Wapres Gibran Lihat Orangutan Terdampak Asap Karhutla

BOSF berharap kunjungan Wapres Gibran ke pusat rehabilitasi orangutan berlanjut dengan penguatan kebijakan pencegahan karhutla.

oleh Tim NewsDiterbitkan 14 September 2026, 02:20 WIB
Kunjungan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ke pusat rehabilitasi orangutan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) di Kalimantan Tengah. (Dok:Setwapres)

Liputan6.com, Jakarta - Kunjungan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ke pusat rehabilitasi orangutan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) di Kalimantan Tengah memberi kesempatan kepada pemerintah melihat langsung dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap satwa.

CEO BOSF Jamartin Sihite mengatakan Gibran melihat kondisi orangutan yang berada di tengah paparan asap, termasuk satwa yang mengalami gangguan kesehatan dan membutuhkan penanganan menggunakan nebulizer.

“Kami berpikir, seeing is believing,” kata Jamartin.

Menurut Jamartin, kunjungan langsung tersebut memberikan gambaran mengenai tantangan yang dihadapi lembaga konservasi ketika kualitas udara memburuk.

BOSF harus meningkatkan intensitas perawatan ketika terjadi penurunan kualitas udara. Beberapa orangutan mengalami masalah pernapasan dan memiliki kondisi kesehatan yang membuat mereka lebih rentan terhadap perubahan cuaca dan paparan asap.

Penanganan terhadap orangutan juga memiliki tantangan tersendiri. Penggunaan nebulizer, misalnya, tidak dapat dilakukan dengan masker seperti pada manusia sehingga membutuhkan penggunaan obat yang lebih banyak.

Selain perawatan, BOSF memasang pipa dan sprinkler di sekitar kandang untuk membantu menurunkan suhu serta mengurangi partikel polusi ketika asap menyelimuti kawasan.

Jamartin mengapresiasi perhatian Gibran terhadap persoalan satwa liar.

“Beliau memberikan perhatian yang cukup besar terhadap satwa liar, tidak hanya orangutan,” ujarnya.

Dia mengatakan orangutan bukan satu-satunya satwa yang menghadapi ancaman akibat karhutla. Kondisi orangutan dapat menjadi gambaran persoalan yang juga dialami satwa liar lainnya ketika habitat mereka terdampak kebakaran.

Karena itu, Jamartin berharap perhatian pemerintah berlanjut dalam bentuk kebijakan yang lebih sistematis, terutama untuk memperkuat sistem peringatan dini (early warning system).

Menurut dia, sistem tersebut diperlukan agar langkah pencegahan dapat dilakukan sebelum kondisi karhutla memasuki tahap krisis.

“Pengalaman karhutla yang terus berulang seharusnya menjadi dasar untuk membangun sistem kesiapsiagaan yang lebih rapi,” kata Jamartin.

 

Pentingnya Dukungan Anggaran Kebencanaan

Jamartin mengusulkan kondisi cuaca, lamanya periode tanpa hujan, dan tingkat kerawanan wilayah menjadi indikator untuk menentukan peningkatan status serta langkah pencegahan.

Jamartin juga menekankan pentingnya dukungan anggaran kebencanaan dan sistem penanganan yang lebih efektif. Di sisi lain, perlindungan habitat harus berjalan beriringan dengan penanganan karhutla.

“Kami berharap kita sama-sama menjaga areal-areal hutan yang masih bagus dan menjadi habitat satwa liar, bukan cuma orangutan,” katanya.

Menurut Jamartin, kawasan hutan dan satwa yang hidup di dalamnya merupakan aset yang harus dijaga.

“Karena ini aset negara, ini aset bangsa,” ujarnya.

 

 

 

 

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya