Oracle Bakal Gelontorkan Tambahan Rp 12,32 Triliun Buat Pangkas Karyawan

Terkait rencana restrukturisasi 2026, Oracle diperkirakan menelan biaya US$ 2,8 miliar atau Rp 49,29 triliun.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 13 September 2026, 07:00 WIB
Ilustrasi Pemutusan Hubungan Kerja alias PHK. Foto: Freepik/master1305

Liputan6.com, Jakarta - Oracle Corp memperbesar skala rencana pengurangan karyawan di tengah upaya mengatasi masalah keterbatasan dana terkait pembangunan pusat data berskala besar untuk kebutuhan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Mengutip Yahoo Finance, ditulis Minggu (13/9/2026), total biaya yang terkait dengan Rencana Restrukturisasi 2026 Oracle kini mencapai sekitar US$ 2,8 miliar atau Rp 49,29 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.610). Sebagian besar dana itu terdiri dari pembayaran pesangon bagi karyawan yang diberhentikan. Hal itu disampaikan perseroan dalam dokumen laporan resmi pada Jumat, 11 September 2026.

Oracle telah mencatatkan biaya sekitar US$ 2,1 miliar atau Rp 36,97 triliun terkait rencana tersebut, dan penambahan sebesar US$ 700 juta atau Rp 12,32 triliun mencerminkan "langkah-langkah tambahan yang akan diambil perseroan," ungkap perusahaan dalam laporan itu.

Oracle menghadapi tekanan keuangan akibat pembangunan pusat data AI yang memakan biaya besar untuk melayani pelanggan seperti OpenAI. Awal tahun ini, perusahaan mulai memangkas ribuan pekerjaan sebagai bagian dari upaya penghematan kas, sebagaimana dilaporkan oleh Bloomberg. Business Insider melaporkan bulan lalu bahwa perusahaan sedang menyusun rencana untuk putaran pengurangan karyawan berikutnya.

Dalam sesi diskusi dengan para analis pada Kamis, Chief Financial Officer Hilary Maxson menyebutkan, langkah-langkah penyederhanaan dan efisiensi telah membantu perusahaan menekan biaya dan menjaga margin keuntungan. Per akhir Mei, perusahaan memiliki sekitar 49.000 karyawan di AS dan sekitar 92.000 karyawan di luar negeri. Angka tersebut menunjukkan penurunan sebanyak 21.000 karyawan dibandingkan tahun sebelumnya.

Dokumen Bocor: Oracle Bakal PHK Karyawan Gara-Gara AI

Ilustrasi PHK (Foto: Unsplash/Vitaly Gariev)

Sebelumnya, 2026 menjadi periode yang penuh tantangan bagi para pekerja di industri teknologi, bahkan bagi perusahaan-perusahaan yang mencatatkan rekor pendapatan. Salesforce memangkas hampir separuh divisi pada awal tahun ini, lalu secara diam-diam kembali mengurangi lapangan kerja dalam sebuah perombakan terkait AI pada bulan Februari.

Justifikasi yang digunakan selalu sama setiap kali terjadi pemangkasan, yaitu kecerdasan buatan (AI) telah membuat peran-peran tersebut tidak lagi dibutuhkan.

Kini, Oracle sedang menuliskan babak serupa, hanya saja versi mereka datang dengan beban biaya yang jauh lebih besar. Oracle telah menyusun rencana untuk gelombang pemutus hubungan kerja (PHK) baru pada bulan Agustus. Demikian menurut sebuah dokumen internal perusahaan yang bocor dan ditulis oleh Business Insider.

Mengutip laman Yahoo Finance, Kamis (13/8/2026), para manajer telah diminta untuk menyerahkan daftar karyawan yang terdampak, dengan tujuan memangkas beban penggajian sebelum kuartal kedua fiskal Oracle dimulai pada 1 September.

Pengurangan tersebut dapat mencapai persentase dua digit pada beberapa tim, menurut dokumen yang sama. Oracle menolak memberikan komentar mengenai rencana ini, sehingga jelas bahwa mereka masih menyimpannya secara internal untuk saat ini.

 

Perusahaan Telah Memangkas 21.000 Pekerjaan

Ilustrasi Pemutusan Hubungan Kerja alias PHK. Foto: Freepik

Ini bukan kali pertama bagi Oracle. Perusahaan telah memangkas 21.000 orang, atau 13% dari total tenaga kerjanya, selama tahun fiskal yang berakhir pada 31 Mei. Jumlah karyawan turun menjadi sekitar 141.000 orang, berkurang dari 162.000 karyawan pada tahun sebelumnya.

Uang pesangon dan biaya keluar lainnya melonjak menjadi US$ 1,84 miliar untuk tahun tersebut, naik dari US$ 374 juta pada tahun sebelumnya, menurut laporan resmi tersebut.

Oracle sendiri telah mengakui bahwa adopsi AI merupakan faktor di balik pengurangan ini, sebuah bahasa yang jarang muncul secara langsung dalam laporan resmi korporasi.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya