Liputan6.com, Jakarta - Kemacetan di jalur menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, belum juga terurai. Kemacetan yang telah berlangsung hampir satu bulan ini berdampak pada aktivitas para pelaku logistik. Antrean kendaraan kembali mengular hingga 5 kilometer pada Jumat (18/9/2026) petang.
Penyebab utamanya adalah pengerjaan proyek peningkatan kapasitas dermaga di lintasan Ketapang-Gilimanuk. Pembangunan ini membuat PT ASDP Indonesia Ferry melakukan penyesuaian pola pelayanan dan mengurangi pengoperasian sejumlah fasilitas.
Advertisement
Sektor logistik menjadi salah satu pihak yang terdampak kemacetan tersebut. Menurut salah seorang sopir logistik, Budi, perjalanan dari Watudodol ke kantong parkir Bulusan yang biasanya ditempuh sekitar 30 menit kini memakan waktu hingga berjam-jam.
Kondisi tersebut membuat dirinya harus mengeluarkan biaya lebih untuk kebutuhan harian selama terjebak kemacetan. Ia juga menanggung kerugian akibat keterlambatan pengiriman armada.
"Hampir sebulan macet terus. Kami harap pihak terkait segera menuntaskan permasalahan ini agar tidak berlarut-larut," keluh Budi, Sabtu (19/9/2026).
Menanggapi kemacetan yang berlangsung, ASDP menyatakan telah mengoperasikan 24 kapal, terdiri dari 22 kapal reguler dan 2 kapal perbantuan, yakni KMP Jatra I dan KMP Portlink VII. Kapal-kapal tersebut disebar di Dermaga MB 1, MB 3, MB 4, hingga Dermaga LCM.
"Fokus kami saat ini adalah menjaga produktivitas kapal dan dermaga agar kendaraan dapat diseberangkan secara konsisten. Namun, keselamatan tetap menjadi prioritas utama dan tidak dapat dikompromikan," tegas Corporate Secretary ASDP, Windy Andale.
ASDP menyebut penumpukan kendaraan merupakan efek akumulasi kendaraan dari periode sebelumnya. Selain kendala proyek dermaga, ritme bongkar muat dan manuver kapal juga sangat bergantung pada pasang surut air laut serta kondisi cuaca. Meski demikian, data BMKG mencatat kondisi cuaca dan gelombang tergolong relatif kondusif, yakni 0,1-0,5 meter.
Operasional Dimaksimalkan
General Manager ASDP Cabang Ketapang Media Syahrianto mengatakan operasional akan terus dimaksimalkan pada periode ketika kondisi cuaca dan perairan memungkinkan.
"Kami terus menjaga ritme bongkar muat di seluruh dermaga yang dapat dioperasikan. Setiap momentum kondisi cuaca dan perairan yang mendukung akan dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas agar kendaraan dapat diseberangkan secara konsisten dan kepadatan berangsur berkurang," ujar Media.
Jumlah kapal dan pola operasi, kata dia, dapat disesuaikan secara dinamis berdasarkan kebutuhan serta kondisi aktual di lapangan. Penyesuaian dilakukan melalui koordinasi dengan KSOP dan BPTD, dengan mempertimbangkan cuaca, gelombang, angin, arus dan pasang surut, kesiapan kapal dan dermaga, volume kendaraan, serta keselamatan pelayaran sebagai pertimbangan utama.
"Pengaturan operasional terus kami evaluasi bersama regulator. Apabila kondisi cuaca, arus, atau pasang surut memengaruhi proses manuver dan sandar di dermaga tertentu, pola operasi akan segera disesuaikan. Aspek keselamatan menjadi hal yang utama dan krusial dalam setiap keputusan operasional," tambah Media.
ASDP mengimbau pengguna jasa untuk mengikuti arahan petugas dan pengaturan lalu lintas yang diterapkan, serta memperhatikan informasi resmi mengenai kondisi pelayanan sebelum menuju pelabuhan.
"Kami memahami ketidaknyamanan akibat waktu tunggu yang dialami pengguna jasa dan mengapresiasi kesabaran serta kerja sama seluruh pihak. Bersama regulator dan stakeholder terkait, kami terus memaksimalkan pelayanan agar arus kendaraan dapat segera kembali lancar, dengan tetap menempatkan keselamatan sebagai prioritas utama," tutup Media.