Liputan6.com, Washington, DC - Seorang remaja berusia 15 tahun berhasil diselamatkan setelah bertahan selama berhari-hari di atas sebuah perahu yang terbalik di tengah dinginnya perairan Laut Bering, Alaska, Amerika Serikat.
Dikutip dari BBC, Minggu (13/9/2026), remaja tersebut diketahui bernama Derek Parker Aghnaanga. Ia menjadi satu-satunya orang yang selamat dari perahu kecil itu setelah kakak laki-laki dan sepupunya meninggal dunia dalam insiden tersebut.
Advertisement
Ketiganya berangkat dari Pulau St Lawrence pada Jumat, 4 September, dan dijadwalkan kembali pada Minggu sore berikutnya. Namun, ketika kapal nelayan sepanjang 18 kaki itu tak kunjung kembali, Penjaga Pantai Amerika Serikat (US Coast Guard) memulai operasi pencarian.
Pada Senin pagi, awak pesawat Penjaga Pantai menemukan Aghnaanga duduk di atas perahu yang telah terbalik. Sebuah kapal yang berada di dekat lokasi kemudian datang menolong dan menarik remaja tersebut ke tempat aman.
Kapal penolong itu juga berhasil menemukan jenazah dua kerabat Aghnaanga.
“Hati kami bersama keluarga, teman-teman, dan masyarakat yang terdampak oleh kehilangan tragis dua pelaut ini,” kata Rear Adm. Bob Little, komandan Distrik Arktik Penjaga Pantai AS.
Bertahan di Tengah Air Bersuhu 10 Derajat Celsius
Penjaga Pantai AS mengatakan Aghnaanga menunjukkan tanda-tanda hipotermia ketika berhasil diselamatkan.
Kapten kapal nelayan yang mengevakuasinya, Adam White, mengatakan kepada media lokal di Anchorage bahwa remaja tersebut bertahan dengan berpegangan pada perahu kecil itu sepanjang malam dalam kondisi suhu air sekitar 50 derajat Fahrenheit atau 10 derajat Celsius.
“Anak itu benar-benar tangguh,” kata White kepada KTUU-TV.
White mengatakan Aghnaanga sempat bercerita dalam kondisi tubuh menggigil bahwa kakaknya masih berada di bawah perahu.
“Dengan gigi yang terus bergemeletuk, dia mengatakan bahwa kakaknya masih berada di bawah perahu,” ujar White.
“Lalu dia mengatakan bahwa pada malam sebelumnya, sebelum kami menyelamatkannya, sepupunya telah pergi untuk selamanya,” lanjutnya.
Perahu yang mereka gunakan terbalik pada Sabtu. Kondisi tersebut membuat Aghnaanga bertahan selama dua hari di laut tanpa makanan maupun air, tulis ibunya, Vina Kulowiyi, melalui Facebook.
Berangkat Menangkap Ikan untuk Warga
Kulowiyi mengatakan kedua putranya melakukan sesuatu yang mereka sukai, yakni menangkap ikan untuk membantu menyediakan makanan bagi anggota masyarakat yang tidak selalu dapat memperoleh daging di toko lokal di Savoonga.
Savoonga merupakan sebuah desa dengan sekitar 800 penduduk yang berada di Pulau St Lawrence, lepas pantai Alaska. Wilayah tersebut terutama dihuni masyarakat Siberian Yupik, dengan bahasa Inggris dan St Lawrence Island Yupik sebagai bahasa utama.
“Anak-anak saya dilahirkan dan dibesarkan untuk menjadi penyedia bagi keluarga. Sebuah tradisi yang diwariskan,” tulis Kulowiyi di Facebook.
“Kami berburu dan menyediakan makanan untuk keluarga serta berbagi dengan masyarakat,” lanjutnya.
Kulowiyi mengatakan putranya yang selamat kini menjalani pemulihan di rumah.
“Putraku yang selamat. Kisahnya luar biasa. Dia tidak pernah merasa takut sepanjang waktu,” tulisnya.
Menurut Kulowiyi, selama bertahan di tengah laut, Aghnaanga hanya duduk sambil berdoa.
“Dia terus berdoa sepanjang waktu,” tulisnya.