Liputan6.com, Jakarta - Rumah produksi Para Kreator menghadirkan film drama berjudul Menang Untuk Kalah. Film garapan sutradara Hasto Broto ini mengangkat fenomena krisis keuangan dalam keluarga, yang menyoroti persoalan gaya hidup konsumtif yang tidak sebanding dengan kemampuan finansial keluarga.
Penulis skenario Jujur Prananto mengatakan, film tersebut sengaja dibuat sebagai refleksi bagi penonton agar lebih berhati-hati dalam mengelola kehidupan dan keuangan keluarga. Ia menyoroti bahaya ketika keinginan seseorang jauh lebih besar daripada kemampuan yang dimiliki.
Advertisement
"Ada bahaya ketika seseorang berkehidupan dengan gaya lebih besar pasak daripada tiang. Jadi keinginannya lebih besar dari kemampuan. Gagasan besarnya itu sih. Niat awal film ini membuat refleksi buat penonton, awas lo jangan seperti dia, dan jangan main-main dalam menjalani hidup ini," tegas Jujur Prananto saat peluncuran trailer dan poster Menang untuk Kalah, di XXI Plaza Senayan, Jakarta, Sabtu (19/9/2026).
Persoalan tersebut tergambar melalui tokoh Bima yang membeli rumah, perabotan mahal, hingga kendaraan baru menggunakan skema cicilan. Masalah justru muncul ketika penghasilan dari proyek yang dijalaninya tidak lagi mampu menutupi kebutuhan dan kewajiban finansial tersebut.
Sutradara Hasto Broto menilai perjalanan Bima dalam film menjadi gambaran tentang tekanan sosial yang dapat dialami seorang kepala keluarga. Menurutnya, keinginan memenuhi kebutuhan keluarga dapat membuat seseorang mengambil keputusan yang justru berujung pada persoalan lebih besar.
"Film ini kalau diambil secara keseluruhan sebenarnya tamparan sosial. Bima sebagai kepala keluarga yang harus memenuhi kebutuhan yang sangat tinggi, akhirnya mengambil langkah yang tidak bagus. Tapi dia tetap sayang kepada keluarganya. Intinya ini tamparan sosial sih," tutur Hasto Broto.
Perjuangan Ayah untuk Keluarganya
Keinginan membahagiakan anak dan istri juga menjadi salah satu alasan Bima berusaha memenuhi kebutuhan keluarga, meski harus menghadapi keterbatasan finansial. Produser eksekutif Salman Alfarisy melihat kondisi tersebut sebagai gambaran perjuangan seorang ayah yang terkadang mengambil keputusan keliru demi orang-orang yang dicintainya.
"Karena saya laki-laki jadi saya harus berbuat apa saja untuk keluarga. Terkadang harus berbuat yang salah, tapi karena niatnya baik insya Allah ada jalan untuk kembali. Jadi kami laki-laki merasakan gimana berjuang untuk orang-orang yang kami cintai, kadang ada hal yang tidak sesuai harapan kami tapi harus dilalui. Kadang respon atas perjuangan yang sudah dilakukan tidak disikapi baik," kata Salman Alfarisy.