Dua Hari Dua Malam Berburu Solar

Di saat konsumsi Biosolar Lampung meroket hingga menembus 108 persen dari kuota, roda logistik Sumatra pun terpaksa tersendat di pelataran SPBU.

oleh Ardi MuntheDiterbitkan 15 September 2026, 10:40 WIB
Antrean panjang kendaraan angkutan barang kembali terjadi di sejumlah SPBU di Kota Bandar Lampung. (Liputan6.com/Ardi Munthe).

Liputan6.com, Jakarta - Mesin truk dimatikan, namun gelisah tak kunjung padam. Di SPBU 24.351.30 Jalan Soekarno-Hatta (Bypass), Kelurahan Labuhan Ratu Raya, Bandar Lampung, deretan truk logistik mengular panjang hingga memakan bahu jalan pada Selasa, 15 September 2026.

Bagi para pengemudi angkutan barang, ruang sempit di pelataran stasiun pengisian BBM itu telah berubah fungsi menjadi ruang tunggu yang melelahkan.

Riski adalah salah satunya. Wajahnya lesu setelah sekitar empat jam mengantre hanya untuk mendekati nozel pengisian Biosolar. Di kepalanya, ada kecemasan yang terus berputar, bagaimana jika pasokan di tangki pendam SPBU mendadak ludes sebelum gilirannya tiba?

"Mudah-mudahan enggak habis solarnya," tutur Riski.

Kecemasan Riski bukan mengada-ada. Kalau nasib apes menghampiri dan stok habis, ia tak punya pilihan selain mematikan total mesin dan pasrah.

"Kalau habis ya kemungkinan bisa nunggu sampai besok. Mau enggak mau, kita kan harus nunggu."

Perbandingan pahit pun terlintas di benak Riski saat mengingat pengalamannya melintas di ibu kota. Di Lampung, pembelian solar subsidi untuk kendaraan angkutan dibatasi maksimal Rp1,2 juta per mobil.

"Kalau di Jakarta kan memang enggak dibatesin, tapi pakai barcode gitu," jelasnya.

Jika Riski baru menghabiskan durasi hitungan jam, cerita Supri jauh lebih getir. Bagi sopir truk lintas provinsi ini, antrean solar tak lagi diukur dengan jam, melainkan hitungan hari. Kabin truk yang panas dan sempit resmi menjadi rumah sementara baginya.

"Saya sudah dua hari dua malam di sini," kata Supri seraya menyandarkan badan di kabinnya. Antrean di Jalan Soekarno-Hatta ini bahkan belum seberapa. Pengalaman paling ekstrem pernah ia jalani di kawasan Kota Baru.

"Di sana bisa empat hari empat malam menginap di mobil. Itu pun kadang dapat, kadang enggak."

Padahal, tugas besar sudah menanti di depan mata. Beban muatan yang diangkutnya harus segera diantarkan melintasi rute antarkota menuju Padang, Sumatra Barat. Namun alih-alih melaju di jalan lintas, waktunya justru terbuang percuma di pelataran SPBU. "Ini aja habis ngisi langsung bongkaran ke Padang," cetusnya.

 

Pertamina Ada Pemotongan Pasokan Biosolar

Antrean kendaraan pribadi di SPBU. (Liputan6.com/ Yuliardi Hardjo)

Dari sudut pandang penyedia energi, PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel membantah adanya kebijakan pemotongan pasokan Biosolar di wilayah Lampung.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, Rusminto Wahyudi, menjelaskan bahwa persoalan utama dipicu oleh lonjakan konsumsi masyarakat yang luar biasa tinggi.

Sepanjang 2026, realisasi penyaluran solar subsidi di Lampung melesat hingga menembus 108 persen dari kuota proporsional yang ditetapkan.

Data Pertamina mencatat, pada periode Januari hingga April 2026, rata-rata penyaluran Biosolar berada di angka 2.178 kiloliter (KL) per hari. Angka ini melonjak 14,9 persen menjadi 2.503 KL per hari pada periode Mei hingga Agustus 2026. Jika diakumulasikan, sepanjang Januari-Agustus 2026 konsumsi Biosolar di Lampung menembus 569.332 KL—naik 11,7 persen dibanding rentang periode yang sama di tahun sebelumnya.

Untuk mengurai kepadatan, Pertamina mengubah pola pengiriman dengan memprioritaskan penyaluran ke SPBU berkonsumsi tinggi serta mengencangkan pengawasan BBM subsidi.

Langkah penertiban pun diambil bagi pihak yang nekat berbuat curang.

"Sepanjang 2026, kami telah melakukan pembinaan terhadap 69 SPBU di Provinsi Lampung. Selain itu, sebanyak 2.793 QR Code juga telah diblokir karena berdasarkan hasil evaluasi terindikasi tidak sesuai ketentuan," tegas Rusminto.

 

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya