ISPA di Tanggamus Naik di Tengah Erupsi Anak Krakatau

Kasus ISPA bertambah saat sebaran abu Anak Krakatau meluas.

oleh Ardi MuntheDiterbitkan 08 September 2026, 15:47 WIB
Pemerintah Provinsi Lampung mengungkap kasus ISPA melonjak di Tanggamus Lampung.

Liputan6.com, Jakarta - Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kabupaten Tanggamus, Lampung, melonjak di tengah sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Dalam sehari, jumlah kunjungan masyarakat ke fasilitas kesehatan meningkat lebih dari tiga kali lipat.

Pemerintah Provinsi Lampung juga mengungkap hasil pemeriksaan sampel abu vulkanik yang menunjukkan adanya partikel berukuran sekitar 5 hingga 10 mikrometer dengan permukaan tidak beraturan dan cenderung tajam.

Partikel tersebut perlu diwaspadai karena berpotensi menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan, mata, hingga kulit apabila masyarakat terpapar.

Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela mengatakan, berdasarkan laporan sementara, terjadi peningkatan signifikan jumlah masyarakat yang mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan di Kabupaten Tanggamus.

Pada 5 September 2026, tercatat sebanyak 52 kunjungan masyarakat ke fasilitas kesehatan, dengan 46 orang mengalami ISPA. Sehari kemudian, jumlah kunjungan melonjak menjadi 158 orang, sementara kasus ISPA meningkat menjadi 76 kasus.

Artinya, dalam sehari jumlah kunjungan ke fasilitas kesehatan bertambah 106 kunjungan, sedangkan kasus ISPA meningkat 30 kasus.

"Ini menunjukkan adanya tren kenaikan yang cukup signifikan di Kabupaten Tanggamus. Untuk daerah lainnya sedang terus kami himpun datanya," kata Jihan saat jumpa pers terkait Gunung Anak Krakatau di Bandar Lampung, Selasa (8/9/2026).

Puskesmas dan Rumah Sakit Diminta Siaga

Lonjakan kasus tersebut menjadi perhatian Pemprov Lampung. Paparan abu vulkanik yang terhirup dapat berdampak terhadap kesehatan, terutama pada sistem pernapasan.

Jihan mengatakan, pemerintah telah menginstruksikan seluruh puskesmas dan rumah sakit untuk meningkatkan kesiapsiagaan, terutama fasilitas kesehatan di wilayah yang lebih dekat dengan Gunung Anak Krakatau maupun daerah yang terdampak sebaran abu vulkanik.

"Kami meminta kesiapsiagaan penuh dari tenaga kesehatan, ketersediaan obat-obatan, bahan medis habis pakai, stok oksigen, hingga sistem rujukan medis yang harus selalu siap digunakan apabila diperlukan," jelasnya.

Jihan mengatakan langkah tersebut dilakukan sebagai antisipasi apabila terjadi peningkatan jumlah masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan di tengah aktivitas Gunung Anak Krakatau.

 

Abu Vulkanik Berpartikel Tajam

Di tengah peningkatan kasus ISPA, Pemprov Lampung juga melakukan pemeriksaan terhadap sampel abu vulkanik di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda).

Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya partikel abu berukuran sekitar 5 hingga 10 mikrometer dengan permukaan tidak beraturan dan cenderung tajam.

"Partikel seperti ini perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan, mata, maupun kulit kita," kata Jihan.

Dia mengatakan pemerintah terus mengimbau masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar rumah selama masih terjadi paparan abu vulkanik.

Meski secara visual aktivitas Gunung Anak Krakatau terlihat mengalami penurunan, aktivitas vulkanik di dalam gunung masih bersifat fluktuatif.

"Masyarakat yang berada di wilayah terdampak abu vulkanik dapat mengurangi aktivitas di luar rumah. Apabila harus beraktivitas di luar, maka menggunakan masker, pakaian lengan panjang serta pelindung mata atau goggles," bebernya.

Jihan meminta perhatian khusus diberikan kepada kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki riwayat gangguan pernapasan.

Kelompok tersebut dinilai perlu mendapatkan pengawasan lebih intensif dari keluarga maupun petugas kesehatan untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat paparan abu vulkanik.

Masyarakat juga diminta melakukan langkah pencegahan di dalam rumah dengan menutup pintu dan jendela ketika masih terjadi paparan abu.

Saat membersihkan abu vulkanik di lingkungan rumah, warga diminta tidak menyapu dalam kondisi kering karena dapat membuat partikel abu kembali beterbangan dan berpotensi terhirup.

"Disarankan untuk membersihkan debu vulkanik menggunakan kain basah. Segera ke fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami sesak napas," tandasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya