Liputan6.com, Jakarta - Harga saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) melesat signifikan pada sesi pertama perdagangan saham Jumat, (18/9/2026). Kenaikan harga saham BYAN ini terjadi setelah pengumuman penandatanganan jual beli bersyarat PT Jhonlin Baratama, perusahaan terafiliasi milik Andi Syamsuddin Arsyad (Haji Isam).
Mengutip data RTI, harga saham BYAN ditutup naik 19,96% menjadi Rp 13.825 per saham pada sesi pertama perdagangan saham Jumat pekan ini. Harga saham BYAN dibuka naik Rp 2.300 per saham menjadi Rp 13.825 per saham dari penutupan sebelumnya Rp 11.525 per saham. Harga saham BYAN berada di level tertinggi Rp 13.825 dan terendah Rp 13.100 per saham. Total frekuensi perdagangan saham 5.047 kali dengan volume perdagangan saham 90.206 saham. Nilai transaksi harian saham Rp 124,6 miliar.
Advertisement
Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji menuturkan, prospek BYAN setelah masuknya Haji Isam melalui PT Jhonlin Baratama akan sangat bergantung pada realisasi transaksi, sinergi operasional, serta penyelesaian isu Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).
"Jhonlin memiliki pengalaman kuat di sektor jasa pertambangan dan batu bara, sehingga secara strategis terdapat peluang sinergi dalam kontraktor tambang, logistik, infrastruktur, hingga efisiensi rantai pasok. Akuisisi 10 miliar saham atau sekitar 30% BYAN juga berpotensi memperkuat posisi strategis Jhonlin di bisnis batu bara nasional," ujar Nafan saat dihubungi Liputan6.com lewat pesan singkat.
Namun, dalam jangka pendek, menurut Nafan investor perlu mencermati katalis dari perubahan pemegang saham belum otomatis menghilangkan tantangan fundamental BYAN.
"Beberapa anak usaha BYAN masih menghadapi persoalan RKAB 2026 dan force majeure, yang berpotensi menekan volume produksi. Bahkan Moody’s baru-baru ini merevisi outlook BYAN menjadi negatif terkait risiko penurunan produksi," ujar dia.
Di sisi fundamental, menurut Nafan, BYAN masih memiliki basis keuangan yang kuat. Pada semester I 2026, laba bersih tercatat sekitar Rp 7,05 triliun, naik 24,4% secara tahunan.
"Jadi, jangka menengah-panjang BYAN masih memiliki ruang pertumbuhan apabila persoalan RKAB dapat diselesaikan dan sinergi dengan ekosistem Jhonlin terealisasi, tetapi dalam jangka pendek volatilitas saham kemungkinan masih tinggi karena pasar akan lebih dahulu menunggu kepastian transaksi dan perkembangan produksi," kata dia.
IHSG Melemah Sesi Pertama
Lonjakan harga saham BYAN ini terjadi di tengah laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang berbalik arah ke zona merah pada sesi pertama.
IHSG turun 0,35% menjadi 6.439,74. Indeks saham LQ45 susut 1,34% menjadi 639,68. Sebagian besar indeks saham acuan memerah.
Pada sesi pertama, IHSG berada di level tertinggi 6.521,02 dan terendah 6.433,36. Sebanyak 406 saham melemah sehingga menekan IHSG. 207 saham menguat dan 173 saham diam di tempat. Total frekuensi perdagangan saham 1.073.422 kali dengan volume perdagangan saham 14,9 milair saham. Nilai transaksi harian saham Rp 7,5 triliun.
Mayoritas sektor saham tertekan kecuali sektor saham energi naik 0,22% dan sektor saham teknologi mendaki 0,11%. Sektor saham kesehatan merosot 1,67%, dan catat penurunan terbesar. Sektor saham infrastruktur melemah 1,27% dan sektor saham keuangan terpangkas 1,17%.
Di sisi lain, sektor saham basic turun 0,56%, sektor saham industri tergelincir 0,14%, sektor saham consumer nonsiklikal terperosok 0,61%, sektor saham consumer siklikal turun 0,13%. Lalu sektor saham properti merosot 0,52% dan sektor saham transportasi melemah 0,30%.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual saham. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.
Emiten BYAN Jual 10 Miliar Saham ke Perusahaan Haji Isam
Sebelumnya, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) mengumumkan penandatanganan perjanjian jual beli saham bersyarat antara pemegang saham perseroan yakni Low Tuck Kwong dan Elaine Low dengan PT Jhonlin Baratama, perusahaan terafiliasi milik Andi Syamsuddin Arsyad (Haji Isam) pada 16 September 2026.
Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis, (17/9/2026), PT Bayan Resources Tbk mengumumkan Low Tuck Kwong dan Elaine Low telah menandatangani perjanjian jual beli saham bersyarat pada 16 September 2026 dengan PT Jhonlin Baratama (pembeli). Perjanjian jual beli saham bersyarat itu terkait rencana pengalihan 10.000.000.500 saham biasa perseroan dan penyelesaian transaksi tunduk pada pemenuhan beberapa kondisi-kondisi pendahuluan.
"Setelah penyelesaian transaksi dan terpenuhinya atau seluruh syarat pendahuluan, pembeli akan memiliki 10.000.000.500 saham biasa perseroan,” tulis Direktur PT Bayan Resources Tbk Jenny Quantero dan Alastair McLeod dalam keterbukaan informasi BEI.
Tak Berdampak Material
Perseroan menyebutkan kejadian itu tidak menimbulkan dampak material negatif yang dapat menganggu kejadian operasional, aspek hukum, kondisi keuangan dan kelangsungan usaha perseroan.
Akan tetapi, perseroan belum menyebutkan harga saham BYAN dalam transaksi itu.
Mengutip data RTI, pada penutupan perdagangan saham Kamis pekan ini, saham BYAN naik 1,54% menjadi Rp 11.525 per saham. Harga saham BYAN dibuka stagnan di Rp 11.350 per saham. Saham BYAN berada di level tertinggi Rp 11.800 dan terendah Rp 11.200 per saham. Total frekuensi perdagangan saham 3.562 kali dengan volume perdagangan saham 30.081 saham. Nilai transaksi harian saham Rp 35 miliar.
Mengutip berbagai sumber, Jhonlin Baratama sebagai kontraktor pertambangan batu bara di Kalimantan Selatan. Perusahaan yang mulai terbentuk dari CV Jhonlin Baratama pada 2003.