang asal Polandia, Orlen, dilaporkan telah membuka lebih dari 10 tender untuk mengamankan cadangan minyak pengganti.

Berdasarkan laporan pasar minyak terbaru dari Badan Energi Internasional (IEA), negara-negara Eropa anggota OECD tercatat mengimpor rata-rata 577.000 barel minyak mentah per hari dari Arab Saudi pada Juni lalu.

Harga Minyak Dunia Turun

Ilustrasi tambang migas (iStockPhoto)

Sebelumnya, harga minyak merosot dalam sesi ketiga berturut-turut pada Jumat, 18 September 2026. Koreksi harga minyak terjadi seiring pasar memperkirakan penutupan pipa East-West Arab Saudi tidak akan berdampak sebesar yang dikhawatirkan sebelumnya terhadap pasokan.

Mengutip CNBC, Sabtu (19/9/2026), harga minyak West Texas Intermediate (WTI) turun 1,6% dan ditutup di level US$ 100,30 per barel. Harga minyak Brent yang merupakan acuan internasional, diperdagangkan turun 0,9% dan berakhir di posisi US$ 103,87. Harga minyak Amerika Serikat (AS) menutup pekan tanpa perubahan berarti, sementara Brent mencatat penurunan hampir 1%.

Harga minyak telah naik lebih dari 5% sejak serangan pesawat nirawak (drone) yang diluncurkan dari Irak merusak pipa Saudi tersebut pada Kamis lalu dan memaksanya untuk ditutup.

"Arus minyak dari Timur Tengah tetap kuat secara mengejutkan meskipun terjadi gangguan pada pipa East-West Arab Saudi," ujar Kepala Strategi Komoditas Global di JPMorgan, Natasha Kaneva dalam sebuah catatan Jumat pekan ini.

JPMorgan memperkirakan total arus minyak dari Timur Tengah rata-rata mencapai sekitar 17 juta barel per hari selama 10 hari terakhir; angka ini sekitar 6 juta barel per hari di bawah rata-rata 2025.

Kaneva menuturkan, citra satelit menunjukkan pihak Saudi telah mengalirkan 2,8 juta barel per hari melalui Selat Hormuz selama enam hari terakhir, dibandingkan dengan hanya 700.000 barel per hari pada Agustus. Total ekspor kerajaan tersebut mencapai 5 juta barel per hari pada hari Selasa berdasarkan rata-rata bergerak 10 hari, ungkap analis tersebut.

Ancaman terhadap Pasokan Minyak

Namun, Kaneva memperingatkan kliennya volume ini mungkin sulit untuk dipertahankan. "Untuk saat ini, solusi alternatif tersebut tampaknya berhasil selama Iran membiarkannya," kata analis itu.

Kepala Strategi Komoditas Global RBC Capital Markets, Helima Croft menuturkan, ancaman terhadap pasokan minyak mentah dan produk turunannya tergolong signifikan.

"Kelompok Houthi di Yaman yang merupakan sekutu Iran kemungkinan masih memiliki pasokan drone dan senjata yang diperlukan untuk serangan lebih lanjut terhadap Pipa East-West dan infrastruktur energi di sepanjang Laut Merah," kata Croft dalam sebuah catatan Kamis.

Sementara itu, Rapidan Energy memperkirakan gangguan pada pipa tersebut akan membatasi produksi dan ekspor minyak mentah Saudi setidaknya hingga akhir September.

"Risiko masih condong ke arah gangguan yang lebih besar jika penghentian operasional pipa berlanjut hingga melewati bulan September, atau jika Iran, kelompok Houthi, maupun kelompok proksi lainnya meningkatkan serangan," ujar Rapidan dalam sebuah catatan pada Kamis.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya