Liputan6.com, Jakarta - Tindakan perburuan penyu yang diduga dilakukan oleh seorang warga negara asing (WNA) di perairan Raja Ampat, Papua Barat Daya, telah memicu kemarahan publik dan kembali menyoroti pentingnya konservasi penyu laut. Insiden ini menjadi pengingat keras akan peran krusial penyu dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut yang rapuh. Video yang memperlihatkan dugaan perburuan tersebut viral di media sosial, menampilkan seorang instruktur selam asal China membawa speargun ke arah penyu di sekitar terumbu karang.
WNA yang diidentifikasi bernama Wei Shang tersebut diamankan oleh pihak Imigrasi Makassar saat hendak terbang menuju Kuala Lumpur. Ia diduga menombak penyu saat menyelam di Raja Ampat, kemudian membawa dan mengonsumsi hewan dilindungi tersebut. Pihak Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) telah berkoordinasi dengan kepolisian serta imigrasi untuk menangani kasus ini. Pelaku kini telah diamankan di Makassar dan akan dibawa ke Sorong untuk proses hukum lebih lanjut.
Advertisement
Penyu laut, yang telah menjelajahi samudra selama lebih dari 100 juta tahun, merupakan spesies kunci (keystone species) yang tak tergantikan dalam menjaga kesehatan dan keseimbangan ekosistem laut. Tanpa keberadaan mereka, rantai makanan dan struktur habitat laut dapat mengalami gangguan signifikan. Populasi penyu terus menghadapi ancaman serius akibat aktivitas manusia, termasuk perburuan ilegal seperti yang terjadi di Raja Ampat.
Peran Kunci Penyu dalam Menjaga Kesehatan Ekosistem Laut
Penyu laut memiliki berbagai fungsi vital yang mendukung kelangsungan hidup ekosistem bahari. Setiap spesies penyu memiliki peranan unik yang saling melengkapi.
Penyu hijau (Chelonia mydas) dikenal sebagai "pemotong rumput" bawah laut. Mereka memakan lamun, menjaga agar padang lamun tetap pendek dan sehat. Padang lamun yang sehat sangat penting sebagai tempat berkembang biak dan mencari makan bagi banyak spesies ikan, kerang-kerangan, dan krustasea. Jika populasi penyu hijau menurun, padang lamun bisa menjadi terlalu lebat, menghambat aliran arus laut, menghalangi sinar matahari, dan menciptakan kondisi yang mendukung pertumbuhan jamur serta merusak habitat sekitarnya.
Penyu sisik (Eretmochelys imbricata) adalah predator utama spons. Dengan mengonsumsi spons, penyu sisik mencegah spons mendominasi terumbu karang, memberikan kesempatan bagi karang untuk berkoloni dan tumbuh. Tanpa penyu sisik, spons dapat tumbuh berlebihan dan mencekik karang yang tumbuh lambat, menyebabkan kerusakan struktural dan ekologis pada terumbu karang. Saat penyu sisik merobek spons, nutrisi di dalamnya menjadi terbuka dan dapat dimakan oleh spesies laut lain yang biasanya tidak dapat menembus lapisan luar spons.
Penyu belimbing (Dermochelys coriacea) berperan sebagai predator utama ubur-ubur, mengonsumsinya dalam jumlah besar untuk menjaga populasi ubur-ubur tetap terkendali. Kontrol ini penting karena ubur-ubur, jika populasinya berlebihan, dapat mengganggu jaring makanan laut dengan mengonsumsi plankton dalam jumlah besar, yang merupakan sumber makanan utama bagi ikan kecil dan makhluk laut lainnya. Penurunan populasi penyu belimbing dapat menyebabkan peningkatan jumlah ubur-ubur, yang berdampak negatif pada populasi ikan.
Selain itu, penyu laut juga berperan dalam mendistribusikan nutrisi dari laut ke ekosistem pesisir dan bukit pasir melalui telur yang mereka tanam. Telur penyu, baik yang menetas maupun tidak, menyumbangkan nutrisi seperti nitrogen, fosfor, dan kalium ke tanah, yang memperkaya tanah dan membantu pertumbuhan vegetasi. Vegetasi ini penting untuk menstabilkan garis pantai dan mencegah erosi. Cangkang penyu juga menjadi habitat bagi lebih dari 100 jenis epibion, seperti teritip dan alga, yang kemudian menjadi sumber makanan bagi ikan kecil dan udang di sekitar terumbu karang. Migrasi jarak jauh penyu turut membantu mengangkut spesies-spesies ini, berkontribusi pada keanekaragaman hayati di berbagai lokasi.
Status Konservasi Global dan Ancaman Berkelanjutan
Meskipun upaya konservasi terus dilakukan, sebagian besar spesies penyu laut masih menghadapi ancaman serius. Dari tujuh spesies penyu laut di dunia, enam di antaranya dapat ditemukan di perairan Indonesia.
Menurut penilaian terbaru IUCN pada Oktober 2025, status penyu hijau secara global telah meningkat dari "Terancam Punah" (Endangered) menjadi "Risiko Rendah" (Least Concern). Peningkatan ini mencerminkan keberhasilan upaya konservasi selama beberapa dekade, dengan populasi global meningkat sekitar 28% sejak tahun 1970-an. Namun, peningkatan ini tidak merata di semua subpopulasi; beberapa subpopulasi penyu hijau masih kecil, terfragmentasi, atau menurun, termasuk di Asia Tenggara.
Spesies lain seperti penyu sisik (Hawksbill) dan penyu Kemp's Ridley masih terdaftar sebagai "Sangat Terancam Punah" (Critically Endangered) secara global. Penyu belimbing (Leatherback) secara global berstatus "Rentan" (Vulnerable), tetapi beberapa subpopulasinya di Pasifik Timur dan Atlantik Barat Daya berstatus "Sangat Terancam Punah". Penyu tempayan (Loggerhead) dan penyu lekang (Olive Ridley) secara global berstatus "Rentan" (Vulnerable), sementara penyu pipih (Flatback) berstatus "Kurang Data" (Data Deficient).
Meskipun ada kabar baik untuk penyu hijau, ancaman seperti tangkapan sampingan dalam perikanan, pembangunan pesisir, polusi laut (terutama plastik), perubahan iklim, dan perburuan langsung telur dan penyu dewasa masih menjadi masalah serius. Di Indonesia, penyu hijau dan penyu sisik masih terus diburu untuk telur dan karapasnya. Data WWF menunjukkan populasi penyu sisik menurun lebih dari 80% dalam 100 tahun terakhir.
Rantai Dampak Akibat Hilangnya Penyu dari Lautan
Kepunahan penyu akan memicu efek domino yang merusak seluruh ekosistem laut dan bahkan daratan pesisir. Hilangnya penyu hijau akan menyebabkan padang lamun menjadi terlalu lebat dan tidak sehat, mengurangi habitat penting bagi ikan, kerang, dan krustasea. Kepunahan penyu sisik akan mengakibatkan spons mendominasi terumbu karang, mengurangi keanekaragaman hayati dan kesehatan terumbu karang yang menjadi rumah bagi ribuan spesies laut.
Tanpa penyu belimbing, populasi ubur-ubur dapat meledak, mengganggu ketersediaan plankton dan berdampak negatif pada populasi ikan yang lebih kecil, yang pada gilirannya memengaruhi predator yang lebih besar. Penyu juga merupakan sumber makanan penting bagi predator lain, terutama pada tahap telur dan tukik. Selain itu, pantai dan sistem bukit pasir akan kehilangan sumber nutrisi penting dari telur penyu, yang dapat menghambat pertumbuhan vegetasi penstabil pantai dan meningkatkan risiko erosi.
Penyu berfungsi sebagai spesies indikator kesehatan laut. Penurunan populasi mereka sering kali mencerminkan masalah lingkungan yang lebih besar seperti polusi air, hilangnya habitat, penangkapan ikan berlebihan, dan perubahan iklim. Hilangnya penyu berarti hilangnya salah satu "termometer" utama kesehatan laut. Insiden di Raja Ampat adalah pengingat menyakitkan bahwa upaya konservasi harus terus diperkuat melalui penegakan hukum yang tegas, edukasi masyarakat, serta partisipasi aktif dalam upaya konservasi.