Ada Revisi RKAB 2026, Begini Langkah Astra

PT Astra International Tbk (ASII) mengakui penurunan kuota RKAB berdampak langsung terhadap volume bisnis pertambangan.

oleh Thurfah Mahira AhnafDiterbitkan 10 September 2026, 15:32 WIB
Frans Kesuma (Direktur PT Astra International Tbk (ASII)) dalam Public Expose Live 2026, Kamis (10/9/2026).

Liputan6.com, Jakarta - PT Astra International Tbk (ASII) mengungkapkan penurunan kuota produksi batu bara nasional dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) berdampak langsung terhadap volume bisnis pertambangan perseroan, Kamis (10/9/2026).

Direktur Astra Frans Kesuma menyebut revisi RKAB memang menambah 5% kuota dari total volume yang ditargetkan pelanggan. Namun, volume keseluruhan tetap turun sekitar 20%.

“Sehingga akhirnya kita mengalami penurunan sekitar 20% dari volume. Dan tentunya karena itu memang sesuai dengan target dari RKAB, kami tidak bisa meningkatkan volume itu,” ujar Frans dalam Public Expose Live 2026.

Perseroan mengakui pendapatan dari bisnis terkait akan tertekan, sehingga harus diimbangi peningkatan produktivitas dan efisiensi biaya operasi.

"Artinya secara revenue sudah pasti akan turun. Yang bisa kami lakukan adalah penurunan biaya produksi supaya netnya di profit itu tidak terlalu berat dibandingkan dengan tahun sebelumnya,” katanya.

Tekanan pada sektor pertambangan juga tercermin dalam kinerja Astra sepanjang semester I 2026. Berdasarkan laporan, laba bersih bisnis solusi pertambangan & alat berat, turun 46% menjadi Rp 2,7 triliun (sebelum pos non-recurring).

Penurunan dipengaruhi kuota produksi batu bara nasional yang menipis, sehingga permintaan terhadap alat berat dan jasa penambangan ikut melemah.

Di sisi lain, Astra mengatakan, masih memiliki ruang untuk mengembangkan portofolio komoditas lain. Perseroan saat ini memiliki dua aset nikel dan akan terus mencari aset baru yang memenuhi kriteria investasi, meski ekspansinya tak mudah karena persaingan di Indonesia dan kuota produksi mineral juga turun.

Kinerja Semester I 2026

Gedung PT Astra International Tbk (Foto: Astra)

Sebelumnya, Grup Astra merilis laporan kinerja keuangan untuk periode semester I 2026 yang berakhir pada 30 Juni 2026. Di tengah kondisi pasar yang dinamis, perusahaan mencatatkan pertumbuhan yang solid pada sektor otomotif dan jasa keuangan, meskipun harus menghadapi tantangan pelemahan di sektor solusi pertambangan dan alat berat.

Mengutip laporan kinerja perusahaan, Kamis (30/7/2026, secara keseluruhan, Grup Astra membukukan pendapatan bersih konsolidasian sebesar Rp 157,9 triliun. Angka ini sedikit mengalami penurunan sebesar 3% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025 yang mencapai Rp 162,8 triliun.

Sementara itu, laba bersih Grup Astra tanpa memperhitungkan non-recurring items tercatat sebesar Rp 14,8 triliun, atau turun 7% dari tahun sebelumnya. Penurunan ini utamanya disebabkan oleh minimnya kontribusi dari divisi pertambangan emas, melemahnya penjualan alat berat, serta turunnya volume jasa penambangan dan batu bara.

Jika memperhitungkan non-recurring items yang utamanya berupa kerugian penyesuaian nilai wajar atas investasi ekuitas dan penurunan nilai (impairment) sebesar Rp 2,3 triliun, total laba bersih Grup tercatat menjadi Rp 12,5 triliun, atau turun 19% dibandingkan tahun lalu yang berada di angka Rp 15,5 triliun. Dari sisi pemegang saham, nilai aset bersih per saham Grup Astra naik tipis 1% menjadi Rp 5,7 triliun.

 

Fokus pada Tiga Bisnis Inti dan Aksi Korporasi

Gedung PT Astra International Tbk (Foto: Astra)

Sejalan dengan dinamika bisnis, Astra pada Mei 2026 lalu telah mengumumkan strategy roadmap baru yang dirancang untuk memberikan imbal hasil yang berkelanjutan bagi para pemegang saham. Strategi ini ditopang oleh empat pilar, yakni Focus (fokus pada tiga bisnis inti), Clarity (pengelolaan bisnis turunan yang sinergis), Discipline (disiplin alokasi modal), dan Commitment (komitmen transformasi kepemimpinan).

Tiga bisnis inti (core businesses) yang kini menjadi fokus utama Grup adalah otomotif, jasa keuangan, serta solusi pertambangan & alat berat. Bisnis di luar ketiga sektor tersebut kini dilaporkan secara terpadu dalam segmen lain-lain.

Sebagai bentuk komitmen untuk meningkatkan nilai bagi pemegang saham, Astra dan anak usahanya, United Tractors (UT), gencar melakukan pembelian kembali saham (share buyback).

Sejak November 2025 hingga akhir Juni 2026, keduanya telah merampungkan program buyback senilai total Rp 7,4 triliun. Tak berhenti di situ, program baru juga telah disiapkan yaitu, Astra mengalokasikan dana hingga Rp 8 triliun untuk 12 bulan ke depan, sementara UT menyiapkan hingga Rp 2 triliun untuk periode tiga bulan yang dimulai pada Juli 2026.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya