Harga Minyak Bak Roller Coaster, Medco Energi Siapkan Kunci Ganda

Medco Energi menyiapkan strategi natural hedging dan efisiensi belanja modal untuk menjaga kinerja keuangan dari dampak fluktuasi harga minyak global.

oleh Thurfah Mahira AhnafDiterbitkan 09 September 2026, 15:35 WIB
Direktur & Chief Operating PT Medco Energi Internasional Tbk Amri Siahaan dalam Public Expose Live 2026, Rabu (9/9/2026).

Liputan6.com, Jakarta - PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) menjabarkan "kunci ganda" yang telah disiapkan untuk meredam dampak fluktuasi harga minyak terhadap kinerja keuangan perusahaan. Seperti diketahui, harga minyak dunia mengalami fluktuasi yang sangat tinggi dampak dari perang Iran-Amerika Serikat (AS).  

Direktur sekaligus Chief Operating Officer (COO) PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), Amri Siahaan menjelaskan, kunci pertama terletak pada komposisi penjualan produksi migas Medco yang dirancang cukup berimbang antara kontrak yang mengikuti harga pasar dan kontrak berharga tetap.

“Bauran harga produksi kami cukup seimbang, sekitar 55% terekspos pada harga pasar,” ujar Amri dalam paparan publik live, Rabu (9/9/2026). Ia merujuk pada kontrak-kontrak ekspor yang umumnya mengikuti pergerakan harga global. Sisanya, sekitar 45%, dijual dengan skema harga tetap alias fixed price, khususnya untuk kontrak-kontrak domestik.

“Secara natural itu terjadi seperti natural hedging,” katanya, menjelaskan bahwa kombinasi dua skema harga ini membuat perusahaan bisa menghadapi eksposur harga pasar secara lebih seimbang tanpa perlu instrumen lindung nilai finansial yang rumit.

Kunci kedua yang disinggung Amri adalah skema pemulihan biaya operasi lewat bagi hasil migas di dalam negeri, yang menurutnya turut membantu meredam dampak volatilitas harga terhadap kinerja keuangan sebelum bagi hasil.

Ia menambahkan bahwa jika suatu saat harga minyak turun dan bertahan rendah dalam waktu lama, perusahaan juga masih punya opsi untuk menekan biaya produksi maupun menyesuaikan tempo kegiatan eksplorasinya. Klaim ini tercermin dari data realisasi belanja modal (capex) Medco pada kuartal I 2026.

 

Produksi Migas Medco Merangkak Naik

PT Medco Energi Internasional Tbk (MedcoEnergi) menerapkan optimasi mode operasi unit Waste Heat Boiler (WHB) di lapangan Grissik, Blok Corridor, Sumatra Selatan.

Dari total anggaran capex minyak dan gas 2026 sebesar US$ 415 juta atau Rp 7,2 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah Rp 17.560), realisasi hingga kuartal pertama baru mencapai US$ 88 juta atau Rp 1,5 triliun, atau baru sekitar 21% dari target tahunan. Pola serupa terlihat pada capex segmen kelistrikan, di mana realisasi baru US$ 2 juta dari target US$ 15 juta sepanjang tahun atau Rp 35 miliar dari Rp 263,3 miliar.

Data historis perusahaan justru menunjukkan biaya tunai produksi migas (cash cost) melejit beberapa tahun terakhir, dari US$ 6,8 atau Rp 119.374 per barel setara minyak pada 2022, menjadi US$ 8,3 atau Rp 145.707 pada 2023, sempat turun tipis ke US$ 8,2 atau Rp 143.951 pada 2024, lalu naik lagi ke kisaran US$ 8,6 atau Rp 150.973, hingga mencapai US$ 9,0 atau Rp 157.995 per boe pada kuartal I 2026, meski masih di bawah batas panduan perusahaan sendiri yang mematok cash cost di bawah US$ 10 atau Rp 175.550 per boe.

Adapun soal target pengembalian modal, perseroan menetapkan panduan return on equity (ROE) di atas 15%. Namun, realisasi kuartal pertama baru mencapai 7%, sehingga masih banyak ruang yang harus dikejar sepanjang sisa 2026, seiring dengan proyek-proyek pengembangan baru seperti Senoro Phase 2A dan Bualuang Renewal Plan yang mulai berkontribusi penuh pada kuartal kedua.

“Kami akan menyesuaikan kegiatan eksplorasi jika harga minyak rendah berlanjut,” tutup Amri, menegaskan bahwa fleksibilitas operasional tetap menjadi lini pertahanan terakhir perusahaan jika skenario harga terburuk benar-benar terjadi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya