Liputan6.com, Jakarta - PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) memperkirakan penjualan turun sekitar 10% pada 2026. Hal ini seiring langkah perseroan melakukan normalisasi persediaan distributor selama empat bulan pada semester pertama 2026. Ditambah kondisi geopolitik.
Direktur dan Corporate Secretary SIDO Budiyanto menuturkan, normalisasi persediaan distributor dijalankan selama empat bulan pada Februari-Mei 2026. Dengan normalisasi persediaan distributor ini, perseroan memiliki sistem visibilitas data penjualan produk sejak meninggalkan pabrik ke distributor, toko hingga konsumen. Hal ini dilakukan untuk menyehatkan stok produk di level distributor.
Advertisement
"Jadi normalisasi dijalankan SIDO 4 bulan, Februari hingga Mei. Saat ini sudah selesai normalisasi, dampaknya setelah normalisasi, penjualan 2026 akan turun sekitar 10 persen dibandingkan penjualan 2025,” kata Budiyanto saat public expose 2026 secara daring, Rabu, (9/9/2026).
Ia menambahkan, pihaknya melihat ada distributor yang memiliki persediaan berlebih. Kalau stok itu di level distributor berlebih akan menyita ruang gudang produk baru perseroan yang menjanjikan.
"Sehingga dalam rangka menyehatkan tingkat persediaan distributor ke level lebih sehat, dan juga ekspansi serta diversifikasi ketersediaan rak untuk produk portofolio kami sehingga diputuskan melakukan normalisasi selama empat bulan,” ujar dia.
Perseroan yakin kinerja keuangan semester II 2026 akan menyamai periode sama tahun lalu. Hal ini di tengah ketidakpastian geopolitik dan pengaruh daya beli masyarakat. Selain itu, perseroan juga akan meluncurkan produk baru pada kuartal III dan IV 2026.
Terkait pelemahan rupiah terhadap perseroan, Budiyanto menuturkan, hal itu tidak berdampak signifikan mengingat tidak memiliki impor bahan baku tinggi. “Untuk herbal, bahan baku kami 100 persen lokal,” kata dia.
Di tengah rupiah melemah, Ia menambahkan, perseroan mencatat kenaikan keuntungan dari selisih kurs seiring penjualan ekspor mencapai 13% dari total penjualan. Perseroan juga menjajaki pasar baru untuk ekspor. “Ada beberapa negara maupun kawasan yang kami sedang eksplore dan mungkin yang kita bisa realisasikan di akhir 2026 di kawasan IndoChina,” ujar dia.
Pertahankan Pangsa Pasar
Mengutip keterangan resmi, di tengah proses normalisasi persediaan distributor dan membangun fondasi pertumbuhan lebih sehat, perseroan mempertahankan pangsa pasar Tolak Angin sebesar 71%. Selain itu, SIDO mencatat penjualan bersih Rp 1,47 triliun dan laba bersih Rp 334 miliar dengan margin laba bersih 23% pada semester I 2026.
Ekspansi internasional tetap menjadi pilar struktural bagi pertumbuhan jangka panjang. Penjualan ekspor inti di luar minuak atsiri tumbuh 28% secara tahunan, sementara kontribusi penjualan internasional meningkat menjadi sekitar 13% dari total penjualan dibandingkan 10% pada tahun lalu.
Produk SIDO menjangkau 34 negara dengan pertumbuhan yang terus didukung oleh pasar utama seperti Malaysia, Filipina dan Nigeria.
Posisi kas SIDO tetap kuat Rp 476 miliar per 30 Juni 2026, sedikit di atas Rp 463 miliar pada akhir 2025, meski telah mengembalikan Rp 1,41 triliun kepada pemegang saham melalui dividen dan pembelian kembali saham. SIDO tetap mempertahankan posisi neraca tanpa utang.
Meskipun konsumen semakin selektif dan kondisi cuaca memberikan dampak beragam, keyakinan terhadap prospek jangka panjang tetap kuat, didukung oleh distribusi berbasis permintaan, inovasi, ekspansi internasional dan disiplin biaya.