Liputan6.com, Jakarta - Fulfillment at Speed (FAS), anak perusahaan Blibli, melakukan transformasi besar-besaran untuk merespons lanskap perdagangan (commerce) yang terus berubah secara cepat.
Perusahaan fulfillment dan enabler tersebut kini tak hanya menawarkan layanan penggudangan (warehouse) dan operasional, tetapi juga merambah ke sektor sales, marketing, hingga layanan bernilai tambah (Value Added Services/VAS) secara online maupun offline.
Advertisement
“FAS kini berkembang menjadi lebih dari sekadar fulfillment vendor, melainkan menjadi growth partner di segala aspek bisnis milik mitra,” tutur Commercial Director FAS Alvin Hadibowo, Kamis (10/9/2026).
Alvin menjelaskan, FAS berperan sebagai fasilitator bagi berbagai merek (brand) yang ingin meningkatkan skala bisnis (scale-up).
“Ketika brand tersebut terus tumbuh, semakin besar, dan brand equity sudah tercipta di pasar, kami juga siap menjadi mitra trading. Dalam konteks ini, kami menerapkan sistem beli putus dari brand, lalu kami yang mengatur strategi agar barang tersebut terjual secara maksimal di pasar,” tambahnya.
Skema biaya layanan yang ditawarkan FAS bersifat fleksibel menyesuaikan kebutuhan brand, baik dengan perhitungan per unit barang, persentase, maupun kesepakatan khusus lainnya.
FAS juga menyediakan layanan kustomisasi kemasan (packaging), penyebaran brosur (flyer), dan kebutuhan pendukung lainnya.
Fleksibilitas ini dihadirkan untuk mendorong pelaku bisnis, termasuk perintis, agar mampu memperluas jangkauan pasar ke seluruh Indonesia.
Operations Director FAS Bayu Sudjono membeberkan bahwa seluruh skema layanan sangat bergantung pada target dan kebutuhan masing-masing merek.
“Semua yang kami lakukan disesuaikan dengan kebutuhan brand (according to the brand needs), serta seberapa besar visi yang ingin mereka percayakan kepada kami,” ujar Bayu.
Alvin menambahkan bahwa banyak pemilik usaha yang merasa berjuang sendirian di dunia bisnis. “Padahal ada mitra seperti FAS yang siap membantu mereka melakukan scale-up bisnis,” tegasnya.
Beradaptasi dengan Evolusi Industri Commerce
Transformasi FAS hadir sebagai langkah adaptasi terhadap dinamika pasar yang terus bergeser, baik dari sisi operasional, pemasaran, maupun logistik. Perjalanan industri commerce di Indonesia telah berevolusi dari ritel tradisional, modern trade, e-commerce, marketplace, hingga social commerce dan omnichannel.
Perkembangan ini tidak menggantikan saluran (channel) sebelumnya, melainkan membentuk ekosistem yang makin berlapis.
Sebelum tahun 1990, warung dan toko lokal menjadi pilihan utama masyarakat. Peta industri mulai bergeser pada 1998 saat deregulasi membuka pintu bagi masuknya ritel asing.
Selanjutnya pada periode 1999–2014, pasar mulai beralih ke platform digital. Perkembangan berlanjut pada 2015–2020 dengan ditandai persaingan ketat antar-marketplace.
Sejak 2020 hingga kini, tren bergeser di mana hampir semua orang bisa menjadi pelaku usaha, sehingga memicu munculnya berbagai kanal penjualan baru yang butuh pengelolaan terintegrasi.
Saat ini, FAS mengelola 15 warehouse dengan total luas area (footprint) mencapai 200.000 meter persegi (sqm), kapasitas pemrosesan barang (monthly throughput) lebih dari 15 juta unit per bulan, serta tingkat akurasi inventaris mencapai 99,8 persen.
Konten dan Live Commerce Jadi Kunci Penjualan
Di era digital, kehadiran pembuat konten (influencer) kerap membuat sebuah produk viral dan ludes terjual dalam waktu singkat. Lonjakan permintaan yang drastis dalam waktu singkat memerlukan kesiapan operasional yang matang dari sisi penggudangan maupun pemasaran.
“Misalnya sebuah produk tiba-tiba viral. Penjualan satu SKU (Stock Keeping Unit) yang tadinya hanya 10 unit per hari, bisa mendadak melonjak jadi 1.000 unit,” tutur Alvin.
Dari sisi pemasaran, FAS mendukung para mitranya membangun permintaan (demand) dan keterikatan (engagement) konsumen melalui skema FAS Affiliate dan FAS Studio. Saat ini, FAS telah mengoperasikan 20 live studio dan didukung lebih dari 2.000 jaringan affiliate dengan kapasitas siaran langsung (broadcast) 24 jam nonstop.