Turki Punya Pesawat Antariksa Bulan Pertama, Siap Uji Misi di 2027

Turki bersiap menjadi negara ke-9 yang menjalankan misi ke Bulan dengan pesawat antariksa pertamanya.

oleh Septian DenyDiterbitkan 15 September 2026, 18:29 WIB
Ilustrasi roket pesawat antariksa. (Dok. AP Photo/John Raoux)

Liputan6.com, Ankara - Turki telah menyelesaikan produksi dan perakitan pesawat antariksa pertamanya yang ditujukan untuk misi ke Bulan. Wahana seberat 3,5 metrik ton tersebut kini telah diserahkan kepada Turkish Aerospace Industries (TAI) untuk menjalani serangkaian pengujian lingkungan.

Dikutip dari Anadolu, Selasa (15/9/2026), Menteri Perindustrian dan Teknologi Turki, Mehmet Fatih Kacir, mengatakan wahana tersebut dijadwalkan diluncurkan dari Kennedy Space Center pada awal 2027. Setelah diluncurkan, wahana diperkirakan membutuhkan waktu sekitar dua bulan untuk mencapai orbit polar setinggi 100 kilometer di sekitar Bulan.

Setibanya di orbit, wahana akan beroperasi selama tiga bulan. Masa operasinya berpotensi diperpanjang hingga satu setengah tahun. Dalam periode tersebut, berbagai kondisi dan fenomena di lingkungan Bulan akan diteliti, termasuk angin Matahari, pembentukan air, medan magnet, serta radiasi permukaan. Seluruh pengamatan akan dilakukan menggunakan instrumen ilmiah yang dikembangkan di dalam negeri.

Menurut Kacir, upaya tersebut merupakan bagian dari ambisi Turki untuk mewujudkan “Turki yang sepenuhnya mandiri dalam teknologi-teknologi kritis”, mengikuti pendekatan yang sebelumnya diterapkan negara tersebut dalam industri pertahanan.

Pesawat antariksa ini juga memanfaatkan sejumlah sistem penting yang telah dikembangkan melalui proyek satelit Imece dan Turksat 6A sebelumnya. Sistem tersebut mencakup teknologi penerbangan, komunikasi, dan daya. Secara keseluruhan, wahana ini memiliki tingkat produksi dalam negeri sebesar 80 persen.

“Pengujian selanjutnya akan memverifikasi kemampuan wahana antariksa untuk bertahan menghadapi kondisi berat yang akan ditemuinya selama peluncuran dan di lingkungan antariksa,” ujar Kacir.

Setelah pengujian tersebut, wahana akan dipindahkan ke fasilitas cleanroom baru milik Turkish Scientific and Technological Research Institution (Tubitak) Space untuk menjalani pemeriksaan akhir.

Untuk melakukan manuver peningkatan orbit, wahana akan menggunakan sistem propulsi hibrida yang dikembangkan di dalam negeri. Sistem tersebut juga akan digunakan untuk melakukan pembakaran perlambatan terkendali pada tahap akhir, yang ditujukan untuk membawa wahana menuju permukaan Bulan di penghujung misi ilmiah utamanya.

“Sejauh ini, hanya delapan negara yang telah menjalankan misi ke Bulan, dan ketika kami melaksanakan program ini, Turki akan menjadi negara kesembilan,” kata Kacir.

 

Bergabung dengan Artemis Accords

Perkembangan ini berlangsung setelah Turki baru-baru ini bergabung dengan Artemis Accords, sebuah kesepakatan yang ditandatangani untuk mendorong kerja sama global dalam eksplorasi damai terhadap Bulan dan luar angkasa.

Di sektor satelit, pengembangan satelit komunikasi Turksat 7A juga telah dimulai. Pada saat yang sama, Turki memasuki tahap desain untuk konstelasi satelit observasi Bumi Imece-2 dan Imece-3.

Tidak berhenti pada pengembangan wahana dan satelit, Ankara juga tengah membangun sebuah bandar antariksa di Somalia. Fasilitas tersebut nantinya ditujukan untuk menyediakan akses mandiri ke luar angkasa sekaligus mengurangi ketergantungan pada fasilitas peluncuran milik negara lain.

Pemerintah Turki juga bekerja sama dengan Turkish Space Agency dan Middle East Technical University (METU) untuk membangun zona pengembangan teknologi antariksa di Ankara. Kawasan tersebut ditujukan untuk memperluas pertumbuhan pesat industri pertahanan Turki ke sektor antariksa dengan mengintegrasikan lebih banyak perusahaan rintisan teknologi ke dalam ekosistem manufaktur antariksa nasional.

Berbagai kemampuan yang terus berkembang tersebut akan ditampilkan kepada dunia dalam International Astronautical Congress (IAC 2026). Kota Antalya di pesisir barat daya Turki akan menjadi tuan rumah kongres ke-77 tersebut pada 5-9 Oktober, dengan hampir 10.000 peserta dari berbagai negara diperkirakan hadir.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya