IHSG Pekan Ini Dibayangi Suku Bunga The Fed dan BoJ, Simak Prediksinya

Proyeksi IHSG pekan ini dibayangi keputusan The Fed dan BoJ yang berpotensi memengaruhi likuiditas global.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 14 September 2026, 13:10 WIB
Layar monitor menunjukkan pergerakan pasar saham di lantai Bursa Efek Indonesia menjelang aktivitas perdagangan, Jakarta. (BAY ISMOYO/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan pekan 7-11 September 2026 dengan koreksi 1,43%. IHSG ditutup di level 6.541,37 setelah sebelumnya sempat mendekati area resistance 6.705.

Tekanan tersebut dinilai sebagai kombinasi aksi ambil untung atau profit taking dan meningkatnya ketidakpastian global. Kenaikan harga minyak serta perhatian investor terhadap arah kebijakan moneter global turut mendorong pelaku pasar bersikap lebih defensif.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi mengatakan sentimen global pada pekan lalu turut dipengaruhi meningkatnya risiko pasokan energi dan perkembangan geopolitik.

OPEC+ memutuskan menahan kenaikan produksi minyak pada Oktober 2026 di tengah gangguan pasokan di Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb. Kondisi tersebut melengkapi penurunan produksi 11 anggota OPEC menjadi 19,71 juta barel per hari pada Agustus akibat ketegangan di kawasan.

Sementara itu, KTT BRICS 2026 menghasilkan New Delhi Declaration. Deklarasi tersebut antara lain menyerukan perlindungan jalur energi global, penolakan sanksi sepihak, dedolarisasi pragmatis melalui transaksi mata uang lokal, serta penguatan rantai pasok.

Perkembangan tersebut turut membuka peluang membaiknya hubungan ekonomi antara India dan China.

Di tengah situasi itu, investor juga menghadapi tekanan inflasi di dua ekonomi utama dunia, Amerika Serikat dan China.

 

Sentimen Global dan Domestik Pengaruhi IHSG

Pekerja mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Di Amerika Serikat, kenaikan harga energi, terutama solar yang meningkat 24,1% secara bulanan dan bensin, mendorong Producer Price Index (PPI) mencapai 5,4% secara tahunan. Inflasi konsumen atau CPI bulanan juga naik menjadi 0,4%.

Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) pada September 2026.

China juga menghadapi tekanan di tingkat produsen. PPI tercatat meningkat 3,8% secara tahunan selama enam bulan berturut-turut. Di sisi lain, CPI konsumen berada di level 0,8% secara tahunan.

Dari dalam negeri, sentimen positif mulai terlihat dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia. Pada Agustus 2026, IKK naik 1,7 poin menjadi 118,5.

Kenaikan tersebut ditopang meningkatnya porsi belanja konsumsi masyarakat dari 72,7% menjadi 74,2% serta minat pembelian barang tahan lama.

“Perbaikan keyakinan ini utamanya didorong oleh tergerusnya porsi simpanan tabungan konsumen (turun dari 16,8% menjadi 15,8%) alih-alih kenaikan pendapatan riil, dan pemulihannya masih belum merata karena kenaikan IKK hanya terjadi di 6 dari 18 kota yang disurvei Bank Indonesia,” tegas Imam dalam keterangan tertulis, Senin (14/9/2026).

Meski demikian, konsumen masih optimistis terhadap prospek ekonomi. Hal itu tercermin dari Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) yang mencapai 127,6, lebih tinggi dibandingkan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) sebesar 109,4.

 

Proyeksi IHSG dan Sinyal Teknikal Pekan Ini

Pekerja mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. (KLY/ Arie Basuki)

Memasuki perdagangan 14-18 September 2026, perhatian investor akan tertuju pada keputusan kebijakan moneter The Fed dan Bank of Japan (BoJ).

The Fed dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga pada Kamis (17/9/2026) pukul 01.00 WIB. Konsensus pasar memperkirakan kenaikan 25 basis poin (bps). Ekspektasi tersebut menguat setelah inflasi AS pada Agustus 2026 naik menjadi 0,4% secara bulanan dari 0,1% pada Juli. Inflasi inti juga meningkat dari 0,2% menjadi 0,3%.

Sehari berikutnya, Jumat (18/9/2026), giliran BoJ mengumumkan keputusan suku bunga. Pasar memperkirakan kenaikan 25 bps menjadi 1,25%, yang akan menjadi level tertinggi dalam sekitar 31 tahun.

"Kenaikan suku bunga BoJ juga perlu diperhatikan karena dapat memicu perubahan posisi pada yen carry trade, sementara keputusan The Fed akan menjadi penentu utama arah likuiditas global dan appetite terhadap risk asset," tandas Imam.

Menurut Imam, katalis IHSG pekan ini masih mixed. Kenaikan suku bunga kedua bank sentral berpotensi menekan aset berisiko jika komunikasi yang disampaikan lebih hawkish dari ekspektasi.

"Kenaikan suku bunga kedua bank sentral berpotensi menekan appetite terhadap aset berisiko, terutama apabila komunikasi keduanya lebih hawkish dari ekspektasi."

Secara teknikal, IHSG ditutup di bawah MA20 sekitar 6.623. Namun, kondisi tersebut belum cukup mengonfirmasi perubahan tren menjadi bearish.

"Hal yang menarik justru terlihat pada candle terakhir. IHSG sempat turun hingga 6.462, tetapi berhasil ditutup kembali di 6.541, sehingga membentuk lower shadow yang relatif panjang. Pola ini menunjukkan adanya rejection terhadap tekanan jual di area bawah."

Menurut Imam, pola tersebut menyerupai bullish hammer. Karena itu, penembusan MA20 masih berpotensi menjadi false break atau liquidity grab jika IHSG mampu kembali bergerak di atas MA20 pada perdagangan berikutnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya