Liputan6.com, Jakarta - Ben seharusnya sudah berada di Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Minggu, 6 September 2026. Ia pulang dari Palangkaraya, Kalimantan Tengah, setelah mendapat kabar ibunya meninggal dunia.
Namun, rencana itu berantakan setelah penerbangannya dari Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, dibatalkan akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Advertisement
Ben mengaku sudah tiba di bandara sejak Sabtu sore dan berharap bisa melanjutkan perjalanan ke Sumba pada Minggu pagi. Namun, penerbangannya tiba-tiba dibatalkan.
"Saya sampai sini Sabtu sore, harusnya sudah berangkat Minggu pagi, tapi tau-tau penerbangannya cancel," cerita Ben kepada Liputan6.com, Senin (7/9/2026).
Penerbangan ke Sumba kemudian terus mengalami penundaan. Bagi Ben, waktu menjadi sangat berarti karena ia sengaja pulang dari Palangkaraya untuk menghadiri pemakaman sang ibu.
"Saya pulang (ke Sumba) karena ibu saya meninggal, beli tiket Rp 4,3 juta, saya mau pulang, hari ini dikuburkan. Tapi karena ini gak bisa terbang, jadi sudah saya tidak bisa bertemu, mau bagaimana lagi," cerita Ben.
Tak memiliki keluarga atau kenalan di Tangerang, Ben akhirnya memilih bertahan di bandara. Ia bahkan tidur dan menginap di area Bandara Soekarno-Hatta sambil menunggu kepastian keberangkatannya.
"Saya enggak ada kenal orang di sini, orang saya juga baru ke sini, jadi ya sudah saya menginap di sini, tidur di sini (bandara Soetta)," ucap Ben.
Ben mengatakan bukan hanya dirinya yang terpaksa menginap di bandara. Sejumlah penumpang lain juga mengalami hal serupa akibat penerbangan yang belum mendapat kepastian keberangkatan.
Hingga Senin, Ben mengaku belum mengetahui kapan bisa melanjutkan perjalanan ke Sumba. Ia juga menyebut belum menerima kompensasi dari maskapai.
"Belum tahu (kapan terbang), masih cancel terus, belum ada kabar kapan terbang, bandaranya juga masih tutup. Ini juga gak dapet apa-apa (kompensasi)," tutup Ben.
624 Penerbangan Terdampak
Gangguan penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta terjadi setelah sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mengganggu operasional penerbangan. Manajemen Bandara Internasional Soekarno-Hatta mencatat 624 rencana penerbangan terdampak pada Senin (7/9/2026).
Assistant Deputy Communication & Legal Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Yudistiawan, mengatakan data tersebut berasal dari pusat perencanaan penerbangan Bandara Soekarno-Hatta.
"Dari 624 flight ini, 461-nya rute domestik, dan 156 rute internasional, dan tujuh penerbangan untuk kargo. Kemudian dari 624 jumlah flight itu, rencana jumlah penumpangnya sekitar 75.236 penumpang," ungkap Yudis.
Berdasarkan NOTAM terakhir, penutupan sementara Bandara Soekarno-Hatta diperpanjang hingga pukul 18.00 WIB. Artinya, belum ada penerbangan yang dapat dipastikan berangkat hingga batas waktu tersebut.
"Semuanya belum bisa dipastikan untuk berangkat, karena memang bandaranya masih close sampai dengan pukul 18.00," ungkapnya.
Yudis mengatakan pihak bandara telah menerima informasi dari sejumlah maskapai terkait pembatalan penerbangan hingga jadwal penutupan berakhir.
Garuda Indonesia Group juga telah mengumumkan tidak ada penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta pada Senin.
"Kemudian dari maskapai lain pun, saya kira sudah melakukan komunikasi yang sama dengan semua calon penumpangnya. Jadi mestinya, mungkin idealnya tidak terlalu banyak penumpang yang sudah terlanjur datang ke sini," ujar Yudis.
Bandara Siapkan Layanan untuk Penumpang
Meski operasional penerbangan terganggu, pihak Bandara Soekarno-Hatta tetap mengaktifkan Service Recovery Action (SRA) untuk menangani penumpang terdampak.
Fasilitas yang disiapkan antara lain makanan dan minuman ringan. Bandara juga menyediakan bus di setiap terminal untuk mendukung mobilitas penumpang menuju hotel melalui koordinasi dengan maskapai.
"Selain itu, beberapa area khusus di terminal juga telah disiapkan bagi penumpang terdampak, seperti employee lounge yang dimanfaatkan sebagai salah satu area istirahat bagi penumpang terdampak, sehingga penumpang memiliki ruang yang lebih nyaman untuk beristirahat," katanya.
Posko di Terminal 1B juga dibuka untuk memperkuat koordinasi dan penanganan kondisi operasional di lapangan.
Sementara itu, masing-masing maskapai membuka layanan di setiap terminal untuk memberikan informasi dan menangani kebutuhan penumpang yang terdampak.