Menembus Akses Sulit di Perbatasan, Kisah Novi Dampingi Nasabah PNM Mekaar di Pulau Sebatik

Ini cerita Novi sebagai AO PNM Mekaar mendampingi nasabah di perbatasan, menghadapi akses sulit hingga menyaksikan usaha mereka berkembang.

oleh Gilar RamdhaniDiterbitkan 09 September 2026, 11:01 WIB
Fipi Novita Sari, Account Officer (AO) PNM Mekaar di Nunukan, Kalimantan Utara. (Sumber: Istimewa)

Liputan6.com, Nunukan - Pulau Sebatik menjadi salah satu bagian dari perjalanan Fipi Novita Sari menjalankan tugas sebagai Account Officer (AO) PNM Mekaar. Selama sekitar tiga bulan mendapat penempatan di wilayah tersebut, Novi harus menghadapi perjalanan laut sekaligus medan darat yang cukup menantang untuk menjangkau nasabah.

Bagi Novi, pekerjaan sebagai AO PNM Mekaar tidak selalu berlangsung dari balik meja. Ada perjalanan yang harus ditempuh untuk bertemu langsung dengan kelompok nasabah, termasuk menyeberangi perairan sebelum melanjutkan perjalanan menuju lokasi.

Novi telah bergabung dengan PNM sejak 28 Oktober 2024. Sebelum dan setelah penempatannya di Sebatik, ia bertugas di wilayah Nunukan, Kalimantan Utara.

Untuk menuju Pulau Sebatik, perjalanan dimulai dari unit menuju Pulau Bunyu dengan waktu tempuh sekitar 10 menit. Setelah menunggu di pelabuhan penyeberangan, Novi kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan perahu selama sekitar 15 menit. Namun, setibanya di Sebatik, perjalanan belum berakhir. Ia masih harus menempuh perjalanan darat menuju unit dengan waktu sekitar 40 menit.

Medan yang dilalui pun tidak selalu mudah. Sebagian wilayah Sebatik didominasi perkebunan kelapa sawit, dengan jalan yang berkelok dan berbukit. Kondisi cuaca juga menjadi tantangan tersendiri. Ketika curah hujan tinggi, ombak dalam perjalanan laut terkadang cukup besar.

“Terkadang kami harus mengejar waktu sehingga perjalanan terasa cukup menantang, apalagi ketika banyak kendaraan roda empat yang melintas,” ujar Novi.

Bertemu Langsung dengan Nasabah

Fipi Novita Sari, Account Officer (AO) PNM Mekaar bersama para nasabah. (Sumber: Istimewa)

Tantangan perjalanan tersebut menjadi bagian dari pengalaman Novi sebagai AO PNM Mekaar. Baginya, pekerjaan di lapangan justru membuka kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan banyak orang sekaligus memahami usaha yang dijalankan nasabah.

Saat ini, Novi mendampingi sekitar 18 kelompok dengan hampir 100 nasabah. Tugasnya dimulai sejak proses pembiayaan, termasuk menjelaskan tahapan kepada nasabah hingga pembiayaan tersebut dicairkan.

Mayoritas nasabah yang ditemuinya merupakan pelaku usaha rumput laut. Pembiayaan yang mereka ajukan antara lain digunakan untuk membeli tambahan tali yang menjadi bagian dari proses budidaya rumput laut.

Di Sebatik, Novi juga menemukan usaha masyarakat yang lebih beragam. Selain rumput laut, terdapat nasabah yang menjalankan usaha berkaitan dengan hasil laut, seperti udang dan kerang tudai. Biasanya, suami nasabah pergi mencari tudek di suatu pulau. Setelah hasil tangkapan dibawa pulang, sang istri kemudian menjualnya.

Berhadapan langsung dengan kondisi tersebut membuat Novi memahami bahwa kebutuhan setiap nasabah bisa berbeda. Karena itu, membangun komunikasi dan kepercayaan menjadi bagian penting dalam pekerjaannya.

Menurut Novi, kemudahan akses menjadi salah satu alasan masyarakat tertarik menggunakan pembiayaan PNM, salah satunya karena tidak mensyaratkan jaminan. Pembayaran angsuran juga dilakukan setiap pekan. Skema tersebut dinilai sesuai bagi nasabah yang mengandalkan penghasilan harian dan mengumpulkannya selama satu minggu sebelum membayar angsuran.

Melihat Perubahan Nasabah dari Dekat

Di balik berbagai tantangan perjalanan dan pekerjaan lapangan, ada satu hal yang membuat Novi merasa pekerjaannya memiliki arti yakni melihat perubahan yang terjadi pada nasabah.

Salah satunya adalah perempuan yang sebelumnya bekerja sebagai Mak Betang, istilah lokal untuk orang yang membantu mengikat rumput laut, termasuk di tempat penjemuran rumput laut. Setelah mendapatkan pembiayaan PNM, sebagian dari mereka mulai mencoba membuka usaha sendiri.

“Jadi, sebelumnya hanya sebagai pekerja, sekarang mereka mulai memiliki usaha sendiri,” kata Novi.

Bagi Novi, perubahan tersebut menjadi salah satu pengalaman yang membuatnya melihat dampak pekerjaannya secara lebih dekat. Nasabah tidak hanya mendapatkan akses pembiayaan, tetapi juga memiliki kesempatan untuk mengembangkan usaha yang mereka jalankan.

Dari Usaha Rumput Laut hingga Rantai Pasok Lebih Luas

Cerita tentang rumput laut di Pulau Sebatik dan Nunukan tidak berhenti di tingkat pembudidaya. Hasil usaha para pelaku usaha tersebut juga masuk ke rantai pasok yang lebih luas.

Novi menyebut sebagian rumput laut dari Nunukan dikirim ke Sulawesi. Di sana, rumput laut tersebut kemudian masuk ke pabrik untuk diolah dan sebagian hasilnya dapat diekspor.

“Biasanya ada juga nasabah di Nunukan yang membuat produk seperti amplang rumput laut. Untuk rumput lautnya sendiri, sebagian dikirim ke Sulawesi. Dari sana, ada pabrik yang kemudian mengolahnya dan sebagian bisa diekspor,” ujar Novi.

Gambaran tersebut menunjukkan bagaimana aktivitas usaha yang dijalankan masyarakat di daerah dapat terhubung dengan proses ekonomi di wilayah lain. Salah satu dampak yang paling terlihat dari perkembangan usaha nasabah adalah munculnya peluang baru. Ketika usaha semakin besar, nasabah juga berpotensi membuka kesempatan kerja bagi orang lain di sekitarnya.

“Dampak nyatanya adalah nasabah bisa membuka peluang kerja bagi orang lain. Mereka bisa mengembangkan usahanya sehingga usahanya semakin besar dan pada akhirnya dapat menjadi peluang pekerjaan bagi masyarakat lainnya,” ujarnya.

Tetap Melangkah di Tengah Tantangan

Selama menjalani pekerjaan sebagai AO PNM Mekaar, Novi mengaku ada banyak hal yang membuatnya bertahan. Salah satunya adalah kesempatan bertemu dengan banyak orang dan memperluas interaksi sosial. Ia juga merasa pekerjaannya memberikan kesempatan untuk belajar mengenai proses pembiayaan sekaligus mengembangkan diri.

Namun, ada alasan lain yang lebih personal. Pekerjaan sebagai AO PNM Mekaar turut membantu kondisi finansial keluarganya, terutama untuk mendukung biaya sekolah adiknya di SMK jurusan Desain Komunikasi Visual.

“Selain itu, pekerjaan ini membuat saya bisa bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang. Saya juga bisa mengembangkan diri di PNM dan belajar bagaimana proses pembiayaan di salah satu perusahaan besar,” ucapnya.

Ke depan, Novi memiliki cita-cita untuk membuka lapangan pekerjaan sendiri. Ia ingin dapat membantu lebih banyak orang, meski dimulai dari sesuatu yang tidak harus besar.

“Cita-cita saya mungkin bisa membuka lapangan pekerjaan. Walaupun tidak bisa dibilang besar, saya ingin bisa membantu banyak orang,” ujarnya.

Bagi Novi, perjalanan sebagai AO PNM Mekaar masih terus berjalan. Di tengah akses wilayah yang tidak selalu mudah, ia memilih tetap melangkah karena melihat ada manfaat yang bisa diberikan kepada nasabah sekaligus kesempatan untuk terus berkembang bersama pekerjaannya.

 

(*)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya