Stok Beras Menyusut, Dirut Bulog Buka Suara

Stok cadangan beras Bulog turun ke 4,72 juta ton usai distribusi masif. Dirut Bulog pastikan mutu beras tetap terjaga.

oleh Idris Rusadi PutraDiterbitkan 15 September 2026, 12:25 WIB
Pekerja melakukan aktivitas bongkar muat karung berisi beras di Gudang Bulog Divisi Regional DKI Jakarta, Kelapa Gading. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Liputan6.com, Jakarta - Perum Bulog mencatat cadangan beras pemerintah (CBP) di gudang tersisa 4,722 juta ton per 14 September 2026. Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyampaikan bahwa volume tersebut menyusut dari posisi sebelumnya di kisaran 5,4 juta ton lantaran tingginya distribusi program bantuan pangan sepanjang tahun berjalan.

"Total stok beras Bulog sekarang yang ada di gudang sudah turun, yang kemarin 5,4 juta ton, sekarang tinggal 4,722 juta ton. Kenapa angkanya jadi turun? Karena sudah banyak yang didistribusikan," kata Rizal di Jakarta, dikutip dari Antara, Selasa (15/9/2026).

Penyusutan stok tersebut didorong oleh penyaluran bantuan beras tahap pertama pada Februari–Maret 2026 yang menyerap sekitar 600 ribu ton untuk 33,2 juta keluarga penerima manfaat (KPM). Distribusi dilanjutkan pada tahap kedua periode Juli–September 2026 yang menembus hampir 1 juta ton.

Dalam program ini, tiap KPM mendapat alokasi 10 kilogram beras per bulan. Khusus penyaluran tahap kedua, distribusi dilakukan secara serentak atau dirapel agar penyerahannya tuntas pada September.

Di samping bantuan pangan, Bulog juga menggelontorkan sekitar 800 ribu ton beras melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sejak awal tahun hingga September 2026. Besarnya realisasi distribusi ini membuktikan CBP dimaksimalkan untuk menjaga pasokan pasar sekaligus menekan lonjakan harga.

"Jadi keluarnya cukup banyak, alhamdulillah ini untuk menjaga stabilitas harga beras di masyarakat," ucap Rizal.

Strategi Menjaga Mutu Beras

Pekerja melakukan aktivitas bongkar muat karung berisi beras di Gudang Bulog Divisi Regional DKI Jakarta, Kelapa Gading. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Guna menjaga mutu cadangan beras selama tersimpan di gudang, Bulog menerapkan pola perawatan bertahap. Pengawasan kondisi beras dilakukan lewat inspeksi harian, mingguan, bulanan, hingga evaluasi tiap semester. Tata letak serta rotasi posisi beras, baik di tumpukan atas maupun bawah—diatur dengan ketat agar kualitasnya tidak menurun.

Khusus untuk stok beras yang mengalami penurunan mutu setelah disimpan lebih dari delapan bulan, Bulog menempuh jalur hilirisasi dengan mengolahnya menjadi tepung beras. Kebijakan ini telah disepakati melalui rapat koordinasi terbatas bersama Kementerian Koordinator Bidang Pangan dan instansi terkait, di mana sekitar 380 ribu ton beras turun mutu akan dialihkan ke industri tepung lewat mekanisme lelang.

Pada saat yang sama, Bulog terus menyerap gabah dan beras dari petani lokal dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Rp6.500 per kilogram. Langkah ini dijalankan sepanjang tahun untuk membendung jatuhnya harga di tingkat petani, memperkuat cadangan nasional, serta menjaga ketahanan pangan.

"Penyerapan gabah yang kami lakukan merupakan penugasan negara. Selama masih terdapat hasil panen petani yang harus diserap sesuai ketentuan, Bulog akan terus hadir menjalankan tugas tersebut secara konsisten sepanjang tahun," kata Rizal.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya