Liputan6.com, Washington, DC - Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan hadiah liburan dalam jumlah besar kepada empat staf Gedung Putih. Hal itu terungkap dalam laporan pengungkapan keuangan terbaru yang dirilis pemerintahan.
Dikutip dari The Guardian, Jumat (11/9/2026), salah satu penerima hadiah terbesar adalah asisten eksekutif Natalie Harp. Trump memberikan hadiah sebesar USD 45.000 atau sekitar Rp 846 juta (kurs 17.630 per US$) kepada Harp.
Advertisement
Selain Harp, penasihat komunikasi Margo Martin dan wakil direktur operasional Ruang Oval, Chamberlain Harris, juga menerima hadiah masing-masing USD 45.000. Sementara itu, Direktur Operasional Ruang Oval Walt Nauta mendapatkan hadiah sebesar USD 20.000.
Hadiah tersebut tercantum dalam formulir pengungkapan keuangan tahunan para staf yang dipublikasikan pemerintahan Trump pada pekan lalu. Berdasarkan laporan gaji Gedung Putih kepada Kongres, Harp, Martin, dan Harris masing-masing menerima gaji tahunan USD 150.000. Sementara Nauta memperoleh USD 175.000 per tahun.
Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan kepada Associated Press bahwa Trump memiliki kebiasaan lama memberikan hadiah Natal kepada orang-orang di lingkarannya, termasuk terkadang kepada karyawan dan para pembantunya, baik ketika berada di pemerintahan maupun saat masih menjalankan bisnis swasta.
Pejabat tersebut tidak menjelaskan apakah ada staf lain yang juga menerima hadiah serupa dari Trump. Namun, ia mengatakan hadiah berupa uang tunai tersebut tidak berkaitan dengan tugas resmi pemerintahan para penerima.
Karena itu, menurut pejabat tersebut, pemberian tersebut sepenuhnya diperbolehkan berdasarkan standar hukum dan etika yang berlaku.
Pengungkapan mengenai hadiah tersebut pertama kali dilaporkan The Washington Post pada Selasa.
Ajudan yang Selalu Berada di Sisi Trump
Natalie Harp dikenal sebagai salah satu orang yang sering berada di sisi Trump. Ia juga dikenal membawa printer portabel yang digunakannya untuk mencetak pemberitaan media dan unggahan media sosial yang mendukung Trump.
Kebiasaan tersebut berkaitan dengan preferensi Trump yang lebih menyukai membaca informasi penting dalam bentuk cetak dibandingkan melalui layar.
Sementara itu, Margo Martin telah bekerja untuk Trump sejak masa jabatan sebelumnya di Gedung Putih. Ia memulai kariernya sebagai asisten pers Gedung Putih dan mengikuti Trump ke Palm Beach, Florida, setelah Trump kalah dalam pemilihan presiden 2020 dari Joe Biden.
Di Florida, Martin membantu menjalankan operasi media Trump sebelum akhirnya kembali ke Gedung Putih setelah Trump memenangkan pemilihan presiden 2024.
Awal tahun ini, Trump menunjuk Chamberlain Harris sebagai anggota US Commission of Fine Arts. Komisi tersebut memiliki kewenangan dalam mengawasi proyek pembangunan ballroom Gedung Putih yang digagas Trump.
Nauta Pernah Terseret Kasus Dokumen Rahasia
Walt Nauta sebelumnya bekerja sebagai pelayan pribadi Trump. Pada 2023, Nauta dan Carlos De Oliveira, manajer properti Mar-a-Lago, didakwa bersama Trump dalam kasus dugaan konspirasi untuk menghalangi penyelidikan FBI terkait dokumen rahasia yang dibawa Trump ketika meninggalkan Gedung Putih setelah masa jabatan pertamanya.
Namun, dakwaan tersebut kemudian dibatalkan pada 2024.