Respons Hyrox Usai Viral Atlet Cepirit di Tengah Pertandingan

Hyrox meminta maaf atas insiden atlet buang air saat lomba di Beijing yang memicu kritik.

oleh Septian DenyDiterbitkan 15 September 2026, 11:00 WIB
Seorang atlet perempuan menjadi sorotan dalam ajang kebugaran Hyrox Beijing setelah diduga mengalami inkontinensia feses saat bertanding. (Sumber: Instagram @shanghaidaily)

Liputan6.com, Beijing - Jenama olahraga internasional Hyrox meminta maaf setelah mendapat kecaman karena membiarkan seorang atlet tetap menyelesaikan perlombaan di Beijing meski buang air di tengah pertandingan.

Dikutip dari BBC, Selasa (15/9/2026), rekaman video yang memperlihatkan atlet perempuan tersebut mengikuti kompetisi kebugaran dalam ruangan memicu kekhawatiran terkait kebersihan. Keputusan panitia yang tetap membiarkannya melanjutkan perlombaan juga dipertanyakan.

Setelah gelombang kritik bermunculan, salah satu pendiri Hyrox, Moritz Fürste, menyampaikan permintaan maaf kepada semua pihak yang terdampak, baik “secara langsung maupun tidak langsung”, akibat insiden tersebut.

Ia mengatakan Hyrox tengah berupaya melakukan perubahan aturan secara segera.

Dalam pernyataan yang diunggah melalui Instagram, Fürste mengakui bahwa Hyrox “tidak menangani situasi tersebut sebagaimana seharusnya”.

Ia juga menerima tanggung jawab karena gagal mengantisipasi kejadian tersebut dan berkomitmen untuk “memperbaiki proses penyelenggaraan acara” guna “mencegah situasi seperti ini terjadi lagi”.

Namun, seorang pakar mengatakan kepada BBC bahwa keputusan membiarkan atlet tersebut melanjutkan perlombaan dapat mencerminkan sikap di dalam perusahaan yang menempatkan hasil pertandingan di atas faktor-faktor penting lainnya.

Atlet Jadi Sasaran Ancaman

Sebelumnya, Hyrox juga memperingatkan para pengguna media sosial agar tidak melakukan pelecehan maupun mengancam atlet tersebut setelah identitasnya tersebar di internet.

“Tidak ada tempat dalam komunitas kami untuk ancaman kekerasan atau dorongan untuk menyakiti seorang atlet,” kata Hyrox dalam pernyataan sebelumnya pada Senin.

“Setiap orang yang terbukti melakukan perilaku tersebut, baik melalui komentar, pesan langsung maupun media sosial, akan dilarang secara permanen dari seluruh acara Hyrox,” lanjut pernyataan itu.

Hyrox mengatakan pihaknya sebenarnya telah memiliki “prosedur biokontaminan dan medis yang jelas”.

Namun, menurut perusahaan olahraga asal Jerman tersebut, “situasi yang tidak terduga terjadi” dan membuat protokol yang ada menjadi tidak jelas. Kondisi itu menciptakan “ketidakjelasan dalam bagaimana prosedur tersebut diterapkan dan dipahami”.

Setelah perlombaan pada Sabtu, sejumlah peserta dilaporkan menuntut permintaan maaf dan pengembalian biaya. Mereka beralasan terpaksa bersentuhan dengan peralatan yang telah terkontaminasi, menurut media China.

Joe Ho, salah satu peserta kompetisi Hyrox Beijing pada akhir pekan lalu, mengkritik respons organisasi terhadap persoalan tersebut.

Ia meminta Hyrox “bertanggung jawab ketika prosedurnya sendiri gagal”.

“Jika organisasi menerima bahwa ada sesuatu yang salah, mengapa tidak menawarkan pengembalian uang, kredit, atau bentuk kompensasi yang berarti kepada peserta yang terdampak?” tulisnya.

 

Komersialisasi Olahraga

Anthony Huang, profesor madya di Departemen Informasi dan Komunikasi Olahraga National Taiwan University of Sport, mengatakan kepada BBC Chinese bahwa insiden tersebut dapat mencerminkan “sikap yang berorientasi pada hasil” dalam tubuh Hyrox yang berkembang pesat.

“Gagasan bahwa ‘kemenangan adalah kemenangan’ mencerminkan pandangan kompetisi yang berorientasi pada hasil, tetapi budaya olahraga yang matang tidak bisa hanya bertanya apakah Anda menang, tetapi juga harus bertanya bagaimana Anda menang,” katanya.

Menurut Huang, insiden tersebut juga menimbulkan pertanyaan mengenai model bisnis Hyrox dan apakah komersialisasi olahraga tersebut berkembang lebih cepat dibandingkan kemampuan organisasi dalam mengelolanya.

Dalam setiap perlombaan Hyrox, peserta secara bergantian berlari sejauh satu kilometer dan melakukan berbagai latihan kebugaran. Di antaranya adalah mendorong kereta luncur, lompatan burpee, mendayung dalam ruangan, serta melakukan lunge sambil membawa karung pasir.

Kompetisi tersebut berkembang pesat sejak didirikan di Hamburg, Jerman, pada 2017 dan kini digelar di berbagai negara. Hyrox mulai hadir di China daratan pada akhir 2024.

Bukan Hal yang Sepenuhnya Baru bagi Atlet Daya Tahan

Sejumlah pihak mempertanyakan mengapa petugas pertandingan di Beijing akhir pekan lalu tidak turun tangan ketika atlet tersebut buang air di tengah perlombaan.

Pertanyaan itu muncul karena Hyrox memberikan penalti untuk sejumlah tindakan, termasuk “meludah, membersihkan lubang hidung, membuang sampah, dan menyalahgunakan air”.

Namun, sejumlah anggota komunitas kebugaran juga menunjukkan bahwa kejadian semacam itu bukan sesuatu yang sepenuhnya asing bagi atlet olahraga ketahanan.

Pada 2005, pelari maraton Inggris Paula Radcliffe pernah berhenti di sekitar jarak 22 mil dalam London Marathon untuk buang air di pinggir jalan, di depan kamera, sebelum melanjutkan lomba dan akhirnya memenanginya.

Saat berbicara kepada BBC ketika itu, Radcliffe menyebut kejadian tersebut sebagai “kebutuhan yang memalukan”.

“Ketika saya bertanding, saya sepenuhnya fokus untuk memenangkan perlombaan dan berlari secepat mungkin,” katanya.

Awal tahun ini, pelari maraton China Li Meizhen juga menjadi sorotan setelah melewati garis finis Hengshui Lake Marathon dengan darah menstruasi terlihat di kakinya.

 

Hyrox Makin Populer di China

Hyrox berkembang dengan cepat di China. Sejumlah pusat kebugaran di berbagai wilayah ikut memanfaatkan tren tersebut.

Menurut kantor berita pemerintah China, Xinhua, lebih dari 500 pusat kebugaran yang berafiliasi dengan Hyrox kini menawarkan pelatihan khusus Hyrox.

Tingginya permintaan bahkan membuat penyelenggara perlombaan di Beijing menambahkan satu hari tambahan. Kompetisi tersebut akhirnya berlangsung selama empat hari untuk memberikan ruang bagi lebih banyak peserta.

Namun, di tengah pertumbuhan pesat tersebut, insiden di Beijing kini memicu pertanyaan mengenai bagaimana Hyrox menangani keselamatan, kebersihan, serta penerapan prosedur ketika situasi tak terduga terjadi dalam perlombaan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya