Liputan6.com, Jakarta - Niat mulia Kusnin (63) menyelamatkan lahan pertaniannya dari amukan si jago merah berakhir tragis. Petani asal Desa Jambearjo, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang ini tewas mengenaskan setelah terjebak di tengah kepungan api yang melahap lima hektare perkebunan tebu di Desa Kendalpayak, Pakisaji, Kamis (10/9/2026).
Insiden maut yang terjadi sekitar pukul 10.00 WIB ini diduga kuat dipicu oleh aksi pembakaran sisa panen tebu oleh salah seorang petani lokal. Tiupan angin kencang di lokasi dengan cepat mengubah percikan api kecil menjadi kobaran liar yang merembet ke area sekitar.
Advertisement
Melihat api kian meluas dan mengancam lahan tebu, Kusnin berupaya mengambil tindakan darurat dengan membuat sekat bakar (firebreak) guna memutus rantai perambatan api. Sayang, pergerakan angin yang sangat cepat justru membalikkan arah kobaran, mengurung posisi korban tepat di tengah-tengah lautan api.
"Korban berusaha membuat sekat bakar. Namun, karena angin kencang, korban terjebak di tengah kebun tebu," ujar Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang, Sadono Irawan, Jumat (11/9/2026).
Upaya pemadaman oleh petugas Damkar berhasil menjinakkan api beberapa saat kemudian. Namun, nyawa Kusnin tidak terselamatkan. Petugas menemukan jasad korban dalam kondisi meninggal dunia sebelum akhirnya dievakuasi ke RSUD Kanjuruhan untuk menjalani proses visum.
"Selain menelan korban jiwa, petaka ini menghanguskan sedikitnya lima hektare lahan tebu siap panen dengan kerugian material ditaksir mencapai Rp 160 juta," tambahnya.
Atas kejadian ini, BPBD Kabupaten Malang mengimbau keras para petani agar menghentikan tradisi membakar sisa panen secara sembarangan, terutama saat cuaca kering dan berangin kencang demi mencegah terulangnya tragedi serupa.