Anak Krakatau Enam Hari Tidak Erupsi, Begini Penjelasannya

Erupsi terakhir terjadi di tanggal 10 September, Namun hal ini bukan berarti tidak ada aktivitas Anak Krakatau.

oleh Ardi MuntheDiterbitkan 16 September 2026, 19:35 WIB
Gunung Anak Krakatau

Liputan6.com, Jakarta - Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda belum kembali mengalami erupsi sejak letusan terakhir pada Kamis (10/9/2026).

Meski demikian, aktivitas vulkanik GAK belum sepenuhnya berhenti. Aktivitas kegempaan masih terekam di Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau pada Rabu (16/9/2026).

Berdasarkan laporan pengamatan periode pukul 06.00-12.00 WIB, tercatat satu kali gempa embusan dengan amplitudo 7 milimeter dan durasi 23 detik.

Selain itu, terdeteksi satu kali gempa low frequency dengan amplitudo 8 milimeter selama 4 detik. Tremor menerus juga masih terekam dengan amplitudo 1-5 milimeter dan dominan 2 milimeter.

Kepala Pos Pemantauan GAK di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Suwarno mengatakan, kegempaan tersebut masih menjadi bagian dari aktivitas yang terus dipantau.

"Kegempaannya masih, ada hembusan juga satu kali. Kemudian low frequency juga ada satu kali," kata Suwarno, Rabu (16/9/2026).

 

Tidak Semua Gempa Bertanda Tubuh Gunung Membesar

Suwarno menjelaskan, jenis gempa menjadi salah satu indikator penting untuk membaca aktivitas di dalam tubuh Gunung Anak Krakatau.

Menurut dia, gempa vulkanik dalam tidak secara otomatis menunjukkan adanya proses pembentukan atau pembesaran tubuh gunung.

Gempa tersebut berkaitan dengan kondisi batuan di dalam tubuh gunung pada kedalaman sekitar 3,5 hingga 4 kilometer dari permukaan.

"Kalau vulkanik dalam itu batuan-batuan yang ada di dalam berkisar 3,5 kilometer atau 4 kilometer dari permukaan kita ke bawah. Batuan-batuannya itu termakan dengan magma, batuan-batuannya rontok," jelasnya.

Berbeda dengan gempa multiphase. Jenis kegempaan tersebut menunjukkan adanya dorongan material dari bawah menuju permukaan.

Dorongan material ini dapat membuat tubuh gunung bertambah besar meskipun tidak selalu disertai keluarnya material letusan.

"Kecuali kalau multiphase, itu ada dorongan ke atas. Akan membesar, walaupun tidak mengeluarkan material letusan. Nah, itu karena ada multiphase itu terdorong ke atas," terangnya.

Dia mengibaratkan proses tersebut seperti material yang terdorong dari bawah permukaan tanah.

"Umpamanya kalau di dataran rata, itu akan membentuk suatu punggungan kecil," katanya.

Enam Hari Tanpa Erupsi

Erupsi terakhir Gunung Anak Krakatau terjadi pada Kamis (10/9/2026) sekitar pukul 09.10 WIB.

Saat itu, tinggi kolom erupsi tidak teramati. Namun, letusan terekam oleh seismograf dengan amplitudo maksimum 47 milimeter dan durasi 17 detik.

Sejak letusan tersebut, belum kembali tercatat erupsi hingga laporan aktivitas GAK pada Rabu (16/9/2026) siang.

Meski aktivitas letusan mereda, status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga.

Masyarakat, wisatawan, maupun pengunjung dilarang mendekati kawah aktif atau melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah.

Suwarno mengatakan kondisi GAK berdasarkan pemantauan saat ini masih aman. Namun, aktivitas kegempaan tetap menjadi perhatian petugas.

"Aman, semuanya aman," kata dia.

Suwarno mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan status Siaga yang masih berlaku.

"Yang penting radius masih tetap 3 kilometer sementara ini," ujarnya.

CCTV Pemantauan Bermasalah

Di tengah masih berlangsungnya aktivitas kegempaan, pemantauan visual Gunung Anak Krakatau juga masih menghadapi kendala.

Dalam laporan aktivitas terbaru, tubuh gunung tertutup kabut 0-III. Sementara asap kawah tidak teramati.

CCTV visual di lapangan juga masih belum aktif sehingga pemantauan kondisi gunung secara langsung masih terbatas.

Suwarno bilang, perbaikan perangkat CCTV dilakukan oleh pihak pusat.

Menurut dia, kondisi tersebut juga berkaitan dengan faktor keselamatan petugas di lapangan. Posisi pemantauan yang terlalu dekat dengan gunung dinilai berisiko apabila GAK kembali mengalami erupsi.

"Karena khawatir kalau ada letusan lagi, coba bayangkan kalau kita ada di lapak di sana atau di Sertung, ada letusan, bisa-bisa habis itu nyawa," tandasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya