Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada perdagangan saham 14-18 September 2026. IHSG sepekan bahkan meninggalkan posisi 6.500.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Sabtu (19/9/2026), IHSG sepekan turun 1,53% sehingga ditutup ke posisi 6.441,15 pada pekan lalu di posisi 6.541,37. Kapitalisasi pasar BEI terperosok 1,58% menjadi Rp 11.266 triliun dari pekan lalu Rp 11.446 triliun.
Advertisement
Tekanan IHSG pekan ini terjadi di tengah nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mengutip riset PT Ashmore Asset Management Indonesia, rupiah merosot ke level 17.742 seiring menguatnya dolar AS. Di sisi lain, investor asing tercatat masih melakukan aksi jual bersih saham sekitar US$ 65 juta atau Rp 1,15 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.810) hingga Kamis pekan ini. Meski angka ini jauh lebih rendah dibandingkan US$ 152 juta atau Rp 2,70 triliun pada pekan lalu yang mengindikasikan tekanan jual mungkin mereda.
Imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun turun menjadi 7,13% dari sebelumnya 7,15%, sebuah kondisi yang patut dicatat mengingat tiga bank sentral utama dunia justru menaikkan suku bunga mereka."
Kini, perhatian tertuju pada rapat Bank Indonesia (BI) pada 23 September, di mana konsensus memperkirakan BI Rate akan tetap dipertahankan pada level 5,75%,” demikian seperti dikutip dari riset Ashmore Asset Management Indonesia.
Keputusan ini menghadirkan dilema nyata; di satu sisi, langkah The Federal Reserve (the Fed), European Central Bank (ECB), dan Bank of Japan (BoJ) menaikkan suku bunga mempersempit selisih suku bunga Indonesia dan AS, yang dapat memicu arus keluar modal.
Kinerja Perdagangan Saham
Di sisi lain, menaikkan suku bunga akan membebani pertumbuhan ekonomi serta biaya pinjaman di dalam negeri. Anggaran negara tahun 2026 mengasumsikan harga minyak sebesar US$ 70 per barel.
"Dengan harga pasar yang mendekati US$ 104 per barel, selisih harga tersebut harus ditanggung baik melalui subsidi bahan bakar maupun kenaikan harga jual di tingkat konsumen, sehingga mempersempit ruang gerak pemerintah," demikian seperti dikutip dari riset Ashmore.
Sementara itu, berdasarkan data BEI, rata-rata nilai transaksi harian susut 6,95% menajdi Rp 15,22 triliun dari pekan lalu Rp 16,36 triliun.
Rata-rata frekuensi transaksi harian merosot 14,73% menjadi 1,89 juta kali transaksi dari 2,22 juta kali transaksi pada pekan lalu. Sementara itu, rata-rata volume transaksi harian BEI terpangkas 20,71% menjadi 28,61 miliar saham dari 36,09 miliar saham pada pekan lalu.