Tekan Tingginya Kematian Ibu Melahirkan, Pewaris Walmart Sumbang Rp 1,76 Triliun

Pasangan pewaris Walmart, Olivia dan Tom Walton, menyumbangkan dana US$ 100 juta (Rp 1,76 triliun) untuk menekan tingginya angka kematian ibu melahirkan di AS.

oleh Cahya Alena FauzaDiterbitkan 16 September 2026, 20:00 WIB
Walmart dan Walmart Foundation menyalurkan bantuan untuk mendukung upaya penanganan bencana. (Dok walmart.com)

Liputan6.com, Jakarta - Pewaris Walmart, Olivia dan Tom Walton, mengucurkan dana hibah sebesar US$ 100 juta atau sekitar Rp 1,76 triliun (asumsi kurs Rp 17.685 per dolar AS). Langkah ini dilakukan guna menekan angka kematian saat melahirkan di Amerika Serikat (AS) yang mencatatkan rekor tertinggi di antara negara-negara maju.

Melansir Yahoo! Finance, Rabu (16/9/2026), organisasi nirlaba Healthy Moms, Healthy Babies America (HMHBA) yang didirikan Olivia Walton mengumumkan komitmen awal selama lima tahun tersebut. Sumbangan bernilai fantastis ini ditujukan untuk mempercepat upaya pemotongan hingga separuh angka kematian persalinan di AS.

Investasi ini akan mendanai hibah dengan skema pendanaan bersama (co-funding) dari pemerintah negara bagian, kemitraan, serta penguatan infrastruktur. HMHBA bakal memanfaatkan sumbangan ini sebagai landasan untuk memicu lebih banyak modal dari sektor publik maupun swasta.

HMHBA sendiri merupakan organisasi berstatus 501(c)(3) atau badan hukum nirlaba yang dibebaskan dari pajak penghasilan federal berdasarkan Undang-Undang Perpajakan Internal AS. Didirikan pada Mei lalu, HMHBA membawa misi personal dari Olivia yang menyoroti tingginya risiko kematian saat melahirkan.

“Kini lebih berbahaya melahirkan anak saya dibanding saat ibu saya melahirkan saya pada tahun 1980-an. Ini tidak dapat dimaafkan, namun bisa diperbaiki,” tutur Olivia.

Ia berpendapat bahwa solusi atas permasalahan ini sebenarnya sudah ada, namun penyebaran sumber daya kepada para ibu melahirkan belum berjalan optimal. Solusi tersebut mencakup penanganan awal, perluasan dukungan pascapersalinan melampaui pemeriksaan enam minggu, hingga penyusunan layanan perawatan yang disesuaikan dengan kebutuhan nyata keluarga.

“Hampir 90 persen kematian saat melahirkan bisa dicegah. Kita tahu apa yang berhasil, dan beberapa negara bagian sudah membuktikannya,” ia melanjutkan.

 

Kematian Melahirkan di AS Masih Tinggi

Olivia dan Tom Walton, pewaris Walmart, melakukan filantropi berupa donasi dana Rp 1,76 triliun untuk mengurangi angka kematian melahirkan AS. (AP/Andrew Harnik)

Meskipun angkanya sempat turun pada 2023, tingkat kematian melahirkan di AS masih bertengger di angka 19 kematian per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding negara berpenghasilan tinggi lainnya. Pada tahun yang sama, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mencatat 669 wanita meninggal dunia akibat proses melahirkan.

Risiko ini juga tidak merata. Bagi wanita berkulit hitam, angka kematian mencapai 50,3 per 100.000 kelahiran hidup—atau lebih dari tiga kali lipat dibanding wanita berkulit putih.

HMHBA menyoroti bahwa dua pertiga kematian terjadi setelah proses persalinan, di mana 40 persen ibu di antaranya tidak menerima layanan kesehatan tambahan. Ibu yang tinggal di daerah pedesaan juga menghadapi situasi kian sulit seiring maraknya penutupan unit kebidanan di rumah sakit daerah.

Direktur Eksekutif HMHBA, Robin Reck, menyebutkan bahwa AS sebenarnya menghabiskan dana lebih banyak dibanding negara mana pun untuk penanganan kesehatan ibu. Namun, fatalitas yang seharusnya bisa dihindari justru terus terjadi.

“AS menghabiskan lebih banyak uang untuk risiko terhadap kesehatan ibu, jauh lebih banyak dari negara mana pun. Sebanyak 87 persen kematian ini bisa dicegah, dan 65 persen di antaranya terjadi setelah bayi lahir. Ini tidak bisa dimaafkan. Ini tidak mencerminkan Amerika,” ia menjelaskan.

Krisis kesehatan ini juga berdampak signifikan pada sektor finansial. Hasil studi Heartland Forward mencatat dampak buruk kesehatan ibu pada 2020 merugikan perekonomian AS hingga US$ 165 miliar (Rp 2.917 triliun). Mencegah separuh dari kasus yang dapat dihindari diperkirakan mampu menghemat hampir US$ 80 miliar (Rp 1.414 triliun) per tahun.

Sebagai pembanding, persalinan normal pada usia kehamilan cukup bulan menelan biaya sekitar US$ 6.400 (Rp 113,1 juta). Sementara itu, biaya kelahiran prematur ekstrem bisa membengkak hingga US$ 238.000 (Rp 4,2 miliar). Organisasi March of Dimes menemukan biaya medis tahun pertama bagi bayi prematur mencapai empat kali lipat lebih tinggi dibanding bayi yang lahir cukup bulan.

 

Jejak Filantropi Keluarga Walton

Olivia dan Tom Walton, pewaris Walmart, melakukan filantropi berupa donasi dana Rp 1,76 triliun untuk mengurangi angka kematian melahirkan AS. (Getty Images via AFP/Craig Barritt)

Tom Walton merupakan cucu dari pendiri jaringan ritel Walmart, Sam Walton. Kepemilikan saham keluarga Walton sebesar 44 persen di perusahaan yang menempati peringkat kedua Fortune 500 itu ditaksir bernilai US$ 440 miliar (Rp 7.781 triliun).

Aksi filantropi gabungan keluarga ini menempatkan mereka di jajaran dinasti legendaris AS seperti keluarga Carnegie, Rockefeller, dan Vanderbilt. Sebagian besar donasi amal disalurkan melalui Walton Family Foundation yang didirikan oleh Sam dan Helen Walton pada 1987.

Pada 2024, yayasan tersebut mencairkan dana hibah sebesar hampir US$ 550 juta (Rp 9,7 triliun) yang berfokus pada isu lingkungan, pendidikan, dan pengembangan daerah di Arkansas Barat Laut.

Tom menduduki salah satu kursi dewan di Walton Family Foundation, sementara Olivia berfokus pada sektor seni dan emansipasi wanita. Olivia menggantikan Alice Walton sebagai Ketua Crystal Bridges Museum of American Art di Bentonville, sekaligus mendirikan Ingeborg Investments untuk memberikan pendanaan bagi startup yang didirikan perempuan.

 

 

Dorong Lintas Partai lewat Kampanye Bipartisan

Komitmen terbaru sebesar US$ 100 juta ini dilandasi keyakinan bahwa isu kesehatan ibu merupakan salah satu topik yang mampu menyatukan dukungan lintas partai (bipartisan).

Survei nasional terhadap lebih dari 1.000 pemilih pada Juli lalu menunjukkan bahwa 86 persen pemilih menginginkan peningkatan kualitas kesehatan kehamilan, dan 79 persen bersedia memilih kandidat yang memperjuangkan reformasi tersebut. Usulan kebijakan yang diuji dalam jajak pendapat mendapat dukungan mayoritas dari pemilih Partai Republik, Partai Demokrat, maupun independen.

Saat ini HMHBA mendukung dua rancangan undang-undang (RUU) bipartisan. Pertama, RUU Kesiapan Obstetri di Daerah Pedesaan (Rural Obstetrics Readiness Act) yang digagas oleh Senator Maggie Hassan, Susan Collins, Katie Britt, dan Tina Smith. RUU ini mendanai pelatihan, peralatan, dan konsultasi jarak jauh agar fasilitas kesehatan pedesaan yang minim dokter kandungan dapat menangani darurat persalinan.

RUU kedua adalah NIH IMPROVE Act yang dipimpin oleh Senator Britt dan Senator Cory Booker. RUU ini akan mengotorisasi pendanaan selama tujuh tahun bagi riset kesehatan ibu yang dijalankan oleh National Institutes of Health.

Olivia Walton menegaskan bahwa AS harus menjadi tempat paling aman untuk melahirkan karena bukti dan solusinya sudah tersedia di depan mata.

“Amerika harus menjadi tempat teraman di dunia untuk melahirkan. Kita memiliki buktinya dan kita memiliki solusinya. Sekarang, kita butuh urgensi dan investasi untuk membuatnya dapat diakses oleh setiap ibu di seluruh pelosok negeri,” tegas Olivia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya