Wall Street Melesat, Investor Abaikan Data Inflasi AS Terbaru

Tiga indeks saham acuan di wall street menguat setelah rilis data inflasi Amerika Serikat (AS).

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 12 September 2026, 08:09 WIB
Steven Kaplan (tengah) saat bekerja dengan sesama pialang di New York Stock Exchange, Amerika Serikat (AP Photo/Richard Drew)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street menguat pada Jumat, 11 September 2026. Wall street kembali bangkit setelah turun selama empat hari berturut-turut yang dipengaruhi harga minyak. Pelaku pasar juga mengabaikan meningkatnya harapan kenaikan suku bunga the Federal Reserve (the Fed) menyusul data inflasi Amerika Serikat (AS) terbaru.

Mengutip CNBC, Sabtu (12/9/2026), indeks Dow Jones naik 509,19 poin atau 0,98%, dan ditutup ke posisi 52.573,29. Indeks S&P 500 mendaki 0,86% menjadi 7.656,98. Indeks Nasdaq bertambah 0,96%, dan berakhir di posisi 26.333,04.

Ketiga indeks utama tersebut sebelumnya telah turun selama empat sesi berturut-turut. Bagi Dow, ini merupakan penurunan harian beruntun terpanjang sejak akhir April. Selama pekan ini, Dow turun 1,6% dan S&P 500 turun 0,8%. Nasdaq turun sekitar 0,7%, menandai pekan negatif pertamanya dalam tiga periode pelaporan.

Harga minyak mentah melandai, melepaskan sebagian dari kenaikan tajam yang terjadi pekan ini akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) turun 2,4% dan ditutup pada harga US$ 100,05 per barel. Kontrak berjangka Brent turun 2,8% menjadi US$ 104,61 per barel.

Meski demikian, harga WTI mencatat kenaikan hampir 10% sepanjang pekan ini, sementara Brent melonjak hampir 9%. Selain itu, data inflasi AS terbaru menunjukkan bahwa harga energi yang lebih tinggi memberikan tekanan kenaikan pada harga barang-barang konsumsi.

Indeks Harga Konsumen (IHK) naik 0,4% secara bulanan (month-over-month) pada Agustus dan 3,4% secara tahunan (year-over-year), sesuai dengan perkiraan Dow Jones. IHK Inti (Core CPI), yang tidak mencakup energi dan pangan, naik 0,3% dari bulan sebelumnya, sedikit lebih tinggi dari perkiraan.

 

Imbal Hasil Obligasi

Pedagang bekerja di New York Stock Exchange, New York, 10 Agustus 2022. (AP Photo/Seth Wenig, file)

Imbal hasil obligasi sebagian besar stabil setelah laporan tersebut dirilis, meskipun imbal hasil Treasury tenor 2 tahun sempat melampaui 4,6% dan menyentuh level tertinggi sejak Juli 2024, mencerminkan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve.

Alat FedWatch milik CME Group menunjukkan adanya peluang sekitar 86% untuk kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin pada pekan depan.

"Perdebatan telah dengan cepat beralih dari pertanyaan apakah The Fed akan menaikkan suku bunga ke pertanyaan yang lebih penting, yakni berapa banyak kenaikan yang pada akhirnya diperlukan dalam siklus ini," ujar Kepala Strategis Global di Principal Asset Management, Seema Shah.

"Kami tidak memperkirakan The Fed hanya akan melakukan satu kali kenaikan lalu berhenti. Situasi ini bukan lagi sekadar soal penyesuaian ekonomi secara halus. Setelah lima tahun mengalami inflasi di atas target, para pembuat kebijakan kemungkinan besar akan menyimpulkan bahwa diperlukan lebih dari satu kali kenaikan suku bunga untuk memulihkan stabilitas harga,” ia menambahkan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya