Liputan6.com, Jakarta - Wajib dan penting, tapi masyarakat belum sadar tentang dana darurat. Dana darurat adalah tabungan yang dananya berasal dari penghasilan yang disisihkan. Seperti kata darurat, dana ini untuk kebutuhan yang bersifat mendadak, darurat, sangat penting.
Perencana keuangan sekaligus pendiri dan CEO PT Cerdas Keuangan Indonesia, Mohamad Andoko menuturkan, masyarakat Indonesia hanya memiliki dana darurat satu hingga dua minggu, yang merupakan jumlah yang belum ideal."
Advertisement
"Ternyata risetnya menyatakan bahwa masyarakat Indonesia itu cuma punya dana darurat satu minggu sampai dua minggu saja. Padahal idealnya itu tiga sampai enam kali saja dari belanja bulan atau biaya hidup bulanan," ujar dia.
Andoko membeberkan, ketidakpahaman masyarakat baru terlihat saat pandemi COVID-19, di mana banyak yang menghadapi peristiwa yang tidak diprediksi sebelumnya.
“Tadi saya bilang, ternyata faktanya banyak sekali masyarakat Indonesia cuma punya satu sampai minggu, bayangkan. Nah, itu kenapa? Itu baru ketahuan pada saat waktu COVID kemarin,” kata Andoko, Selasa (15/9/2026).
Sementara, perencana keuangan, Andy Nugroho, menyatakan dana darurat ini penting untuk kejadian tak terduga yang dananya tidak kita alokasikan, seperti kecelakaan, penyakit, musibah, hingga pandemi.
"Sebagai ‘penyelamat’, ‘jaring pengaman’, atau apapun istilahnya, yang membantu kita untuk tetap dapat memenuhi kebutuhan yang penting dan tiba-tiba datang, padahal sebenarnya tidak kita alokasikan budget-nya," kata dia.
Selain itu, Andoko menuturkan, dana darurat bisa memberikan efek positif secara psikologis karena ada rasa aman.
"Sebenarnya juga, dana darurat, kalau dia punya, dia bisa memberikan itu, ketenangan psikologis, atau keamanan psikologis buat dia," kata Andoko.
Berapa yang Harus Disisihkan untuk Dana Darurat?
Menurut Andoko, penyisihan dana darurat dapat dilakukan bertahap, dan idealnya berada di kisaran penyisihan tiga hingga enam kali gaji untuk individu yang belum berpasangan. Bagi yang sudah berpasangan bisa menambah ke angka enam hingga sembilan kali, dan bertahap naik ke sembilan hingga 12 kali.
"Paling tidak, bisa mulai saja dulu dari satu, dua, tiga, sampai, yang idealnya, terus tiga sampai enam. Kalau dia masih single, walaupun proporsional juga bisa ya,” kata Andoko.
"Tapi biasanya ada juga orang yang merasa, ah kayaknya mesti nambahin, karena double keluarga, jadi enam sampai sembilan. Begitu menikah, punya anak, sembilan sampai 12," ujar dia.
Sementara, Andoko berpendapat, untuk yang gajinya tidak tetap, seperti pekerja lepas, pedagang, dan lainnya, alokasi dana darurat justru harus lebih besar.
"Sebenarnya, dia enggak punya, enggak punya gaji tetap. Dia justru harus paling tidak, punyanya lebih besar," tutur Andoko.
Di sisi lain, Andy mengatakan, menurutnya bagi individu belum berpasangan sebaiknya menyisihkan tiga kali penghasilan bulanan, dan yang sudah berpasangan lima kali penghasilan bulanan.
“Bagi single idealnya punya tiga kali penghasilan bulanan. Bagi yang sudah berkeluarga idealnya punya lima kali penghasilan bulanan,” dia mengungkap.
Bagaimana Mulai Menyiapkan Dana Darurat?
Andoko maupun Andy menilai, kunci dari memiliki dana darurat adalah disiplin. Keduanya setuju individu harus memulai dengan menyisihkan 10% dari penghasilan bulanan.
"Idealnya sisihkan 10% dari penghasilan bulanan,” ucap Andy.
Sementara, Andoko mencontohkan mulai dari hal yang kecil-kecil, jadi menyisihkan cuma 10%, (dari) 10%, lama-lama, misalnya contoh, gaji Rp 3 juta, dan disisihkan Rp 300 ribu.
"Begitu naik gajinya misalnya jadi, 4 juta enggak mesti harus juga jadi empat juta, hanya mungkin jadi tiga juta, di naik lagi tuh bisa satu juta (menyisihkannya)," ia menambahkan.
Keduanya juga mengatakan, dana darurat sebaiknya disimpan di instrumen investasi yang likuiditas tinggi, seperti rekening bank, deposito, logam mulia, reksa dana berbasis pasar uang ataupun berbasis pendapatan tetap. Alasannya adalah agar terhindar dari risiko investasi yang volatil.
“Sebaiknya di instrumen investasi yang bersifat likuid dan resikonya rendah. Hal ini untuk meminimalisasi uang yang kita kumpulkan tergerus risiko investasi, dan harus yang likuid agar bila sewaktu-waktu dana tersebut diperlukan maka dengan gampang dapat dicairkan kembali,” kata Andy.
Tahapan Siapkan Dana Darurat
Berikut adalah tahapan untuk mulai mengumpulkan dana darurat menurut Andoko:
- Hitung biaya bulanan secara realistis
- Bedakan antara kebutuhan dan keinginan
- Tentukan target
- Buat secara sistematis dan otomatis (autodebet)
- Lakukan bertahap dan konsisten