Liputan6.com, Jakarta - Munich, Jerman, semakin mengukuhkan posisinya sebagai pusat penelitian dan pengembangan (R&D) bagi produsen mobil asal China di Eropa. Kota yang menjadi rumah bagi BMW itu, kini dipilih sejumlah merek seperti Xiaomi, XPeng, hingga Leapmotor untuk membangun basis pengembangan teknologi demi mempercepat ekspansi di pasar Benua Biru.
Langkah tersebut bukan sekadar membuka kantor baru, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk menciptakan mobil yang lebih sesuai dengan karakter konsumen Eropa.
Advertisement
Kehadiran tim insinyur lokal juga dinilai penting agar proses pengembangan kendaraan bisa mengikuti regulasi, kondisi jalan, serta preferensi pengguna di kawasan tersebut.
Disitat dari Asia Nikkei, salah satu pemain terbaru adalah Xiaomi Auto yang resmi membuka pusat R&D di Munich pada tahun ini.
Fasilitas ini dipimpin oleh Rudolf Dittrich, mantan pengembang BMW M4 GT3, sementara pengembangan dinamika kendaraan ditangani Claus-Dieter Groll yang sebelumnya terlibat dalam proyek BMW Seri 3, Seri 4, Z4, X5, X6, hingga X7.
Tim Xiaomi di kota tersebut juga diperkuat talenta berpengalaman dari Porsche, Lamborghini, Mercedes-Benz, dan BMW, dengan fokus pada mobil performa tinggi, desain premium, pengembangan sasis, serta teknologi otomotif canggih.
XPeng lebih dulu menancapkan kaki di Munich, melalui pusat riset pertamanya di Eropa.
Basis ini diarahkan untuk mengembangkan sistem bantuan berkendara, kokpit pintar, sekaligus mempelajari kebutuhan pengguna Eropa agar teknologi yang dikembangkan lebih mudah diterima pasar setempat.
Strategi Merek China
Tak hanya produsen mobil, perusahaan pemasok komponen asal China juga memanfaatkan Munich sebagai gerbang menuju industri otomotif Eropa. Sejumlah perusahaan menjadikan kota tersebut sebagai lokasi riset untuk memperkuat kerja sama dengan merek-merek premium seperti Audi, Mercedes-Benz, dan BMW.
Fenomena ini mencerminkan perubahan strategi industri otomotif China yang kini beralih dari sekadar mengekspor kendaraan menjadi membangun ekosistem lokal di Eropa.
Dengan pusat R&D, jaringan produksi, dan perekrutan tenaga ahli setempat, para produsen Tiongkok ini berharap dapat mempercepat pengembangan produk sekaligus meningkatkan daya saing di tengah ketatnya persaingan dengan pabrikan Eropa.