Liputan6.com, Jakarta - Langkah kaki pemilik akun Instagram @ijoeel menyusuri kawasan Kalijodo menyisakan cerita baru. Dalam rekaman video berdurasi satu menit, ia mendokumentasikan sudut-sudut area publik yang kini dihiasi tumpukan botol minuman keras (miras).
Tak hanya itu, saat berniat memasuki area taman, langkahnya tertahan oleh kehadiran dua pria yang duduk di bawah tenda merah lengkap dengan meja dan lembaran tiket.
Advertisement
"Mau ke taman. Berapa?" tanya Ijoeel.
"Rp10.000, bos," sahut salah seorang pria di lokasi tersebut.
Praktik pungutan liar (pungli) dan penyalahgunaan fungsi lahan tersebut mendadak terekam jelas, memicu respons cepat dari Istana Daerah.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan telah menerima laporan video tersebut dan menginstruksikan Satpol PP serta Dinas Pertamanan untuk segera turun tangan.
“Saya kebetulan sudah mendapatkan video tentang Kalijodo. Kemarin saya sudah minta kepada Dinas Pertamanan, Satpol PP untuk melakukan penertiban, termasuk pungutan Rp10.000 dan botol-botol minuman yang ditemukan di tempat itu,” tegas Pramono di Jakarta Pusat, Kamis (17/9/2026).
Pramono juga menegaskan komitmennya untuk melakukan renovasi secara menyeluruh. Bagi Pemprov DKI, kawasan yang membentang seluas 3,4 hektare di bantaran Kanal Banjir Barat ini memiliki nilai tersendiri.
"Saya melihat Kalijodo sebagai legacy peninggalan Pak Ahok, menurut saya hal yang sangat baik untuk dilakukan perbaikan kembali," tambahnya.
Sejarah Kalijodo, Antara Kelamnya Prostitusi dan Ruang Publik
Kawasan yang kini membentang di batas Pejagalan ini memuat sejarah panjang. Nama Kalijodo awalnya berakar dari tradisi peh cun etnis Tionghoa pada era 1950-an. Saat itu, muda-mudi melintasi Kali Angke dengan perahu. Jika seorang pemuda tertarik pada lawan jenis di perahu lain, ia akan melempar kue Tiong Cu Pia, jika diterima, sang wanita akan membalas dengan lemparan serupa.
Tradisi pencarian jodoh ini resmi terhenti pada 1958 di bawah larangan Wali Kota Sudiro.
Seiring berjalannya waktu, riwayat kawasan ini bergeser menjadi pusat hiburan malam dan kawasan prostitusi kelas bawah. Riwayat kelam tersebut akhirnya berakhir pada 29 Februari 2016. Di bawah kepemimpinan Basuki Tjahaja Purnama alias, Pemprov DKI merelokasi warga dan meratakan kawasan prostitusi tersebut.
Melalui skema CSR swasta, area tersebut disulap menjadi Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) dan Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang diresmikan pada 22 Februari 2017.
Kalijodo bertransformasi menjadi area modern yang dilengkapi arena bersepeda BMX dan papan seluncur berstandar internasional, amfiteater, aula serbaguna, hingga instalasi seni empat bagian Tembok Berlin.