The Fed Kerek Suku Bunga, Hal Ini Perlu Investor Ketahui

Sejumlah hal yang perlu investor ketahui setelah the Fed menaikkan suku bunga, dan dampaknya ke Indonesia.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 17 September 2026, 12:51 WIB
Ketua Dewan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh berbicara selama konferensi pers di Federal Reserve di Washington. Rabu, 29 Juli 2026. (AP Photo/Mark Schiefelbein)

Liputan6.com, Jakarta - Bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserve (the Fed) menaikkan suku bunga acuan atau Fed Fund Rate (FFR) sebesar 25 basis poin bps) ke level 3,75%-4,00% melalui Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15-16 September 2026.Kenaikan suku bunga the Fed itu sesuai dengan konsensus pasar.

Mengutip riset Syailendra Capital, Kamis (17/9/2026), kenaikan suku bunga the Fed ini menjadi kenaikan suku bunga pertama setelah lebih dari tiga tahun, dan sekaligus menandai perubahan stance the Fed dari wait and see menjadi lebih hawkish atau agresif di tengah meningkatnya tekanan inflasi akibat kenaikan harga energi.

Seiring sentimen kenaikan suku bunga the Fed itu, apa yang perlu investor ketahui dari kenaikan suku bunga ini?

Berikut hal perlu investor ketahui mengutip riset Syailendra Capital, Kamis pekan ini.

1.Harga minyak naik, risiko inflasi kembali hadir

Kenaikan harga minyak kembali ke atas US$ 100 per barel menjadi salah satu faktor utama yang meningkatkan risiko inflasi. Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat pada Agustus tercatat 3,4% Year on Year (YoY), sementara core CPI berada di 2,4%. Hal ini menunjukkan tekanan harga kembali meningkat meskipun inflasi inti relatif lebih terkendali.

“Denga risiko second round effect dari harga energi, the Fed memilih untuk lebih pre-emptive dalam menjaga ekspektasi inflasi agar tetap ter-anchor menuju target 2%,” demikian seperti dikutip dari riset Syailendra Capital, Kamis pekan ini.

 

 

Hal yang Perlu Investor Ketahui

Ketua Dewan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh berbicara selama konferensi pers di Federal Reserve di Washington. Rabu, 29 Juli 2026. (AP Photo/Mark Schiefelbein)

2.Suku Bunga The Fed Naik, Imbal Hasil Obligasi AS Meningkat

Dalam riset Syailendra menyebutkan, the Fed menaikkan FFR sebesar 25 bps di tengah imbal hasil obligasi AS yang sudah mengalami kenaikan signifikan. Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun bahkan sempat menembus 5,0%, level tertinggi sejak 2023, sebelum sedikit turun kembali.

“Kenaikan yield ini tidak hanya mencerminkan ekspektasi Fed rate hike, tetapi juga meningkatnya risiko inflasi, harga minyak serta kekhawatiran terhadap kebutuhan pembiayaan fiskal Amerika Serikat,” demikian dikutip dari riset Syailendra.

3.Kementerian Keuangan Melonggarkan, The Fed Memperketat

Pada saat Kementerian Keuangan di bawah Menteri Keuangan Scott Bessent meningkatkan program pembelian kembali atau buyback obligasi pemerintah AS hingga US$ 6 miliar atau Rp 106,50 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.750) per operasi untuk meredakan tekanan pada long-end yield, the Fed justru kembali menaikkan FFR 25 basis poin dan memperketat kondisi keuangan.

“Policy divergence ini menjadi perhatian pasar. Treasury berupaya menahan kenaikan UST yield melalui buyback, sementara the Fed justru memberikan tekanan dari sisi monetary policy,” demikian seperti dikutip dari riset.

 

 

Dampak ke Indonesia

Layar monitor menunjukkan pergerakan pasar saham di lantai Bursa Efek Indonesia menjelang aktivitas perdagangan, Jakarta pada Senin 9 Februari 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) balik ke level 8.000 pada penutupan perdagangan, Senin (9/2/2026). (BAY ISMOYO/AFP)

Lalu Apa Dampaknya untuk Indonesia?

Dalam riset Syailendra menyebutkan, kenaikan suku bunga the Fed berdampak masih terbatas ke Indonesia. Dalam satu bulan terakhir, imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS) bertenor 10 tahun naik sekitar 28 bps, jauh lebih besar dibandingkan kenaikan Surat Utang Negara (SUN) 10 tahun yang hanya sekitar 6 bps.

Di sisi lain, nilai tukar rupiah juga sudah relatif stabil, hal ini menunjukkan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang didominasi oleh faktor dari AS, sehingga dampaknya ke Indonesia akan sangat bergantung kepada apakah kenaikan imbal hasil obligasi AS berkembang menjadi global risk-off.

“Jika tekanan di pasar AS semakin besar, risiko pelemahan rupiah dan kenaikan risk premium emerging market (EM) akan meningkat. Namun, respons dan timing kebijakan the Fed akan menjadi faktor penting dalam menentukan seberapa besar dampak terhadap pasar Indonesia,” demikian dikutip dari riset Syailendra.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya