Liputan6.com, Jakarta - Krisis keuangan Asia 1997 memicu runtuhnya nilai mata uang, pelarian modal dan kegagalan perbankan di seluruh kawasan. Hal itu menyebabkan gejolak pasar serta resesi ekonomi.
Ternyata kondisi serupa diprediksi akan kembali terulang. Kepala Ekonom HSBC, Frederick Neumann mengungkapkan, pasar keuangan saat ini menunjukkan tanda-tanda serupa dengan situasi yang terjadi tepat sebelum krisis melanda pasar dua dekade silam.
Advertisement
Mengutip daily-sun.com, Senin (7/9/2026), lonjakan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS), pelemahan yen Jepang dan optimisme sektor teknologi mendominasi iklim keuangan menjelang krisis itu.
Apa saja kemiripan yang dilihat Neumann?
Neumann menyoroti tingginya imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS (treasury) sebagai kemiripan utama dengan periode sebelum krisis 1997. Sebagai contoh, imbal hasil obligasi acuan AS tenor 10 tahun naik dari 5% pada Oktober 1993 menjadi sekitar 8% pada November 1994.
Bahkan pada April 1997, imbal hasil berada di kisaran 7%, atau sekitar 200 basis poin (bps) lebih tinggi dibandingkan posisi empat tahun lalu, demikian berdasarkan catatan Neumann.
Saat ini, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun telah naik dari titik terendah 0,5% pada Agustus 2020 menjadi sekitar 4,79% pada Selasa pekan lalu.
“Memang, proses itu memakan waktu enam tahun, tetapi tahun ini saja, imbal hasil telah melonjak sekitar 80 basis poin dari 3,9% pada Februari,” kata Neumann.
Agustus 2026, Departemen Keuangan AS mengumumkan akan menyasar segmen pasar obligasi tenor 10 tahun-30 tahun untuk operasi pembelian kembali atau buyback.
Pemerintah AS akan melipatgandakan batas maksimal operasi pembelian kembali obligasi tersebut dari US$ 2 miliar atau Rp 35,30 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.650) menjadi US$ 4 miliar atau Rp 70,61 triliun.
Kemiripan Lain di Mata Uang Yen Jepang
Kemiripan lainnya terlihat pada pergerakan nilai tukar yen Jepang. Pada April 1995, yen diperdagangkan pada titik terendah dalam siklusnya, yakni di level 80 terhadap dolar AS. Menjelang akhir April 1997, nilainya telah melemah ke level 130, depresiasi sekitar 55%.
Saat ini, yen telah melemah 57%, dari titik terendah di kisaran 103 pada Januari 2021 hingga mencapai titik tertinggi di 163 pada Juli, sebelum intervensi gabungan yang jarang terjadi dari Washington dan Tokyo memperkuat mata uang itu ke level saat ini di kisaran 160. Pasar kini tengah mempertimbangkan kemungkinan ada intervensi lanjutan.
Menjelang krisis 1997, pasar diliputi optimisme terhadap sektor teknologi seiring dengan munculnya internet. Kini, menurut Neumann, lonjakan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) memicu optimisme serupa.
Perbedaan 1997 dan 2026 Lebih Besar
Namun, Neumann berpendapat, ada perbedaan antara periode 1997 dan 2026 yang kondisinya lebih besar daripada persamaannya.
Hal yang paling signifikan, menurut dia, adalah fakta sebagian besar ekonomi Asia merupakan importir modal pada 1990-an. Ini artinya mereka menerima lebih banyak investasi dari luar negeri dibandingkan investasi yang mereka tanamkan di luar negeri.
Selain itu, negara di Asia memiliki tingkat tabungan yang tidak memadai untuk memenuhi komitmen belanja mereka.
“Oleh karena itu, meningkatnya biaya pendanaan dalam dolar AS serta yen yang tidak stabil yang membuat investor khawatir menjadi katalis utama munculnya tekanan di kawasan ini,” kata Neumann.
Saat ini, ekonomi Asia merupakan eksportir modal. Dengan demikian, tingginya biaya pendanaan AS dan melemahnya yen bukanlah faktor penekan utama.
Masalah Paling Relevan bagi Asia
Kendati demikian, bukan berarti kawasan ini akan terbebas dari dampak negatif. Masalah paling relevan bagi Asia, menurut Neumann, adalah ketergantungan pada lonjakan permintaan perangkat keras AI di AS, yang menjadi penggerak bagi banyak perekonomian di kawasan tersebut.
Ia mencatat, ekspor produk elektronik yang terkait dengan lonjakan AI telah menopang pertumbuhan ekonomi di Korea Selatan, Jepang, Taiwan, dan Singapura.
"Alih-alih menghadapi kerentanan finansial seperti pada tahun 1990-an, Asia kini menghadapi kerentanan permintaan," ujar Neumann.
Ia memperingatkan, jika kenaikan imbal hasil obligasi dan biaya pendanaan AS menghambat lonjakan permintaan perangkat keras AI, atau jika yen mengguncang pasar pendanaan global, permintaan terhadap produk-produk kawasan ini bisa merosot tajam dan pertumbuhan ekonomi pun akan melambat drastis.