Prabowo Pertimbangkan Menggabung Badan Geologi dan BMKG

Muncul wacana penggabungan Badan Geologi dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk memperkuat penananganan bencana.

oleh Lizsa EgehamDiterbitkan 08 September 2026, 13:16 WIB
Rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Jakarta, Senin (7/9/2026). (Liputan6.com/ Dok Kemenko Perekonomian)

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto mempertimbangkan penggabungan Badan Geologi dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk memperkuat penananganan bencana. Pasalnya, saat ini Badan Geologi berada di bawah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

"Kepala Badan Geologi nanti saya kira akan kerjasama lebih erat dengan yang lain untuk monitor ini. Nanti kita pikirkan apakah Badan Geologi itu harus diintegrasikan bersama BMKG tapi ya nanti kita bahas itu," kata Prabowo dalam rapat terbatas penanganan bencana secara virtual, Senin (7/9/2026).

Prabowo menyampaikan Indonesia merupakan negara yang berada di ring of fire atau Cincin Api Pasifik. Sehingga, Indonesia rentan terhadap bencana gempa bumi, erupsi gunung api, hingga tsunami.

"Sementara saya lihat kita sudah berbuat maksimal ini semua menjadi bahan untuk kita merencanakan langkah-langkah ke depan saya kira sementara itu sementara kan. Karena kita ada di ring of fire kita siap ternyata juga erupsi terjadi lagi di beberapa tempat di Sumatera Utara Jawa Timur, Halmahera ini kita monitor terus," tutur Prabowo.

Sementara itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia enggan merespons banyak soal wacana penggabungan Badan Geologi dan BMKG. Bahlil mengaku belum membahas soal hal tersebut.

"Saya coba ngecek dulu ya, karena tadi ratas saya bahas tentang ekonomi," ujar Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (8/9/2026).

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan akan menambah alokasi anggaran untuk mitigasi bencana secara signifikan. Prabowo mengatakan Indonesia merupakan negara yang berada di lingkaran api yang rawan bencana sehingga harus setiap saat menghadapi bencana.

Hal ini disampaikan Prabowo saat memimpinrapat terbatas (ratas) penanganan bencana alam gempa Nusa Tenggara Timur (NTT), erupsi Gunung Anak Krakatau, hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Rapat digelar secara virtual melalui video conference dari Istana Merdeka Jakarta, Senin (7/9/2026).

"Ini adalah takdir kita, negara yang berada di lingkaran api, the Ring of Fire. Jadi ini membawa kita untuk kita harus siap menghadapi keadaan seperti ini setiap saat. Berarti mungkin pelajaran juga bagi kita, bagi pemerintah yang saya pimpin, alokasi anggaran untuk mitigasi bencana harus kita tambah secara signifikan," kata Prabowo melalui siaran Youtube Sekretariat Presiden, Senin (6/9/2026).

Dia meyakini Indonesia akan lebih mampu dan siap dalam menghadapi bencana yang akan terjadi di masa depan. Bahkan, kata Prabowo, pemerintahannya telah merespons bencana di Sumatera dengan masif dan cepat.

"Sekarang pun dibandingkan tahun-tahun yang dulu, respons kita sangat cepat. Keadaan bencana di Sumatera, di Aceh, Sumatera Utara dan di Sumatera Barat ternyata respons kita cukup masif, cukup cepat ya," tuturnya.

"Untuk itu, saya ucapkan terima kasih kepada semua unsur yang telah bekerja keras. Kita pulihkan keadaan di Aceh, Sumut dan Sumbar dengan kekuatan kita sendiri. Menurut saya kita cukup berhasil, kita atasi saya ucapkan terima kasih semua unsur," sambung Prabowo.

Selain itu, Prabowo menilai reaksi pemerintah dalam menangani karhutla juga cukup masif, meski ada keterlambatan. Prabowo juga mengapresiasi penanganan gempa di NTT.

"Kemudian juga saya lihat reaksi terhadap kebakaran hutan kita juga cukup masif, walaupun di sana-sini mungkin ada keterlambatan, tapi itu kita catat untuk selanjutnya kita mengambil langkah-langkah yang antisipatif," kata dia.

"Gempa Flores, saya lihat respons kita juga cukup besar, tapi saya juga ingin cek di kabupaten-kabupaten yang belum saya datangi, tapi saya ingin untuk lihat bagaimana kebutuhan dasar apakah sudah bisa dipulihkan atau tidak," imbuh Prabowo.

Dalam rapat ini, Prabowo meminta laporan dari Badan Geologi Kementerian ESDM terkait erupsi Gunung Anak Krakatau serta gunung berapi di Indonesia lainnya. Dia juga meminta Panglima TNI-Kapolri melaporkan soal penanganan karhutla.

"Kemudian tentunya saya akan beralih kepada Gubernur NTT untuk bersama Pangdam dan Kapolda NTT untuk melaporkan perkembangan penanganan pascakejadian," pungkas Prabowo.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya