Liburan Bareng Anak Malah Bikin Orangtua Makin Lelah, Apa yang Sering Terlewat?

WanderKids Journey mencoba merancang perjalanan dengan ritme yang lebih realistis untuk liburan bareng anak.

oleh Asnida RianiDiterbitkan 09 September 2026, 08:00 WIB
Momen liburan bareng anak. (dok. WanderKids Journey)

Liputan6.com, Jakarta - Liburan bareng anak semestinya menjadi jeda dari rutinitas. Ada waktu untuk melihat tempat baru, mencicipi makanan yang belum pernah dicoba, tertawa bersama anak, atau sekadar duduk menikmati suasana tanpa memikirkan pekerjaan.

Namun, bagi sebagian orangtua, perjalanan bersama anak justru bisa terasa seperti memindahkan daftar pekerjaan dari rumah ke destinasi wisata. Koper harus dipastikan lengkap, jam makan tidak boleh terlewat, waktu tidur perlu dijaga, sementara itinerary terus berjalan sesuai rencana.

Perhatian yang semula ingin dicurahkan untuk menikmati perjalanan perlahan berubah menjadi upaya memastikan semuanya tetap terkendali. Ketika anak mulai lelah atau suasana hatinya berubah, energi orangtua pun ikut terkuras.

"Kami percaya traveling bersama anak seharusnya tidak membuat orang tua merasa harus memilih antara menikmati perjalanan atau memastikan kebutuhan anak terpenuhi," kata Nathania Astria, CEO WanderKids Journey, dalam keterangannya pada Lifestyle Liputan6.com, pekan lalu.

"Karena itu, WanderKids Journey mencoba merancang perjalanan dengan ritme yang lebih realistis bagi keluarga, sehingga anak dapat menikmati perjalanan dan orangtua juga memiliki ruang untuk benar-benar menikmati liburannya," imbuhnya.

Persoalannya sering kali bukan pada destinasi. Perjalanan yang terlalu padat, jarak antartempat yang panjang, waktu makan yang bergeser, serta jeda istirahat yang minim dapat membuat satu hari terasa lebih melelahkan daripada menyenangkan.

Anak membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, sementara orangtua membutuhkan ruang untuk bernapas di tengah berbagai kebutuhan yang harus diperhatikan. Situasi tersebut semakin terasa ketika keluarga mengikuti rombongan besar dengan jadwal yang sudah ditentukan.

Posisi Serba Salah

Momen liburan bareng anak. (dok. WanderKids Journey)

Anak yang membutuhkan waktu lebih lama untuk makan, ingin beristirahat, pergi ke toilet, atau tiba-tiba kehilangan mood tentu tidak selalu bisa mengikuti tempo perjalanan. Orangtua akhirnya berada dalam posisi serba salah: mengikuti jadwal rombongan atau memberi anak waktu yang memang dibutuhkannya.

Kenangan perjalanan tidak selalu lahir dari panjangnya daftar destinasi. Momen sederhana seperti sarapan bersama, berbincang di perjalanan, melihat anak antusias menemukan sesuatu yang baru, atau menikmati sore tanpa terburu-buru justru dapat menjadi cerita yang terus dikenang setelah liburan berakhir.

Kesadaran terhadap kebutuhan tersebut melahirkan pendekatan berbeda dalam perjalanan keluarga. WanderKids Journey menghadirkan konsep family open trip dengan jumlah peserta yang lebih terbatas, yakni hanya 3–4 keluarga dengan maksimal 15 orang dalam satu grup.

 

Pentingnya Pengelolaan Waktu

Momen liburan bareng anak. (dok. WanderKids Journey)

Anak tetap dapat bertemu teman seusianya dan menikmati pengalaman bersama, sementara orangtua berkesempatan berinteraksi dengan keluarga lain yang memahami dinamika bepergian bersama anak. Suasana perjalanan pun diharapkan tidak terasa seperti mengejar satu destinasi ke destinasi berikutnya.

Pengelolaan waktu menjadi bagian penting dari pendekatan tersebut. Keberangkatan, durasi aktivitas, jarak perjalanan, waktu makan, hingga istirahat diperhitungkan agar itinerary tetap menarik tanpa membuat keluarga terus berpacu dengan waktu.

Aktivitas juga dikurasi supaya orangtua dan anak sama-sama memperoleh pengalaman dari destinasi yang dikunjungi. Pendampingan professional guide turut membantu mengurangi beban teknis yang biasanya berada di pundak orangtua.

Detail perjalanan dapat lebih terkelola sehingga Mom dan Dad memiliki kesempatan untuk mengalihkan perhatian dari urusan logistik kepada hal yang lebih sederhana: hadir dan menikmati waktu bersama keluarga.

Kenyamanan dan Fleksibilitas

Momen liburan bareng anak. (dok. WanderKids Journey)

Pendekatan itu dibangun dari pengalaman merancang perjalanan sejak 2013 di bawah naungan Backpacker Korea. Pengalaman tersebut menjadi fondasi bagi WanderKids Journey dalam memahami kebutuhan pelancong Indonesia saat menjelajahi berbagai destinasi internasional, termasuk ketika kebutuhan tersebut berubah ketika seseorang bepergian bersama anak.

Traveling bersama keluarga memang membutuhkan perencanaan lebih detail. Kenyamanan dan fleksibilitas menjadi sama pentingnya dengan destinasi yang ingin dikunjungi. Sebuah itinerary yang baik bukan hanya mampu membawa keluarga ke banyak tempat, tapi juga tahu kapan harus memberi mereka waktu untuk berhenti.

Pada akhirnya, liburan keluarga bukan perlombaan untuk mengunjungi sebanyak mungkin destinasi. Perjalanan yang berkesan bisa jadi justru hadir ketika tidak semua waktu diisi agenda.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya