Umrah Plus Uzbekistan, Jemaah Bisa Napak Tilas Jejak Imam Bukhari hingga Bahauddin Naqsyaband

Menteri Haji dan Umrah (Menhaj), Mochammad Irfan Yusuf, mengatakan Uzbekistan memiliki kedekatan sejarah dan spiritual dengan masyarakat Indonesia.

oleh Asnida RianiDiterbitkan 15 September 2026, 07:00 WIB
Masjid Bibi Khanym di Samarkand, Uzbekistan. (Dok. Pixabay)

Liputan6.com, Jakarta - Perjalanan umrah jemaah Indonesia berpeluang memiliki pilihan destinasi baru. Uzbekistan menarik dilirik sebagai tujuan umrah plus yang memadukan ibadah dengan wisata religi, sejarah, dan peradaban Islam di Samarkand, serta Bukhara.

Menteri Haji dan Umrah (Menhaj), Mochammad Irfan Yusuf, mengatakan Uzbekistan memiliki kedekatan sejarah dan spiritual dengan masyarakat Indonesia. Jejak ulama dari Asia Tengah, seperti Imam Bukhari dan Bahauddin Naqsyaband, juga memiliki pengaruh kuat dalam tradisi keislaman di Indonesia.

"Imam Bukhari merupakan guru spiritual bagi banyak orang di Indonesia. Di Bukhara ada Imam Bahauddin An-Naqsyabandi yang juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia," kata Menhaj dalam keterangannya saat bertemu Ketua Komite Pariwisata Uzbekistan Abdulaziz Akkulov di Tashkent, Senin, 8 September 2026.

Irfan menilai, perjalanan ke Uzbekistan dapat memberikan pengalaman berbeda dari pola wisata umrah plus yang selama ini banyak memilih Turki, Dubai, atau negara lain di kawasan Timur Tengah. Uzbekistan menawarkan pendekatan wisata religi yang lebih dekat dengan sejarah intelektual Islam.

"Umrah plus Uzbekistan merupakan tawaran yang menarik bagi jemaah umrah," sebut Irfan.

Samarkand menjadi salah satu kota yang dapat masuk dalam rencana perjalanan tersebut. Kota ini memiliki keterkaitan dengan sejarah keilmuan Islam, sekaligus menyimpan berbagai peninggalan peradaban yang dapat memperkaya pengalaman wisatawan Indonesia.

Bukhara menawarkan pengalaman serupa dengan karakter yang lebih kuat pada tradisi pendidikan Islam. Kota tersebut dikenal sebagai salah satu pusat keilmuan yang melahirkan dan menjadi tempat berkembangnya pemikiran para ulama besar.

 

Warisan Bukhara

Bukhara, Uzbekistan. (Gambar: Evgeny Matveev/Unsplash)

Warisan keilmuan menjadi salah satu identitas penting kota tersebut. Madrasah-madrasah di Bukhara sejak berabad-abad lalu menjadi tempat belajar ulama dari berbagai daerah, termasuk dari luar Uzbekistan.

"Bukhara memiliki seni arsitektur yang berumur lebih dari 1.000 tahun. Selain itu, kebanggaan Bukhara ada pada tradisi keilmuan. Madrasah-madrasah di Bukhara banyak mendidik ulama lokal dan mancanegara," ujarnya.

Kunjungan ke Bukhara juga dapat memperkenalkan jemaah pada jejak Bahauddin Naqsyaband, tokoh yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan Tarekat Naqsyabandiyah. Tradisi tersebut memiliki pengikut yang cukup besar di Indonesia dan menjadi salah satu penghubung spiritual antara masyarakat kedua negara.

Irfan juga melihat peluang menghadirkan program wisata religi yang lebih tematik selama Ramadan. Ia mencontohkan tradisi pesantren Indonesia yang mengkhatamkan Shahih Bukhari pada bulan suci tersebut. "Akan menarik jika sebagian kegiatan itu dilakukan di sini," katanya.

 

Pendalaman Tradisi Keilmuan

Menteri Haji dan Umrah (Menhaj), Mochammad Irfan Yusuf, bertemu Ketua Komite Pariwisata Uzbekistan Abdulaziz Akkulov di Tashkent, 8 September 2026. (dok. Biro Humas Kementerian Haji dan Umrah)

Konsep tersebut dapat membawa wisatawan Indonesia lebih dekat dengan sejarah hadis melalui pengalaman belajar langsung di kawasan yang memiliki hubungan dengan Imam Bukhari. Perjalanan tidak hanya berfokus pada kunjungan ke bangunan bersejarah, tapi juga dapat menghadirkan aktivitas pendidikan dan pendalaman tradisi keilmuan.

Pengembangan umrah plus Uzbekistan membutuhkan konektivitas yang memadai. Pemerintah Indonesia dan Uzbekistan membahas peluang membuka penerbangan langsung antara kedua negara untuk memperbesar mobilitas wisatawan.

Ketua Komite Pariwisata Uzbekistan, Abdulaziz Akkulov, menyambut gagasan tersebut. Ia menyebut kebijakan bebas visa bagi warga Indonesia sejak 2017 sebagai salah satu modal untuk meningkatkan kunjungan wisatawan.

"Dalam delapan bulan terakhir, jumlah wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Uzbekistan terus meningkat dan bahkan telah melampaui jumlah wisatawan asal Malaysia," ujar Abdulaziz.

 

Promosi Pariwisata

Bukhara, Uzbekistan | unsplash.com

Pemerintah Uzbekistan juga ingin memperluas promosi pariwisata bersama dengan Indonesia. Kolaborasi tersebut dapat memperkenalkan Uzbekistan sebagai destinasi wisata religi baru bagi masyarakat Indonesia, sekaligus mendorong wisatawan Uzbekistan mengenal destinasi di Indonesia.

Pengembangan rute tersebut juga berpotensi diperkuat ekosistem industri halal dan sistem pembayaran digital. Bank Indonesia dan Bank Sentral Uzbekistan tengah membahas kemungkinan penggunaan QRIS dan UzQR untuk memudahkan transaksi wisatawan kedua negara.

Peluang itu membuat Uzbekistan tidak hanya hadir sebagai tambahan destinasi setelah umrah. Negara tersebut berpotensi menjadi ruang perjalanan yang mempertemukan ibadah, sejarah, pendidikan Islam, dan pengalaman budaya dalam satu rangkaian wisata. 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya