Liputan6.com, Kyiv - Sebuah kereta yang membawa mantan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dan mantan Direktur CIA David Petraeus diduga menjadi salah satu sasaran serangan drone yang menghantam sebuah lokomotif kereta di dekat perbatasan Polandia-Ukraina.
Rusia diduga ada dibalik serangan tersebut, meski belum ada tanggapan dari Moskow mengenai hal ini.
Advertisement
Dikutip dari The Guardian, Senin (14/9/2026), menurut Ukrainian Railways, kereta yang membawa sejumlah penasihat keamanan dari negara-negara Eropa, termasuk Johnson dan Petraeus, melintasi perlintasan perbatasan sesaat sebelum serangan drone terjadi.
Perusahaan kereta api tersebut mengatakan ada kemungkinan drone itu memang menargetkan kereta diplomatik tersebut. Kereta dilaporkan berangkat dari stasiun lebih awal dari jadwal sebagai bagian dari penyesuaian jadwal secara langsung akibat ancaman serangan Rusia yang terus berlangsung.
Johnson mengatakan dirinya tidak mengetahui alasan di balik serangan tersebut. Namun, ia mengecam tindakan Rusia yang menghantam sebuah lokomotif Ukraina yang sedang berhenti di dekat perbatasan Polandia.
“Yang bisa kita pastikan, ini adalah jenis serangan acak dan tidak masuk akal yang dihadapi warga Ukraina setiap hari, bahkan di jalur kereta api sipil,” tulis Johnson di X.
Serangan Besar-besaran Melanda Ukraina
Serangan semalam di berbagai wilayah Ukraina melibatkan lebih dari 450 drone dan rudal Rusia. Sedikitnya enam orang tewas dan lebih dari 40 lainnya terluka.
Angkatan Udara Ukraina mengatakan telah mencegat 405 drone dan empat rudal.
Ukraina bagian barat, yang biasanya lebih tenang dibandingkan Kyiv maupun wilayah garis depan di timur, menjadi salah satu kawasan yang terkena dampak paling parah.
Serangan tersebut juga memicu peringatan serangan udara di Polandia, yang berbatasan langsung dengan Ukraina bagian barat.
Otoritas Ukraina dan Polandia mengatakan sebuah truk yang berada kurang dari satu kilometer dari perlintasan perbatasan Dorohusk-Yahodyn juga terkena serangan.
Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dari kereta tersebut.
Penumpang Diminta Mengungsi
Katerina Sergatskova, Direktur Daily Humanity, organisasi yang memberikan pelatihan kepada orang-orang yang bekerja di lingkungan berisiko tinggi, berada di dalam kereta menuju Warsawa ketika serangan terjadi.
Ia mengatakan para penumpang diminta mengungsi sekitar pukul 09.00 saat kereta mendekati perbatasan Polandia. Sebelumnya, mereka juga sempat diminta turun dan menunggu selama dua jam di tengah malam.
Menurut Sergatskova, situasi berubah ketika perintah evakuasi kembali diberikan. Para penumpang diminta bergerak dengan sangat cepat.
Ia kemudian mendengar suara drone pertama.
“Melihat dan mendengar Shahed hanya beberapa ratus meter dari perbatasan adalah pengalaman yang sangat tidak menyenangkan,” katanya.
Seorang ekonom asal Inggris yang tidak ingin disebutkan namanya juga menyaksikan serangan tersebut. Ia bepergian menggunakan kereta malam dari Kyiv menuju Chelm, Polandia.
“Kami menghabiskan 10 jam di perbatasan dan dievakuasi tiga kali. Pada evakuasi ketiga, sebuah rudal melintas dan menghancurkan lokomotif di depan kereta kami,” ujarnya.
Petugas kereta kemudian mengarahkan penumpang untuk berlindung di semak-semak di dekat sebuah danau. Sang ekonom menyebut respons Ukraina berlangsung tepat waktu dan disiplin.
Para penumpang, katanya, mendapat peringatan yang cukup mengenai evakuasi dan petugas telah memiliki rencana yang kemudian diikuti semua orang.
Sebelum perjalanan dimulai, kondektur juga telah memperingatkan bahwa ada risiko tinggi penumpang harus dievakuasi selama perjalanan.
Salah seorang penumpang di kompartemennya, seorang ibu bersama putranya yang berusia delapan tahun, mengatakan mereka telah bepergian bolak-balik antara Warsawa dan Kyiv setiap bulan sejak 2022. Namun, mereka belum pernah mengalami evakuasi ataupun serangan terhadap kereta selama perjalanan tersebut.
Menurut sang ekonom, kondisi itu menunjukkan adanya eskalasi baru dalam serangan Rusia.