Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berlawanan pada pekan lalu. Pada pekan ini, apa saja yang akan menjadi perhatian di pasar keuangan?
Mengutip riset Syailendra Capital, Selasa (15/9/2026), ada sejumlah sentimen global dan internal yang mempengaruhi pasar keuangan pekan lalu. Pertama, Indonesia merilis beberapa data domestik Agustus 2026 antara lain cadangan devisa sebesar US$ 146,5 miliar dari bulan lalu US$ 145,3 miliar dan penjualan ritel YoY naik 1,1% dari sebelumnya minus 3%.
Advertisement
Selain itu, Kementerian Keuangan juga memperpanjang jatuh tepo dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) Rp 200 triliun yang ditempatkan di bank-bank Himbara hingga Juli 2027. Hal ini untuk meringankan tekanan likuiditas jangka pendek seiring Loan to Deposit Ratio (LDR) Himbara yang naik menjadi 90,93% pada Juni 2026 dari Desember 2025 sebesar 89,43%.
Di sisi lain, Pemerintah Indonesia tengah mengevaluasi pasokan crude palm oil (CPO) dan kapasitas produksi untuk rencana penerapan bahan bakar biodiesel B60 pada 2027.
Di sisi lain, harga Brent melonjak 6% menyentuh US$ 109,97, tertinggi dalam empat bulan setelah Houthi merebut kendali Pelabuhan Mocha di Yaman. Hal itu mengancam ekspor minyak Saudi di Laut Merah sebagai front kedua selain Hormuz. Hal ini memicu kenaikan imbal hasil surat pemerintah Amerika Serikat (AS). Imbal hasil surat pemerintah AS bertenor 10 tahun mencapai 4,97%, tenor 20 tahun 5,39% dan 30 tahun sebesar 5,37%.
Selain itu, Departemen Keuangan Amerika Serikat mengumumkan pelaksanaan operasi pembelian kembali atau buyback hingga US$ 6 miliar atau Rp 105,87 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.650).
Amerika Serikat merilis inflasi Agustus 2026 yang tercatat 0,4% MoM dari sebelumnya 0,1% MoM dan konsensus 0,4% MoM. Seiring hal itu, probabilitas kenaikan suku bunga the Federal Reserve pada rapat 16 September 2026 menurut Fed Watch tool naik ke level 87,3%.
Pergerakan Rupiah dan IHSG
Lalu bagaimana dengan nilai tukar rupiah dan IHSG pekan lalu?
Pekan lalu, nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar AS sebesar 0,21% ke level 17.607. Selain itu, indeks dolar AS turun ke level 99.
Di pasar obligasi, surat utang atau obligasi dengan tenor 10 tahun naik ke level 7,16% yang diikuti dengan aliran dana keluar sebesar Rp 2,04 triliun pada pekan lalu. Obligasi AS bertenor 10 tahun naik ke level 4,96% pekan lalu.
Di pasar saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) susut 1,43% pada pekan lalu ke level 6.541 dengan aliran dana keluar Rp 2,67 triliun.
Sementara itu, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street melemah pada pekan lalu. Indeks Nasdaq dan indeks S&P 500 masing-masing turun 1,6%. Indeks Dow Jones tergelincir 2,5%.
Lalu apa yang dicermati pekan ini?
Pekan ini, di Amerika Serikat pada 16 September 2026 akan rilis data penjualan ritel. Kemudian esoknya pada 17 September 2026 rilis keputusan suku bunga acuan the Federal Reserve atau the Fed.